Reshuffle Kelima, Hak Prerogatif Gareng atau Strategi Comeback Petruk?

Suasana di Pendopo Agung Republik Karang Kedempel sore itu mendadak kemrungsung. Di negeri Wayang Mbeling ini selalu saja ada kisah yang mengharu-biru. Terjadi hampir setiap hari. Gareng, sang Presiden yang baru menjabat 1,5 tahun, kembali memegang gelas pengocok arisan. Bukan arisan RT, tapi kocok ulang kabinet alias reshuffle yang kali kelima. Reshuffle kabinet yang lagi-lagi memantik tanggapan beragam pihak eksternal. Hal itu dibuktikan dengan maraknya tanggapan pro dan kontra yang bisa ditemukan di berbagai platform media sosial. Tidak ketinggalan, opini pro dan kontra, juga menyembul dari para punakawan.
Di pojokan, Bagong asyik mengunyah kacang rebus sampai bunyi krak-kruk, sementara Semar alias Ki Kantong Bolong, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya ini.
“Reng, Kang Gareng… itu kabinet apa dadu kopyok? Kok dikocok terus? Belum kering keringat menteri yang lama, sudah diganti lagi,” celetuk Bagong sambil menyemburkan kulit kacang. Rupaya ada satu bagian biji kacang yang pahit.
Gareng yang sedang memakai peci miringnya hanya berdehem. “Gong, ini namanya hak prerogatif. Presiden itu bebas mau pasang siapa saja. Ibarat main bola, kalau strikernya lelet, ya ganti!” Prerogatif itu yang membuat Gareng selalu percaya diri, meski, rakyatnya banyak yang sinis ketika kepala negara bersembunyi di bawah ketiak kalimat sakti konstitusi itu.
“Tapi masalahnya, Reng,” sela Petruk, mantan Presiden dua periode yang duduk santai di kursi goyang sambil memegang tongkat kepemimpinan lama, “yang kamu masukkan itu kok hampir semua ‘Laskar Opor Ayam’ sisa-sisa dapurku dulu? Ada Mas Dudung, Mas Qodari, sampai Hasan Nasbi. Itu ‘kan orang-orang yang dulu kalau aku bersin, mereka langsung siapkan tujuh lapis tisu.”
Petruk tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak antara tulus atau sedang merancang strategi comeback. Hanya dia yang tahu.
Dapur Narasi atau Sarang Penyamun?
Gareng tampak agak gerah. Memang benar, posisi yang diisi orang-orang “Petrukis 24 Karat” itu bukan posisi kaleng-kaleng. Mereka ditaruh di dapur komunikasi. Di Republik Karang Kedempel, siapa yang pegang toa, dia yang pegang dunia.
“Begini lho, Truk,” Gareng mencoba membela diri. “Aku ini sering merasa sendirian di medsos. Aku pidato berapi-api, eh yang viral malah potongan video aku lagi ngantuk. Aku bikin kebijakan bagus, eh narasi tandingannya lebih kencang. Makanya aku butuh tukang poles yang ahli.”
“Ahli poles atau ahli memoles majikan lama?” sergah Bagong. “Kang Gareng jangan amnesia. Mereka itu didikan sekolah ‘SOP’ alias Solo Oligarki Parcok. Mereka itu lincah, Reng!”
Semar akhirnya angkat bicara dengan suara beratnya yang bikin ngantuk. “Nggerrr, anak-anakku… Kekuasaan itu bukan soal siapa yang duduk di kursi, tapi siapa yang menulis ceritanya. Kalau penulis ceritanya masih orang-orang lama dengan tinta yang lama, ya ceritanya tidak akan berubah. Wajahmu boleh Gareng, tapi suara toamu nanti bunyinya mirip Petruk.”
Bahaya di Balik Selimut
Bagong yang tadinya berisik, mulai terlihat iyip-iyip matanya. Suasana diskusi politik ini memang berat, seberat beban hidup rakyat Republik Karang Kedempel yang harga cabainya makin pedas.
“Hati-hati, Reng,” bisik Petruk sambil bangkit dari kursi goyangnya, “Dapur itu tempat yang panas. Kalau juru masaknya punya resep rahasia dari majikan lama, jangan kaget kalau nanti masakanmu rasanya rasa masa lalu. Enak di lidah mereka, tapi bikin mules di perutmu.”
Gareng terdiam. Dia melihat ke sekeliling. Di pintu depan ada penjaga lama, di dapur ada tukang masak lama, bahkan di ruang tamu pun baunya bau parfum lama. Dia merasa seperti sedang mengontrak di rumahnya sendiri.
“Gong, Bagong! Malah tidur!” teriak Gareng.
Tapi Bagong sudah mendengkur keras, terlelap oleh dongeng reshuffle yang polanya begitu-begitu saja. Semar pun ikut memejamkan mata, memberi isyarat bahwa dalam politik, kadang yang paling nyata adalah kepura-puraan yang dikemas dengan komunikasi tingkat tinggi.
Gareng sendirian. Dia menatap layar HP-nya, melihat foto-foto menteri barunya, lalu bergumam pelan: “Ini aku yang jadi Presiden, atau aku yang lagi jadi figuran di filmnya Petruk ya?”
Nah, siapa yang bisa jawab?
(*)
