Karang Kedempel dan Musim Setan Menangkap Setan

Suasana di gardu ronda Republik Karang Kedempel malam itu mendadak hangat. Bukan karena wedang jahe buatan Mak Pon yang ekstra pedas, melainkan karena selembar koran bekas yang dibawa Petruk. Di halaman utamanya, terpampang berita megah: Seorang Penegak Hukum Berbaju Cokelat Ditangkap Penegak Hukum Berbaju Kejaksaan. Esoknya, Gantian Penegak Hukum Berbaju Kejaksaan Dicokok Penegak Hukum Berbaju Cokelat.
Gareng, yang biasanya malas mikir politik, sampai membetulkan posisi duduknya yang jinjit. “Truk, ini namanya sinergi antar-lembaga atau panggung sirkus antar-jemput?”
Petruk terkekeh, sambil meniup asap rokok klobotnya. “Reng, Reng. Kamu itu kurang piknik digital. Di jagat netizen Karang Kedempel, ini namanya bukan sinergi, tapi babak baru dari seni bela diri kuno: Jurus Balas Dendam Berantai. Hari ini kamu obrak-abrik dapurku, besok pagi jemuranmu aku gondol. Adil, toh?”
Bagong yang sedari tadi sibuk mengunyah pisang goreng langsung menyambar, “Adil dengkulmu! Itu namanya bukan menegakkan keadilan, tapi main smackdown pakai anggaran negara! Yang satu merasa paling suci, yang satu merasa paling berkuasa. Ujung-ujungnya, rakyat yang nonton cuma bisa melongo sambil megangin dompet yang makin tipis.”
Di sudut amben (ranjang, tempat tidur) Semar Badranaya hanya diam. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah rembulan yang tertutup polusi asap knalpot. Sebagai sesepuh yang sudah kenyang makan asam garam peradaban, Semar tahu betul bahwa Karang Kedempel sedang tidak baik-baik saja. Ketika para pemegang mandat keadilan saling sandera dan saling telikung, hukum tak lagi menjadi panglima. Hukum telah turun kasta menjadi sekadar instrumen negosiasi di bawah meja.
“Gong, Truk, Reng…” suara Semar berat, membuat ketiganya langsung senyap. “Kalian sudah baca tulisan Profesor yang viral di grup WhatsApp tadi siang?”
“Profesor yang mana, Romo? Yang gelarnya berderet sampai gak muat di kartu nama itu?” tanya Gareng.
Semar mengangguk pelan. “Beliau menulis kalimat yang pendek, tapi bikin bulu kuduk berdiri. Katanya: ‘Di Karang Kedempel hari ini, kita tidak sedang melihat malaikat menyapu kotoran. Yang terjadi adalah setan sedang menangkap setan.’“
Kalimat Semar seperti menyiramkan air es di gardu ronda. Setan menangkap setan. Sebuah metafora yang brutal namun telanjang.
Ketika institusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir moralitas justru dihuni oleh mentalitas para ruwat yang gemar berburu mangsa, maka garis antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Kita tidak lagi bisa membedakan mana penjahat yang sedang menyamar jadi aparat, dan mana aparat yang sedang magang jadi penjahat. Mereka bertarung bukan untuk membersihkan negeri, melainkan untuk mengamankan wilayah jajahan masing-masing.
Maka, jangan salahkan jika netizen Karang Kedempel—yang terkenal jenaka namun sinis—memilih untuk memperlakukan drama ini sebagai tontonan komedi gratis. Di media sosial, ketimbang berduka atas runtuhnya wibawa hukum, mereka justru sibuk membuat meme dan tebak-tebakan: Kira-kira, minggu depan giliran siapa yang kena “kartu merah” susulan?
Ini adalah bentuk apatisme yang sehat. Sebab, berharap pada ketulusan para elit di atas sana untuk bertobat secara mandiri, rasanya lebih mustahil ketimbang menunggu Bagong tumbuh tinggi dan langsing.
Malam makin larut di Karang Kedempel. Berita di koran Petruk sudah beralih fungsi menjadi alas bungkus sisa pisang goreng. Saling tangkap akan terus terjadi, saling balas akan tetap berjalan selama panggung kekuasaan masih menyediakan tiket VIP bagi mereka yang pandai bersandiwara.
Sementara di tingkat bawah, rakyat seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong hanya bisa terus meronda. Menjaga kampung mereka sendiri dari maling-maling kecil, sembari berdoa agar maling-maling besar di atas sana segera kehabisan energi karena sibuk saling memangsa.
Sebab konon, jika sesama setan sudah saling makan, yang tersisa biasanya hanyalah ampasnya. Dan tugas rakyat, seperti biasa, adalah menyapu bersih ampas-ampas itu dari muka bumi.
Tabik
Salam hormat,
Ari Arief
