Seri 1: Republik Karang Kedempel, Lahirnya Politik Non-Blok ke Go-Blok!

Tentu, mari bersama-sama mengintip sedikit hiruk-pikuk yang terjadi di Pendopo Republik Karang Kedempel. Sebuah negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi,” tapi lebih sering “gemah ripah loh… kok begini?”. Ada apa yang sesungguhnya telah terjadi? Peristiwa apakah gerangan? Tampaknya seru!
Di sebuah sore yang gerah karena musim panas yang menyengat belakangan ini, Presiden Republik Karang Kedempel, Gareng tampak duduk termenung di kursi kepresidenan yang ukurannya agak terlalu besar untuk kakinya yang pincang itu. Sejak dilantik menjadi Presiden Republik Karang Kedempel itu, dia merasa beban dunia ada di pundaknya. Terutama beban untuk terlihat pintar di depan kamera.
Biasanya, ia ditemani oleh trio maut: Semar, Bagong, dan Petruk. Tapi hari ini, pendopo tampak sepi. Tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ramai dan gayeng. Ketiganya, ternyata, sedang “dinas luar” memenuhi undangan Batara Narada. Konon, mereka sedang asyik menyeruput kopi di pinggiran Sungai Gangga, India, sambil berdiskusi apakah air suci di sana bisa melunturkan dosa-dosa politik para pejabat Karang Kedempel. Pejabat yang menyelingkuhi amanah yang di bawah sumpah harus diemban sampai masa jabatan berakhir. Mereka tidak sungkan-sungkan lagi menipu rakyatnya dengan berbagai program, yang selalu bottom up, padahal sebenarnya program top-down. Belum lagi yang terang-terangan maupun tersembunyi berperilaku korupsi.
Warisan Sang Guru Pengibul
Tanpa pengawasan Semar, Gareng merasa bebas menentukan arah. Ia teringat petuah gurunya, sang mantan presiden dua periode, Petruk.
Petruk, yang dikenal sebagai pengibul kelas berat, sukses memimpin Repbulik Karang Kedempel selama sepuluh tahun dengan strategi “Yang penting yakin, urusan bener belakangan.” Di bawah asuhan Petruk, negeri ini memang berubah drastis, dari yang tadinya rusak, menjadi sangat rusak dengan estetik. Kini, Gareng siap melanjutkan estafet kerusakan tersebut. Bahkan, berpotensi lebih rusak dibandingkan periode sebelumnya.
“Reng, politik itu soal istilah. Kalau rakyat nggak paham, berarti kamu hebat,” bisik suara Petruk yang masih terngiang di telinga Gareng. Bisikan itu selalu menggema di saat-saat dirinya menghadapi berbagai dilematis persoalan negara dan bangsa, seperti saat sekarang ini.
Dari Non-Blok Menjadi Go-Blok
Terinspirasi dari selebaran yang beredar di pasar-pasar gaib, dan bisikan sang guru itu, Gareng pun memutuskan sebuah kebijakan luar negeri yang revolusioner.
Selama ini, Republik Karang Kedempel bangga dengan posisi Non-Blok (tidak memihak manapun). Namun, Gareng merasa istilah itu sudah kuno dan kurang “kekinian”. Dengan sekali gebrak meja (yang membuatnya mengaduh karena tangannya kesakitan), ia mengumumkan:
“Mulai hari ini, kita tidak lagi Non-Blok! Kita resmi menganut politik Go-Blok!”
Sekretaris negara yang mendengar itu langsung tersedak. “Maaf Gusti Presiden, maksudnya Global-Block?”
“Bukan! Go-Blok! Pokoknya kita blokir semua yang masuk akal, dan kita jalankan semua yang bikin orang geleng-geleng kepala. Tangkap koruptor? Nanti dulu, saya mau pidato memuji diri sendiri dulu di depan cermin. Kan ini musimnya tampil, bukan musim kampanye lagi, jadi bebas dong!” seru Gareng dengan wibawa yang dipaksakan. Memang benar, beberapa bulan terakhir ini, Gareng selalu tampil di publik dengan memperbanyak pidato, dan tentu saja, goyang dombret. Sebuah goyangan diiringi musik tertentu yang diperkenalkannya saat ia berkampanye dulu.
Menanti Jenderal Gembos
Gareng tidak sadar, di luar sana rakyat mulai berbisik. Jika ia hanya sibuk berpidato tanpa aksi nyata—terutama soal memberantas tikus-tikus berdasi yang sudah kenyang memakan tiang pendopo—ia hanya akan diingat sebagai Jenderal Gembos. Sosok yang tampak gahar dari luar, tapi kalau ditekan sedikit langsung kempes tak berdaya.
Sementara itu, di tepi Sungai Gangga, Petruk hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat berita di HP-nya.
“Wah, muridku memang paten. Karang Kedempel beneran jadi Go-Blok di tangannya,” ujar Petruk sambil menyulut rokok.
Semar hanya mengelus dada yang selebar lapangan bola itu. “Truk, Truk… kamu ajari dia naik panggung, tapi lupa ngajari cara turun dengan terhormat.”
Bakal ada beberapa seri lanjutan tentang lakon ini, dan bisa terus diikuti pada Rubrik Resonansi ini. Semoga Anda terhibur dan mendapatkan hikmah yang tersembunyi dari narasi yang sengaja ditulis ini, hehehe…
(*)

Garreng pincang ya…..
Hehehehehehe…
Menyimak cerita selanjutnya…..menarik
Terima kasih telah berkunjung kemari. Lanjutannya sudah tersedia di sini hingga seri keenam.