Menembus Misteri Penajam Paser Utara, Kisah Horor di Balik Megahnya Proyek IKN

Terbayang betapa horornya ‘kan?

Sesekali kita meninggalkan Rubrik Resonansi yang biasanya dipenuhi oleh celoteh Punakawan: Semar, Petruk, Gareng, Bagong, yang penuh dengan retorika perpolitikan di Republik Karang Kedempel. Sesekali, saat ini, kita membicarakan tentang mitos hutan Penajam Paser Utara (PPU) atau kota gaib di Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebagai orang yang sejak kecil bermukim di Kalimantan Timur, saya selalu dididik untuk “menjaga lisan” saat masuk ke dalam hutan. Namun, tinggal di PPU, terutama di jalur-jalur yang kini menjadi akses utama IKN, memberikan saya pengalaman yang membuat logika saya menyerah.

Tangisan di Kilometer Puluhan

Malam itu, sekitar pukul 02.00 Wita, saya harus melintasi jalur Sepaku, yang sekarang telah menjadi bagian dari IKN, karena urusan pekerjaan yang mendesak. Bagi siapa pun yang sering lewat sana, kalian tahu rasanya: aspal hitam yang membelah hutan kelapa sawit dan hutan heterogen yang seolah “menelan” cahaya lampu mobil. Hitam. Gelap.

Saat melewati sebuah tikungan tajam yang dikenal warga sebagai area angker, mesin mobil saya tiba-tiba menderu berat, seolah-olah menarik beban berton-ton. Di tengah sunyi yang pekak, telinga saya menangkap suara tangisan perempuan. Bukan tangisan sedih, tapi suara tangisan yang diselingi tawa kecil yang melengking.

Saya mencoba melihat spion. Di kursi belakang, sekilas saya melihat pantulan sosok dengan rambut menutupi wajah, basah kuyup seolah baru keluar dari rawa. Bulu kuduk saya berdiri kaku, rasa dingin menjalar dari tulang belakang hingga ke ubun-ubun. Saya tahu, jika saya menoleh ke belakang, saya mungkin tidak akan pernah sampai ke rumah.

“Pasar” yang Hilang di Tengah Hutan

Cerita lain yang sering dibicarakan di grup-grup platform perpesanan WhatsApp (WA) warga PPU adalah tentang “Kota Hilang” atau pemukiman astral yang kerap mengecoh pengendara.

Suatu sore menjelang magrib, saya pernah merasa tersesat di sebuah jalan setapak yang saya pikir jalan pintas. Anehnya, saya mencium bau harum bunga melati yang sangat menyengat, bercampur dengan bau anyir darah. Tiba-tiba, di depan saya terlihat keramaian layaknya pasar malam. Lampu-lampu kuning temaram, orang-orang hilir mudik dengan pakaian kusam.

Namun, ada yang salah. Mereka semua bergerak dengan kaku. Dan saat saya berpapasan dengan salah satu dari mereka, sosok itu tidak memiliki lubang hidung di atas bibirnya (ciri khas yang sering disebut sebagai penghuni dunia sebelah). Saya segera memutar arah, mengabaikan teriakan-teriakan mereka yang memanggil nama kecil saya—padahal saya tidak mengenal siapa pun di sana. Hiiiiii, serem!

Bayangan Hitam di Balik Pohon Besar

Di PPU, pohon-pohon tua bukan sekadar tumbuhan. Mereka adalah “rumah”. Banyak pekerja proyek di sekitar IKN bercerita tentang sosok hitam setinggi tiga meter yang sering berdiri diam di pinggir jalan, hanya menatap dengan mata merah yang menyala.

Saya pernah membuktikannya sendiri saat berhenti sejenak untuk membuang air kecil di pinggir jalan poros. Tiba-tiba, suhu udara turun drastis. Dari balik pohon besar, terdengar suara geraman rendah yang menggetarkan dada. Bukan suara hewan. Itu adalah peringatan agar saya segera pergi. Saat saya masuk ke mobil, ada bekas telapak tangan berlumpur di kaca jendela sebelah kiri—ukuran telapak tangan itu dua kali lipat ukuran tangan manusia normal.

Bahkan, saya pernah limbung dan hampir terjatuh sesaat setelah buang air kecil di bawah sebuah pohon besar di kawasan, yang kini menjadi tempat pembangunan Jembatan Pulau Balang. Untunglah, beberapa kawan saya, yang sekarang masih sehat dan bisa ditanyakan kebenaran kejadian ini, yang bergerak cepat dengan menangkap saya, dan mereka segera membawa saya ke speedboat yang menunggu di tepi Sungai Pantai Lango, untuk secepatnya pulang ke Penajam. Hingga mendekati Penajam saya masih belum bisa berbicara. Pandangan terasa gelap dan saya merasa tidak tahu sedang berada di mana. Keberadaan kami di sana, saat itu, diniatkan untuk melihat dari dekat rencana pembangunan jembatan ini. Namun, kami segera balik badan setelah ada peristiwa yang menimpa saya itu.


Catatan untuk Pembaca

Antara percaya dan tidak, dunia astral di Penajam Paser Utara seolah berjalan beriringan dengan pembangunan yang masif. Hutan mungkin bisa ditebang, dan jalan bisa diaspal mulus, namun “mereka” yang sudah ada di sana sejak ratusan tahun lalu tidak akan pernah benar-benar pergi.

Bagi kalian yang sering melintas di malam hari, pesannya hanya satu: Jangan pernah menyahut jika mendengar namamu dipanggil, dan jangan pernah menatap terlalu lama ke arah kegelapan di balik pepohonan. Karena di sana, sesuatu sedang balik menatapmu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *