Gibran, Ijazah Gaib, dan Gelak Tawa Punakawan di Karang Kedempel
Asap kemenyan dan aroma kopi hitam mengepul tipis di emperan padepokan Karang Kedempel. Malam itu, empat sekawan Punakawan sedang duduk melingkar. Semar Mesandhem tampak bersandar manis pada tiang bambu, sementara tiga anaknya—Gareng, Petruk, dan Bagong—sedang asyik mengamati selembar kertas berstempel keemasan yang dipegang Petruk dengan dua jarinya. “Truk, iku kertas opo toh? Kok disawang berjam-jam […]
