Dari ManuntunG ke Kaltim Post, Gerilya Informasi di Balik Meja Redaksi Orde Baru

Ini adalah ilustrasi yang menggambarkan suasana redaksi koran ‘ManuntunG’ di era 90-an di Balikpapan. Gambar ini menangkap esensi perjuangan ‘gerilya informasi’ dengan menghadirkan detail-detail autentik: monitor monokrom yang cembung, tumpukan disket, serta modem dial-up eksternal yang sedang terhubung ke kabel telepon.

Di tengah riuhnya peradaban serat optik yang menawarkan kecepatan cahaya, internet satelit yang menjangkau pelosok rimba, hingga gawai pintar yang mampu mentransmisikan video resolusi tinggi dalam hitungan detik, kita seringkali luput memaknai sebuah proses.

Bagi generasi jurnalis masa kini, berita adalah sesuatu yang “instan”. Namun, bagi saya yang mengawali langkah di ruang redaksi saat teknologi masih merangkak, berita bukan sekadar teks, melainkan sebuah pertaruhan teknis yang menguras energi dan kesabaran.

Ini bukan sekadar romantisme masa lalu atau upaya mendulang nostalgia usang. Ini adalah catatan pribadi tentang bagaimana sebuah profesi beradaptasi dengan keterbatasan teknologi yang kini telah menjadi penghuni setia museum digital.

Gerbang ManuntunG, Kawah Candradimuka

Ingatan saya melayang ke masa-masa awal bergabung dengan ManuntunG, sebuah harian pagi yang saat itu menjadi pionir jurnalisme di Kalimantan Timur. Terbit di Kota Balikpapan, ManuntunG bukan sekadar surat kabar lokal; ia adalah cikal bakal yang kemudian melebur menjadi Kaltim Post. Di bawah payung besar grup Jawa Pos, media ini tumbuh menjadi raksasa yang mendominasi panggung informasi di wilayah Indonesia tengah dan timur.

Bekerja di ManuntunG saat itu berarti siap menjadi saksi sejarah sekaligus pelaku “gerilya” informasi. Di kantor yang sarat dengan semangat intelektualitas tersebut, kami tidak hanya diajari cara membedah isu dan menulis lead yang memikat, tetapi juga dipaksa bersahabat dengan perangkat-perangkat elektronik yang kini tampak seperti barang antik.

Ritual di Depan Monitor Tabung

Mari kita bayangkan sebuah ruang kantor perwakilan di daerah pada era 90-an.  Di sudut meja, terdapat sebuah komputer dengan monitor CRT yang cembung dan berat, memancarkan cahaya monokrom yang melelahkan mata. Di sinilah narasi-narasi publik dirajut.

Proses pengiriman berita di masa itu adalah sebuah ritual yang penuh ketegangan. Setelah selesai melakukan reportase lapangan yang melelahkan, saya tidak bisa langsung mengirimkan hasilnya lewat aplikasi pesan singkat. Saya harus duduk tenang, mengetik kata demi kata di atas papan tik yang berisik, lalu menyimpan dokumen tersebut ke dalam benda sakral bernama disket—lembaran magnetik tipis dalam selubung plastik yang sangat rentan terhadap debu maupun magnet.

Disket tersebut adalah nyawa. Jika ia rusak atau terkena bad sector, maka berakhirlah sudah kerja keras seharian itu. Namun, menyimpan data di disket hanyalah babak awal dari drama yang sesungguhnya.

Diplomasi Modem dan Derit Pintu Berkarat

Pahlawan tanpa tanda jasa dalam narasi saya adalah modem eksternal. Perangkat berbentuk kotak kecil dengan lampu indikator yang berkedip-kedip ini adalah satu-satunya “jembatan” yang menghubungkan biro daerah dengan pusat redaksi di Balikpapan. Untuk memulai pengiriman, kabel telepon rumah (fix line) harus dicabut dari pesawat telepon dan dihubungkan ke lubang kecil di belakang modem.

Saat perintah dial dieksekusi, keheningan malam biasanya akan pecah oleh serangkaian bunyi yang ganjil: “Ngiing… ngiing… krek… krek...” Suara itu lebih mirip derit pintu berkarat atau sinyal radio dari luar angkasa daripada sebuah perangkat komunikasi canggih. Itu adalah suara “negosiasi” digital. Modem di kantor perwakilan sedang berupaya keras “berjabat tangan” dengan modem di kantor pusat ManuntunG.

Kecepatannya? Sungguh menguji iman. Kita bicara tentang satuan kilobit per detik (kbps). Standar 9.600 bps atau 14.400 bps adalah kemewahan. Mengirim satu naskah berita panjang bisa memakan waktu hingga 30 menit. Selama durasi itu, saya hanya bisa menatap layar monitor, memperhatikan indikator persentase pengiriman yang bergerak selambat siput, sambil komat-kamit memanjatkan doa.

Bertaruh di Atas Kabel Tembaga

Ketegangan mencapai puncaknya ketika ada faktor eksternal yang mengganggu. Musuh terbesar jurnalis saat itu bukan hanya tenggat waktu (deadline), melainkan gangguan pada kabel tembaga Telkom atau tangan usil di kantor yang tiba-tiba mengangkat gagang telepon.

Begitu gagang telepon lain diangkat atau ada suara masuk, koneksi modem akan terputus seketika. Bunyi “krak” di sambungan telepon adalah lonceng kematian bagi proses pengiriman data. Jika itu terjadi di angka 99 persen, maka segalanya harus dimulai lagi dari nol. Ada rasa frustrasi yang mendalam, namun sekaligus ada kepuasan yang tak terlukiskan ketika akhirnya muncul notifikasi “Success” di layar monitor. Itulah momen kemenangan kecil yang menandakan bahwa suara dari daerah akhirnya berhasil mendarat di meja redaksi Balikpapan.

Warisan Spiritualitas Jurnalisme

Hadirnya teknologi modem di akhir era Orde Baru sebenarnya adalah sebuah lompatan revolusioner. Sebelum era ini, naskah harus dikirim melalui faksimili yang seringkali buram, atau disket yang dititipkan kepada sopir bus antarkota untuk dijemput oleh kurir di terminal.

Kini, di zaman ketika berita bisa menyebar lebih cepat daripada api di padang ilalang, saya sering merenung. Kemudahan teknologi seringkali membuat kita abai pada substansi dan akurasi karena terburu-buru oleh tuntutan kecepatan.

Melihat kembali era dial-up di ManuntunG bukan bertujuan untuk mengajak kita kembali ke masa lamban tersebut. Namun, untuk mengingatkan bahwa jurnalisme memiliki akar perjuangan yang kuat. Setiap kata yang sampai ke pembaca hari ini adalah hasil evolusi dari ketegangan-ketegangan kecil di depan monitor tabung dan suara modem yang berderit.

Maka, jika suatu saat saya tersenyum sendiri saat mendengar nada dering telepon lama atau melihat komputer tua, pahamilah bahwa saya sedang melakukan perjalanan waktu. Saya sedang mengingat detik-detik heroik ketika seuntai kabel telepon dan sebuah kotak modem kecil menjadi penyambung lidah bagi kebenaran yang harus disampaikan kepada masyarakat Kalimantan Timur, bagaimanapun sulitnya medan yang harus ditempuh.

Ngomong-ngomong, ternyata tidak terasa saya sudah 35 tahun berada di sini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *