Seri 2: Republik Karang Kedempel, Warisan Sang Pengibul dan Jenderal Gembos, Tangkap Koruptor?

Ini seri berikutnya. Dan tidak kalah seru dari seri sebelumnya. Tentu, mari kita lanjut ke babak berikutnya. Bayangkan suasana chaos saat rombongan dari India mendarat kembali di Bandara Internasional Republik Karang Kedempel. Bandara ini bersifat Very Very Important Person (VVIP), atau yang sifatnya hanya boleh didarati oleh pesawat terbang jenis tertentu dan oleh pejabat tertentu. Di Republik Karang Kedempel yang boleh memanfaatkan fasilitas bandara ini ya mereka saja ini: Gareng, Petruk, Bagong, Semar.
Pesawat carteran dari India baru saja mendarat di bandara tersebut. Semar turun dengan napas tersengal-sengal, bukan karena lelah, tetapi karena memang menahan beban perutnya yang makin maju setelah kebanyakan makan nasi briyani. Di belakangnya, Petruk, mantan presiden dua periode Republik Karang Kedempel, tampak semringah membawa oleh-oleh kain sari, sementara Bagong sibuk mengelap sisa kuah kari di bibirnya.
Begitu menginjakkan kaki di Tanah Air, mereka disambut baliho raksasa dengan wajah Gareng yang diedit habis-habisan memakai kecerdasan buatan atau AI (tampak lebih tinggi dan hidungnya agak mancung sedikit). Di bawahnya tertulis slogan baru:
“Selamat Datang di Era Politik Go-Blok: Blokir Akal Sehat, Lancarkan Pidato!”
Semar Geleng-Geleng, Petruk Cengar-Cengir
“Truk,” panggil Semar dengan suara beratnya yang bergetar. “Kowe ajari apa si Gareng pas ditinggal? Kok spanduknya bikin tensi darahku naik?” Semar yang sudah keberatan perut itu kini semakin berat setelah membaca spanduk yang tertempel di seberang pintu keluar bandara.
Petruk, sang mantan presiden dua periode itu yang merasa sukses mewariskan “kerusakan estetik” pada negeri ini, hanya nyengir kuda. “Lho, Romo… itu namanya inovasi. Dulu saya ‘kan jagonya ngibul, sekarang Gareng mau naik level. Dari ngibul jadi Go-Blok. Itu progres! Hehehe…”
Bagong menyela sambil mengunyah kerupuk, “Progres matamu, Truk! Ini mah namanya bunuh diri politik pakai pengeras suara!”
Sidang Dadakan di Pendopo
Mereka bertiga langsung meluncur ke istana. Di sana, Gareng sedang asyik di depan cermin besar, berlatih pidato sambil memegang teks yang isinya 90 persen adalah pujian untuk dirinya sendiri sebagai “Penyelamat Republik Karang Kedempel dari Logika”.
“Eh, Romo sudah pulang? Gimana kopi Gangga-nya? Lebih pahit mana sama kritikan netizen?” tanya Gareng tanpa dosa. Ia pun tampak cengar-cengir kuda.
Semar duduk di kursi kayu yang sampai berderit protes menahan bebannya yang kian berat itu. “Reng, aku dengar kamu mau keluar dari tatanan dunia dan bikin aliran Go-Blok? Kamu mau bikin negara ini jadi Jenderal Gembos yang cuma gede di omongan tapi kempes di tindakan?”
Gareng Sang Murid Teladan
Gareng dengan bangga membusungkan dada (yang sayangnya tetap saja rata, karena kurang berolahraga). “Romo, ini strategi tingkat tinggi dari Guru Petruk! Kenapa harus repot-repot tangkap koruptor kalau kita bisa bikin mereka sibuk tepuk tangan pas saya pidato? Lagipula, ini bukan musim kampanye, jadi saya bebas memuji diri sendiri tanpa perlu bayar pajak iklan!”
Gareng melanjutkan dengan nada puitis, “Kita harus tunjukkan pada dunia bahwa Republik Karang Kedempel tidak butuh kekuatan atau wibawa. Kita cuma butuh… vibe yang asyik!”
Vonis Sang Bagong
Bagong yang sedari tadi diam, tiba-tiba mendekati meja kerja Gareng yang penuh dengan tumpukan teks pidato tapi kosong dari dokumen kebijakan. Isinya tidak satupun program kerja yang berpihak kepada rakyat jelata.
“Reng,” kata Bagong serius. “Dulu si Petruk mimpin dua periode, negara ini emang rusak. Tapi seenggaknya rusaknya masih punya alur cerita. Nah, kalau kamu terus-terusan begini, bukan cuma koruptor yang makin gemuk, tapi rakyat bakal anggap kamu itu kayak ban serep yang bocor halus. Kelihatannya ada, tapi kalau dipakai jalan malah bikin oleng.”
Semar hanya bisa menutup mata. “Truk, tanggung jawab kowe. Muridmu ini beneran mempraktekkan ilmu ‘pengibul’ mu tapi dosisnya ketinggian.”
Petruk hanya tertawa kecil sambil membisiki Gareng, “Tenang Reng, besok kita bikin pidato lagi tentang keberhasilan kita gagal paham. Rakyat pasti terkesima!”
Nah, bagaimana isi pidato selengkapnya? Ikuti serial berikutnya, ya…
(*)
