Kenangan Sabuk Bergetar, Saat Pager Menjadi “Panglima” Liputan Wartawan 90-an

Pager yang saat berbunyi menandakan ada pesan penting liputan yang masuk. Gambar milik CNN Indonesia.

Bagi anak muda zaman now (sekarang) yang hidupnya sudah “dikepung” notifikasi WhatsApp (WA), e-mail, hingga video call yang serba instan, mungkin sulit membayangkan bagaimana kami—para kuli disket di era 90-an—bertarung dengan waktu. Di zaman itu, jangan harap ada smartphone langsing di saku. Ponsel yang ada pun masih seukuran batu bata, harganya selangit, dan sinyalnya pun timbul tenggelam.

Namun, di tengah keterbatasan itu, dan ini pengalaman di masa awal menjadi wartawan di Harian Pagi ManuntunG (cikal bakal Harian Pagi Kaltim Post-Jawa Pos Grup) Balikpapan era 1990-an, ada satu benda mungil yang selalu bertengger gagah di ikat pinggang. Benda yang menjadi “nyawa” sekaligus penentu nasib liputan kami: Pager.

Bagi saya dan kawan-kawan wartawan di masa itu, pager—atau yang akrab kami sebut beeper—bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah lambang status. Pager yang tergantung di pinggang itu, tetapi saya lebih senang memasukkannya ke dalam tas, seolah-olah memberi tahu dunia bahwa si pemakainya adalah orang sibuk, orang penting yang setiap saat bisa dicari.

Tapi jangan salah, ketika alat itu mulai bergetar nyaring, jantung rasanya ikut berdesir. Ada adrenalin yang terpompa. Pesan yang masuk biasanya sangat minimalis, dikirim oleh operator atau sekretaris redaksi setelah melalui proses telepon yang panjang.

Zaman itu, pesan yang masuk sering kali berupa kode angka. Jika muncul angka “911” diikuti nomor telepon kantor, itu artinya ada kejadian luar biasa yang harus segera ditindaklanjuti. Kode-kode singkat itu adalah perintah “perang” yang tidak bisa ditunda. Tetapi, saya lebih banyak menerima pesan dengan bahasa lugas. Biasanya, soal materi liputan yang dihasilkan melalui rapat redaksi di kantor.

Ritual Berburu Koin dan Telepon Umum

Menerima pesan di pager sebenarnya barulah babak awal dari sebuah drama liputan. Karena pager hanya komunikasi satu arah—ia bisa memanggil tapi tak bisa menjawab—tugas sesungguhnya justru setelah pesan itu terbaca.

Begitu pager bergetar, misi berikutnya adalah: berburu telepon umum.

Bayangkan, di tengah terik matahari di Kota Balikpapan atau Samarinda yang menyengat, atau saat hujan lebat mengguyur, kami harus menghentikan laju sepeda motor atau angkutan kota (angkot) yang di Balikpapan lebih lazim disebut sebagai taksi, demi mencari kotak telepon umum berwarna biru yang masih berfungsi. Tangan sudah sigap merogoh kantong, memastikan koin seratusan atau lima ratusan perak sudah siap di genggaman.

Langkah kaki dipercepat menuju bilik telepon. Koin dimasukkan, nomor kantor di-dial dengan penuh harap agar tidak nada sibuk.

“Ari, segera geser ke lokasi. Ada kejadian di sana,” suara redaktur di ujung telepon biasanya pendek saja. Setelah detail didapat, kami langsung tancap gas. Siklus ini—getar pager, lari mencari telepon umum, mencatat pesanan redaksi, lalu meluncur ke lokasi—adalah rutinitas yang membentuk mentalitas kami.

Urgensi yang Kini Hilang

Pager mengajarkan kami tentang arti sebuah urgensi dan disiplin tinggi. Di era itu, setiap pesan yang masuk adalah hal yang amat penting. Tidak ada istilah read doang (dibaca saja) tapi tidak dibalas, apalagi diabaikan. Jarak ke telepon umum terdekat adalah ukuran seberapa cepat kami bisa menyajikan berita.

Dunia hari ini sungguh kontras. Kita bisa membaca ratusan notifikasi dalam hitungan detik, tapi ironisnya, sering kali kita malah merasa kewalahan dan kehilangan makna dari informasi itu sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang, pager hanyalah seonggok sampah elektronik masa lalu. Tapi bagi saya, ia adalah saksi bisu sejarah jurnalistik dan kenangan manis tentang masa di mana sebuah informasi terasa begitu mewah dan sangat berharga untuk diperjuangkan. Saya sempat beberapa lama menyimpan peralatan pager itu. Namun, entah benda itu saat ini berada di mana? Saya kira hilang atau selip saat saya pindah rumah. Namun, kenangannya tidak pernah hilang, hingga saat ini. Saya masih ingat kantor pelayanan pager ini di Balikpapan, yaitu, di kawasan Karang Rejo, Balikpapan Utara. Lokasinya berada di atas gunung.

Masa-masa kejayaan pager usai setelah muncul telepon seluler. Terlebih, setelah ada fitur pada telepon ini bisa mengirim pesan singkat atau short message service (SMS) ke berbagai telepon genggam atau handphone.

 

Salam hangat,
Ari Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *