Wulang Reh, Kompas Moral yang Hilang di Tengah Banjir Informasi

Upaya menerjemahkan kembali Serat Wulang Reh ke dalam bahasa Indonesia—sebagaimana yang tengah digagas oleh rekan-rekan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, bukan sekadar proyek literasi bahasa. Ini adalah upaya menjemput “kompas moral” yang sempat tertimbun debu sejarah.
Bagi kita yang hidup di tengah arus informasi yang serba cepat, karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV ini bukan sekadar naskah kuno yang berbau kemenyan. Ia adalah kritik sosial yang tetap relevan, bahkan terasa sangat “menyengat” jika dihadapkan pada fenomena sosial hari ini.
Menangkis Penyakit “Adigang, Adigung, Adiguna”
Di rubrik Sang Pamomong ini, kita sering melihat bagaimana media sosial menjadi panggung pamer kekuatan dan kepandaian. Wulang Reh dalam Pupuh Gambuh sudah memperingatkan kita tentang watak Adigang (kekuatan), Adigung (kekuasaan/keturunan), dan Adiguna (kepandaian).
Di era sekarang, ajaran ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan intelektual tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan digital. Orang yang merasa paling benar hanya karena memiliki banyak follower atau gelar akademik, sejatinya sedang terjebak dalam lubang yang sama dengan apa yang digambarkan dalam teks abad ke-18 tersebut.
Memilih “Guru” di Tengah Rimba Informasi
Salah satu bagian paling krusial dalam Wulang Reh adalah anjuran untuk hati-hati dalam memilih guru atau teladan. Teks ini menekankan bahwa ilmu bukan hanya soal teks, tapi soal watak. “Goleka ilmu mrih dadi wong kang wasis, nanging aja lali marang tata krama.” Atau dalam bahasa Indonesia berbunyi: Carilah ilmu agar menjadi orang yang pandai/ahli, namun janganlah lupa pada tata krama (etika/sopan santun).
Kalimat ini sangat selaras dengan semangat Wulang Reh, di mana kecerdasan intelektual dianggap tidak sempurna jika tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Dalam budaya kita, kepandaian tanpa adab sering diibaratkan seperti pisau tajam yang tidak bertangkai—bisa melukai siapa saja, termasuk pemiliknya sendiri.
Jika ditarik ke konteks budaya saat ini, ini adalah pesan tentang kurasi informasi. Di tengah banjir hoaks dan “ustaz instan” atau “pakar dadakan” di internet, Wulang Reh mengajak kita untuk kembali pada esensi kepemimpinan dan keteladanan yang berakar pada perilaku nyata, bukan sekadar orasi atau narasi di layar ponsel.
Membedakan “Becik” dan “Ala”
Dunia saat ini sering kali terlihat abu-abu. Mana yang benar dan mana yang sekadar pencitraan menjadi sulit dibedakan. Wulang Reh melalui Pupuh Pangkur memberikan panduan sederhana: gunakan hati nurani untuk membedakan becik (baik) dan ala (buruk).
Upaya penerjemahan buku ini menjadi sangat penting agar nilai-nilai universal tersebut tidak hanya dipahami oleh mereka yang mengerti bahasa Jawa tingkat tinggi, tapi juga oleh generasi muda kita di Kalimantan Timur dan seluruh Indonesia.
Menerjemahkan Wulang Reh berarti menghadirkan kembali dialog antara kearifan masa lalu dengan kompleksitas masa depan. Bagi masyarakat di sekitar IKN, misalnya, di mana pergeseran budaya terjadi begitu masif, intisari Wulang Reh bisa menjadi jangkar agar kemajuan infrastruktur tetap dibarengi dengan kehalusan budi pekerti.
Semoga langkah mulia menerjemahkan karya ini menjadi jembatan bagi kita semua untuk tetap menjadi manusia yang empan papan—tahu menempatkan diri di tengah perubahan zaman yang kencang.
Wulang Reh juga menyentuh aspek domestik yang sangat mendalam. Sebagai sebuah “wulang” (ajaran) dan “reh” (aturan/jalan), naskah ini merupakan pegangan bagi orang tua dalam mendidik anak. Pakubuwana IV menekankan bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah melalui kebiasaan-kebiasaan kecil (laku).
Dalam konteks masyarakat kita yang semakin sibuk, sering kali peran “pamomong” atau pendidik di rumah terdelegasikan sepenuhnya kepada gawai atau institusi sekolah. Wulang Reh mengingatkan bahwa transmisi nilai dan tata krama adalah tanggung jawab moral keluarga. Anak-anak perlu diajarkan cara berkomunikasi yang santun, cara menghargai yang lebih tua, dan cara mengendalikan diri—nilai-nilai yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai andhap asor. Tanpa ini, kepandaian seorang anak hanya akan membuatnya menjadi sosok yang asing bagi lingkungannya sendiri.
Kepemimpinan yang Empan Papan
Bagi para pemimpin dan pemangku kebijakan, Wulang Reh menawarkan perspektif tentang kepemimpinan yang melayani. Seorang pemimpin tidak boleh merasa lebih tinggi dari rakyatnya hanya karena jabatan. Ia harus memiliki kemampuan empan papan—tahu menempatkan diri dan memahami situasi lapangan.
Di tengah pembangunan masif seperti di kawasan PPU dan Ibu Kota Negara (IKN), nilai ini menjadi sangat relevan. Kemajuan infrastruktur harus diimbangi dengan kearifan pemimpin untuk mendengarkan aspirasi masyarakat bawah. Kepemimpinan yang hanya mengandalkan instruksi tanpa empati akan kehilangan marwahnya, persis seperti peringatan dalam pupuh-pupuh yang menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu bagi seorang penguasa.
Menerjemahkan Wulang Reh ke dalam bahasa Indonesia adalah langkah visioner untuk memastikan bahwa warisan pemikiran ini bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas, melintasi sekat suku dan bahasa. Ia menjadi jembatan bagi kita untuk tetap menjadi manusia yang utuh di tengah perubahan zaman yang kencang.
Bagi para pembaca blog ini, mari kita jadikan intisari Wulang Reh sebagai cermin harian. Bukan untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang berilmu namun tetap menjunjung tinggi adab. Sebab, sehebat apa pun teknologi yang kita genggam, kemanusiaan kita tetap diukur dari bagaimana kita memperlakukan sesama dengan tata krama yang mulia.
(*)
