Tiket itu Bernama “Pulang”

Sopo sing wis rampung ujiane, oleh mulih dhisik. Gambar dibantu oleh AI.

Di sebuah kelas madrasah di sudut Jombang, Jawa Timur, puluhan tahun silam, seorang guru berdiri di depan kelas saat ujian berlangsung. Beliau berkata dengan tenang, “Sopo sing wis rampung ujiane, oleh mulih dhisik.” (Siapa yang sudah selesai ujiannya, boleh pulang duluan).

Kala itu, kalimat tersebut adalah musik yang paling indah di telinga kami. Pulang berarti lepas dari ketegangan soal-soal sulit, berarti kembali ke rumah untuk merebahkan diri atau bermain di pematang sawah. Biasanya, selepas sekolah kami bermain layang-layang di tepi Sungai Brantas yang melintasi pedusunan kami di Jombang. Kami berlomba-lomba menyelesaikan jawaban bukan hanya demi nilai, tapi demi sebuah tiket bernama “Pulang”.

Namun, setelah rambut mulai memutih dan satu per satu kawan, sahabat, hingga saudara berpulang ke Rahmatullah, kalimat sang guru itu bergaung kembali dengan frekuensi yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar instruksi di ruang kelas, melainkan sebuah metafora eksistensial tentang kehidupan.

Dunia: Ruang Ujian yang Gaduh

Dalam perspektif sufistik, dunia ini tak lebih dari sebuah ruang ujian. Kita sering kali lupa karena terlalu asyik mengagumi tekstur bangku kayu yang kita duduki atau bertengkar dengan teman sebangku memperebutkan sebatang pensil. Padahal, kita berada di sini hanya untuk satu tujuan: menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa yang kita alami.

Sahabat-sahabat kita yang telah wafat sebenarnya adalah para “peserta ujian” yang lembar jawabannya telah ditarik oleh Pengawas Agung. Mereka telah menyelesaikan bab-bab sabar, syukur, duka, dan tawa mereka. Ujian mereka telah rampung.

Sementara kita yang masih tersisa di sini? Kita adalah murid yang masih berkutat dengan soal-soal yang semakin lama semakin rumit. Ada yang masih terjebak di soal tentang ekonomi, ada yang sedang bergulat dengan soal tentang penyakit, dan tak sedikit yang masih bingung menjawab soal tentang keikhlasan.

Menghargai Mereka yang “Pulang Duluan”

Sering kali kita menangisi mereka yang pergi, seolah-olah mereka mengalami kerugian. Padahal, jika kita menggunakan logika guru madrasah tadi, mereka justru adalah orang-orang yang telah “selesai”. Mereka tidak lagi perlu memeras keringat menghadapi hiruk-pikuk dunia yang kian melelahkan.

“Kematian bukanlah akhir, melainkan pengumpulan lembar jawaban untuk kemudian dinilai oleh Sang Maha Cinta.”

Kita yang masih di sini sebenarnya memikul beban yang lebih berat. Kita masih memiliki kemungkinan untuk salah jawab, kemungkinan untuk berbuat curang dalam “ujian” kehidupan, atau kemungkinan untuk membuang-buang waktu hingga bel akhir berbunyi tanpa hasil apa pun.

Sufisme Ringan: Menikmati Sisa Waktu

Jika hidup adalah ujian, maka setiap tarikan napas adalah detak jarum jam di dinding kelas. Sufisme mengajarkan kita untuk tidak panik, namun tetap waspada (eling lan waspada).

Jangan Menoleh ke Kertas Orang Lain: Fokuslah pada ujianmu sendiri. Standar sukses si A tidak bisa dijadikan kunci jawaban untuk hidupmu. Tuhan memberikan soal yang berbeda untuk setiap hamba sesuai kemampuannya.

Jangan Tergoda Fasilitas Kelas: Bangku yang empuk atau AC yang dingin di ruang ujian (harta dan jabatan) hanyalah pinjaman agar kita nyaman mengerjakan soal. Jangan sampai kita sibuk mengurusi fasilitas hingga lupa mengisi lembar jawaban.

Hadirkan Sang Pengawas dalam Hati: Dalam tradisi Ihsan, kita beribadah seolah melihat Tuhan, atau setidaknya merasa diawasi oleh-Nya. Inilah yang membuat jawaban kita menjadi jujur dan berkualitas.

Epilog: Menunggu Bel Berbunyi

Suatu saat nanti, entah kapan, Pengawas itu akan berdiri di depan meja kita. Beliau tidak akan bertanya apakah kita ingin pulang atau tidak. Beliau hanya akan berkata bahwa waktu kita telah habis.

Bagi mereka yang telah mengisi lembar hidupnya dengan tinta kebajikan dan coretan taubat, kepulangan adalah sebuah kepuasan. Seperti anak madrasah di Jombang yang melangkah keluar kelas dengan senyum lebar, menembus cahaya matahari sore menuju rumah yang hangat.

Maka, setiap kali kita mendengar kabar duka, bisikkanlah pada hati kita sendiri: “Selamat, kawan. Ujianmu sudah rampung. Doakan aku agar bisa menyelesaikan soal-soalku dengan nilai yang cukup untuk sekadar bertemu kembali denganmu di halaman rumah Tuhan nanti.”

Kita yang masih di sini, mari kembali menunduk. Fokus pada lembar hidup masing-masing. Sebab, ujian ini belum benar-benar selesai.*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *