Makan Gratis, Investasi Perut, dan Nasib Jamban Karang Kedempel

Kata Semar investasi jamban. Ilustrasi dibuatkan oleh AI.

Matahari di atas langit Republik Karang Kedempel sedang garang-garangnya. Panasnya terasa menyengat hingga ke sumsum, namun ternyata itu tak sebanding dengan panasnya suasana di bawah naungan pendopo agung. Di sana, Petruk, sang mantan presiden dua periode yang masih tampak sangat klimis dan bugar, sedang asyik menyeruput teh melati hangat. Aroma melati itu menyeruak, kontras dengan wajah di hadapannya.

Gareng, presiden petahana yang baru seumur jagung menjabat, tampak sedang memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Kursi kekuasaan ternyata tak seempuk yang ia bayangkan saat kampanye dulu.

“Reng, Gareng… hebat kamu. Program ‘Makan Bergizi Gratis’ (MBG) ini benar-benar bikin geger seantero negeri. Rakyat kenyang, statistik di atas kertas pun terlihat sangat senang,” celetuk Petruk sambil terkekeh kecil. Gaya bicaranya masih sangat khas, gaya seorang penguasa yang terbiasa melihat dunia dari ketinggian kursi jabatan.

Gareng mendongak perlahan, matanya tampak sedikit sayu dan lelah. “Senang apanya, Truk? Ini ratusan triliun rupiah lari ke piring. Memang perut rakyat terisi, tapi kepalaku pening bukan main. Kau lihat tidak? Di pasar-pasar, warung nasi milik Si Mbok dan warteg-warteg di pojok desa banyak yang pasang bendera kuning. Bukan karena ada warga yang meninggal dunia, tapi karena usaha mereka mati total. Pelanggan setianya pindah ke jatah gratisan yang digelontorkan negara lewat birokrasi kaku.”

Bagong, yang sedari tadi sibuk mengipasi sate lalat di pojokan belakang pendopo, tiba-tiba menyambar tanpa permisi. Suaranya cempreng namun tajam.

Nah, itu dia masalahnya! Namanya juga Republik Karang Kedempel. Maunya bantu rakyat, tapi cara bantunya malah bikin rakyat yang jualan nasi gigit jari. Katanya ekonomi mikro mau didorong, lha ini malah diseruduk pakai anggaran raksasa dari pusat. Ibaratnya, kita mau ngasih ikan gratis ke tetangga, tapi kolam milik tetangga itu sendiri kita keringkan airnya demi mengisi kolam milik pemerintah. Pintar sekali, ‘kan?”

Petruk menyahut dengan sangat enteng, seolah-olah masalah itu hanyalah kerikil kecil. “Lho, Gong, namanya juga transisi menuju kemajuan besar. Dalam setiap perubahan peradaban, pasti harus ada pengorbanan yang diberikan.”

“Pengorbanan siapa, Truk? Pengorbanan mereka yang sudah susah atau pengorbanan jabatan?” potong Semar yang baru muncul dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi singkong rebus. Suara Semar terdengar sangat berat, berwibawa, dan penuh dengan “resonansi” batin yang sanggup menggetarkan lantai kayu pendopo.

Semar duduk dengan sangat perlahan, perutnya yang besar bergoyang pelan mengikuti irama napasnya yang dalam. Ia meletakkan nampan itu di tengah meja. “Aku kok mikir ya, Reng. Uang ratusan triliun itu kalau dikunyah, lalu ditelan masuk ke lambung, akhirnya akan bermuara ke mana? Ya jelas ke ‘bagian belakang’ alias toilet. Sekali setor, amblas menjadi pupuk dan hanyut ke selokan. Habis tak berbekas dalam hitungan jam. Sementara itu, kau lihat tidak sekolah-sekolah kita?”

Semar menghela napas panjang, sebuah napas yang membawa beban sejarah panjang Republik Karang Kedempel. “Guru-guru honorer suaranya sudah serak mengeluh soal kesejahteraan. Keluhan itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam masih bujangan sampai sekarang. Gedung sekolah banyak yang atapnya sudah seperti kerupuk, rapuh dan berlubang. Kalau hujan turun, murid-murid di dalam kelas malah sibuk main polo air daripada belajar matematika. Pendidikan itu investasi otak, Reng. Investasi masa depan yang hasilnya bisa puluhan tahun. Kalau cuma investasi perut tanpa dibarengi kualitas akal, ya hasilnya cuma… ya itu tadi, yang berakhir di lubang jamban setiap pagi.”

Gareng makin tertunduk lesu. “Itu dia yang mengganjal di hatiku, Romo Semar. Saya benar-benar dilema. Saya ingin mencetak generasi emas, tapi takutnya malah cuma jadi ‘generasi emas’ yang rajin setor ke kakus. Sementara otaknya tetap kosong melompong karena sekolahnya makin tak terurus dan gurunya sibuk mencari sampingan demi bisa membeli beras.”

Bagong kembali menimpali sambil asyik mengunyah sate lalatnya yang pedas. “Gini lho, Mas Presiden Gareng. Kalau mau program ini keren dan dianggap berpihak pada wong cilik, mbok ya warung-warung kecil itu dilibatkan sebagai penyedia. Jangan semua anggaran disikat habis oleh katering besar, perusahaan raksasa, atau badan otoritas yang birokrasinya sepanjang jalan tol itu. Kasihan rakyat kecil yang sudah puluhan tahun berjualan. Makan gratisnya mungkin cuma terasa sebentar, tapi miskinnya bisa selamanya kalau mata pencahariannya hilang ditelan sistem.”

Petruk hanya tersenyum tipis, matanya melirik ke arah luar pendopo, ke arah cakrawala yang seolah menjanjikan kemegahan. “Ya begitulah politik, Gong. Yang penting sekarang piring-piring itu penuh, kamera jurnalis menjepret dari berbagai sudut, dan rakyat bersorak tepuk tangan. Soal besok mereka harus berak di mana, atau guru-guru mau makan batu karena gaji tak kunjung naik, itu urusan teknis di periode berikutnya. Bukan begitu, Reng?”

Semar hanya bisa mengelus dadanya yang bidang. “Ingat pesan orang tua, Reng. Membangun sebuah bangsa yang besar itu bukan cuma urusan mengisi lambung yang keroncongan, tapi juga memuliakan akal budi. Jangan sampai kita ini sibuk setengah mati mengurusi apa yang masuk ke mulut, tapi lupa total mengurusi apa yang keluar dari pikiran manusia-manusianya. Jangan sampai Karang Kedempel ini tercatat dalam sejarah sebagai negara yang paling kenyang sedunia, tapi paling bebal dan tertinggal pendidikannya.”

Gareng hanya bisa diam terpaku. Ia menatap singkong rebus pemberian Semar yang masih mengepulkan uap. Di luar sana, di kejauhan, terdengar sayup-sayup bunyi piring berdenting dari pos-pos pembagian makan. Namun, suara itu diiringi oleh isak tangis tertahan dari seorang pemilik warteg di pinggir jalan yang terpaksa menggulung tikarnya karena tak lagi ada pembeli yang datang. Angin kering Republik Karang Kedempel berembus, membawa aroma masakan gratis yang terasa pahit di lidah mereka yang mengerti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *