Londo Ireng, Padi Ajaib, dan Bisnis Penggilingan Padi “Sultan”

Gareng, presiden Republik Karang Kedempel lagi nggedabrus…

Malam di Karang Kedempel sedang hangat-hangatnya. Kopi hitam di cangkir Semar masih mengepulkan asap tipis. Di pelataran gardu, Tole Gareng—yang belakangan dipercaya menjabat sebagai Presiden Republik Karang Kedempel—sedang berdiri di atas lincak kayu. Tangan kanannya mengepal, matanya berapi-api, seolah-olah lincak itu adalah podium megah bernuansa emas.

“Ingat wahai rakyatku!” seru Gareng melengking. “Saya dapat laporan resmi, satu hektare sawah kita sekarang bisa menghasilkan 40 ton padi! Lalu, pabrik penggilingan beras milik warga kita ada yang untungnya Rp 2 triliun per bulan! Siapa yang bilang Karang Kedempel miskin? Siapa yang tidak percaya laporan ini, berarti kalian Londo Ireng! Kalau tidak betah di negeri ini, silakan pindah kewarganegaraan!”

Petruk yang sedang menyedut rokok klembak menyan seketika tersedak. Bagong yang sedang makan pisang goreng hampir menelan kulitnya.

Semprul…” gumam Bagong sambil memegangi dadanya yang sesak. “Tadi pagi saya menimbang gabah cuma dapet empat ton per hektare itu sudah sujud syukur, Kang. Ini dapet angka 40 ton dari sawah mana? Sawah di Planet Jupiter?”

Petruk tertawa terkekeh-kekeh, menyandarkan tubuh jangkungnya di tiang bambu. “Bukan sawah Jupiter, Gong. Itu namanya Laporan ABS—Asal Bapak Senang. Gareng itu ‘kan presiden yang paling demen berpidato. Begitu liat mik nempel di bibir, bawaannya pengen orasi terus. Masalahnya, data medisil, data pertanian, sampai data intelijen dia telan bulat-bulat tanpa dikunyah dulu!”

“Iya, Truk!” bagong menimpali. “Terus itu yang penggilingan beras untung dua triliun per bulan… Gusti Prabu! Penggilingan mana itu? Kalau ada untung segitu, itu pabrik beras apa pabrik mencetak uang kertas? Bahkan tengkulak paling licik se-Jawa pun bakalan sungkem belajar manajemen bisnis sama pemilik penggilingan itu!”

Semar, sang pamong sejati, hanya mengelus perut tambunnya. Matanya yang sipit menatap Gareng yang masih ngotot berpidato di atas lincak. Semar menghela napas panjang—napas yang penuh penyesalan sekaligus keprihatinan.

“Gareng, Tole…” panggil Semar lembut namun memotong keheningan. “Mudun dhisik (turun dulu). Lincaknya mau dipakai Petruk buat tidur.”

Gareng melompat turun dari lincak, wajahnya masih memerah penuh semangat propaganda. “Kyai Semar! Kenapa dipotong? Saya ini sedang membangun optimisme bangsa! Bangsa kita ini besar, tapi digembosi oleh LSM dan Pers yang bertindak seperti Londo Ireng!

“Tole…” kata Semar tenang, menyulut pipa rokoknya. “Pemimpin itu boleh bersemangat, boleh gila pidato, tapi jangan gila dari kenyataan.”

Gareng tertegun.

“Rakyatmu itu tidak butuh orasi berkobar-kobar yang isinya kebohongan manis,” lanjut Semar. “Rakyat stres bukan karena tidak cinta Karang Kedempel, tapi karena sakit hati mendengarkan presidennya dengan gampang mempercayai laporan bodoh. Kebijakan negara itu diukur dari hitungan matematis dan data di lapangan, bukan dari imajinasi para pembantu kerajaan yang cari muka!”

Petruk menimpali sambil menyeringai, “Betul itu, Kang Gareng. Kalau sawah sempit dibilang panen 40 ton, nanti dinas perpajakan bakal malakin petani berdasarkan data halu itu. Kasihan petaninya! Belum lagi kalau ada rakyat yang kritis membantah data ngawur itu, langsung disuruh ‘pindah warga negara’. Lah, kalau semua rakyat yang kritis pindah warga negara, Karang Kedempel cuma disisa-isain sama pembual dan pembebal dong?”

Bagong ikut mendekat, menepuk bahu Gareng yang mulai menciut. “Niatmu baik mau menyemangati rakyat, Leng. Tapi kalau tiap kali megang mik yang keluar cuma ancaman, makian ‘Londo Ireng’, dan angka-angka ajaib yang bikin dahi berkerut, ya rakyat makin darah tinggi. Pidato itu obat harapan, bukan racun yang bikin rakyat kejang-kejang.”

Gareng termenung di sudut gardu. Sifat jenakanya perlahan luntur digantikan kesadaran kecil yang menyengat. Di Karang Kedempel, menjadi pemimpin memang butuh keberanian untuk berbicara, tetapi jauh lebih butuh kerendahan hati untuk menyaring mana kebenaran dan mana sekadar ‘upeti kata-kata’ dari para penjilat.

Semar tersenyum tipis melihat anaknya mulai berpikir. Ia menyeruput kopinya kembali.

“Sudah,” kata Semar. “Besok-besok kalau mau pidato lagi, mik-nya ditest dulu. Kalau yang keluar kata-kata ajaib 40 ton padi, biar Petruk yang cabut kabelnya.”

Tabik

Salam hormat,

Ari Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *