Menjaga Selendang Tetap Melambai, Upaya Ronggeng Paser Melawan Arus Zaman Popular

Di tengah deru pembangunan infrastruktur yang kian masif di Kalimantan Timur, ada sesuatu yang seringkali luput dari perhatian kita. Apa itu? Denyut nadi budaya lokal yang nyaris berhenti berdetak. Salah satunya adalah Ronggeng Paser. Tarian kebanggaan suku Paser ini sempat berada di ambang kepunahan sebelum akhirnya perlahan kembali menemukan panggungnya.
Ronggeng Paser bukanlah sekadar hiburan panggung yang mengandalkan kemolekan gerak. Jika kita menilik sejarahnya, tarian ini lahir dari rahim spiritualitas masyarakat Paser melalui ritual pengobatan Ancak Ronggeng.
Namun, sejarah adalah tentang adaptasi. Seiring masuknya pengaruh Melayu dan nilai-nilai Islam yang kuat, Ronggeng Paser bertransformasi menjadi kesenian yang lebih terbuka tanpa kehilangan muruahnya.
Satu hal yang membuat Ronggeng Paser istimewa, dan berbeda dari citra “ronggeng” di daerah lain, adalah absennya unsur erotisme. Di sini, etika dijunjung tinggi. Gerakan tangan yang memutar dan melebar bukan sekadar estetika, melainkan simbolisasi rasa syukur atas hasil tani dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
Namun, kita tidak boleh terlena dengan kebangkitan ini. Meski sejak tahun 2000-an berbagai sanggar seni mulai bermunculan di Penajam Paser Utara (PPU), Balikpapan, hingga Paser, tantangan sesungguhnya adalah relevansi. Di era digital ini, mampukah Ronggeng Paser tetap memikat generasi muda?
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan tampil di acara pernikahan atau penyambutan tamu kehormatan. Ia membutuhkan ruang dialog dan dokumentasi yang serius. Upaya para penggiat budaya seperti Paidah Riansyah dari Lembaga Adat Paser (LAP) PPU patut diberikan apresiasi positif, namun dukungan kolektif dari masyarakat dan pemerintah daerah adalah harga mati.
Ronggeng Paser adalah cerminan jati diri. Menjaganya tetap hidup berarti menjaga akar sejarah di daerah ini agar tidak tercerabut oleh arus modernisasi yang kadang datang tanpa permisi. Mari segera dipastikan selendang penari Ronggeng tidak hanya melambai di atas panggung, tetapi juga tetap hidup dalam sanubari setiap anak cucu di Tanah Paser.
Paidah Riansyah, pemerhati budaya yang juga pengurus LAP PPU, Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, menekankan, bahwa tarian ini memenuhi berbagai acara di masyarakat. Mulai kegiatan pernikahan, pesta rakyat, hingga ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan pemerintah daerah. Melihat fakta ini, Paidah Riansyah, menyebut bahwa lewat Ronggeng, silaturahmi antar-masyarakat tetap berlangsung dalam membangun keakraban, dan itu terasa kental hingga sekarang. Memang, lanjut dia, problemnya terletak pada tingkat pelestariannya saja.
Ciri khas Ronggeng Paser, urai Paidah Riansyah, bisa dilihat dari musik pengiring dan gerakan tariannya. Dia menyebutkan, ada gambus, gendang Paser, gong, dan gerincai (semacam tamborin). Gerakan tangan yang memutar dan melebar, kata dia lagi, adalah melambangkan kegiatan pertanian dan rasa syukur kepada alam. Semua gerak dalam tari tersebut adalah menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Paser dengan alam semesta.
Soal kostum, para penari mengenakan kebaya polos lengkap dengan selendang atau saputangan. Tidak sekadar hiasan, selendang ini juga punya fungsi interaktif. Biasanya penari akan mengajak penonton ikut menari bersama, dan—-tentu saja—-menciptakan suasana akrab di tengah pertunjukan. Paidah Riansyah mengakui memang saat ini relatif sulit tari Ronggeng Paser ini masuk ke ranah generasi muda. Tetapi, itulah salah satu tantangannya. Ia bersama sesepuh lainnya berjibaku untuk memperkenalkan seni-budaya tradisional ini agar eksistensinya tetap terjaga. Jangan sampai dihanyutkan oleh budaya popular yang tidak mendidik anak bangsa.
Sejauh pemantauan, di PPU telah banyak berdiri paguyuban-paguyuban pelestari seni dan budaya tradisional ini. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang berhasil mendokumentasikan tari-tarian khas daerah ini melalui cakran padat digital. Namun, saat ini, entah mengapa, mulai sulit ditemukan geliatnya. Barangkali, perlu langkah bernas untuk menjaga keberlangsungan jenis tarian ini. Misalnya, dengan cara, LAP PPU atau pemerintah daerah menampilkan tetarian ini secara berkala. Hal itu, demi menjaga, seni dan budaya tradisional daerah Bumi Daya Taka, PPU ini dari ancaman kepunahan. Bila perlu, tarian Ronggeng ini diperkenalkan pada tiap sekolah sebagai bagian muatan lokal (mulok) wajib, dan secara berkala sekolah membuat pertunjukan pada hari-hari atau peringatan tertentu di lingkup internal sekolah.
Dengan demikian, maka, Tari Ronggeng, tidak akan punah, utamanya generasi milenial telah berperan memilikinya melalui pengenalan di sekolah masing-masing.
(*)

Sy jadi ingat waktu lahirnya kab. Ppu salah satu tarian suku Paser yakni tari ronggeng Paser ini mengiringi perjalanan lahirnya kabupaten PPU dengan tampilnya kesenian Paser ini di gedung DPR RI di Senayan Jakarta. Sudah seyogyanya pemerintah PPU memberikan ruang dan penghormatan terhadap tari ronggeng Paser dalam setiap acara pemerintah, maupun dalam menyambut tamu kehormatan untuk ditampilkan
Benar sekali. Bahkan rekamannya saat tampil di Gedung Nusantara DPR RI masih ada sama kawan.
Sudah saatnya generasi muda mencintai seni budayanya. Ayo, bergerak!