Ijazah Petruk dan Festival Kacamata Pembesar di Karang Kedempel

Meski sidang sudah berjilid-jilid, persoalan ijazah Petruk hingga kini belum jelas.

Seandainya Ki Narto Sabdo masih hidup, beliau mungkin perlu mengubah sedikit pakem pewayangan. Di Negeri Republik Karang Kedempel—negeri yang tanahnya subur, humornya makmur, tapi logika hukumnya sering libur—dunia politik sedang dilanda pagebluk baru yang sangat filosofis: Misteri Kertas Berstempel.

Pusat dari goro-goro ini tidak lain dan tidak bukan adalah Petruk. Mantan pimpinan karismatik Republik Karang Kedempel yang dulunya dikenal suka blusukan masuk selokan, kini justru terjebak dalam blusukan akademis yang tak kunjung usai. Soalnya sederhana, tapi meribetkan sejagat pewayangan: “Kang Petruk ini pernah lulus kuliah dan pegang lembar ijazah asli, atau cuma pernah lewat di depan gerbang kamtib Kampus Gajah Mada?”

Persidangan ghaib soal keaslian kertas ajaib itu sudah berjalan berjilid-jilid, melebihi panjangnya serial Mahabharata. Tapi dasar Petruk, keturunan Kantong Bolong yang cerdiknya minta ampun. Publik menunggu beliau melangkah anggun ke persidangan sambil memamerkan lembaran ijazah yang bersih, rapi, dan bercahaya seperti Kitab Jamus Kalimasada. Namun, apa yang terjadi? Petruk malah absen dengan senyum khasnya, lalu mengutus rombongan alumni yang mengaku sebagai “teman seangkatan”.

Alhasil, ruang sidang tidak mirip tempat penegakan hukum, melainkan acara reuni nostalgia SMP yang salah alamat. “Lho, dulu Petruk itu duduk di pojok, sering minjem tip-ex saya!” ujar salah satu saksi di depan persidangan yang tiba-tiba riuah. Publik pun mengelus dada. Di Republik Karang Kedempel, pembuktian hukum ternyata cukup menggunakan asas “yang penting ingat pernah jajan bakso bareng”.

Di seberang angin, dua sosok vokal yang telah diberi stempel “tersangka” oleh aparat Republik Karang Kedempel justru makin girang. Senang. Mereka adalah Durna Digital—pakar yang sanggup membongkar rekam jejak piksel hingga ke akar-akarnya—dan Dewi Srikandi Digital, sosok medis yang hobi membedah struktur anatomi foto kuno dengan ketelitian mikrofon tempat ibadah.

Alih-alih mengurung diri di pertapaan karena status tersangka, Durna Digital dan Srikandi Digital malah giat menggelar pertunjukan ala detektif. Saban hari, mereka membawa kacamata pembesar dan proyektor, menunjukkan betapa font dalam dokumen Petruk mirip ketikan mesin tik buatan luar negeri tahun sekian, atau bagaimana garis senyum di foto ijazah lebih mirip senyum Gareng ketimbang Petruk.

“Ini bukan soal benci atau rindu,” celetuk Durna Digital sambil menyesuaikan posisi kacamatanya. “Ini soal pencerahan digital! Bagaimana mungkin seorang Petruk yang hidungnya sepanjang jalan tol bisa muat dalam bingkai foto ukuran 3×4 tanpa terpotong?”

Rakyat Republik Karang Kedempel yang menyaksikan lakon ini cuma bisa manggut-manggut sambil mengunyah gorengan. Di satu sisi, ada mantan penguasa yang memilih main petak umpet akademis sambil mengirim rombongan kawan lama. Di sisi lain, ada duo pengkritik yang makin ditahan justru makin pinter bikin sajian infografis.

Pertanyaannya kemudian, kenapa urusan selembar kertas bisa membakar jagat pewayangan selama ini? Mungkin di Republik Karang Kedempel, ijazah bukan lagi sekadar bukti lulus ujian analisis vegetasi atau silvaturahmi, melainkan simbol kesucian status sosial. Tanpa kertas itu, klaim-klaim kehebatan masa lalu rasanya seperti bangunan yang berdiri di atas tanah sengketa: gampang digoyang lindu.

Namun, di atas semua drama, intrik, dan festival analisis piksel ini, kita harus mengapresiasi Petruk. Beliau telah berhasil mengajarkan kita satu filosofi hidup yang sangat luhur: Bahwa silaturahmi dengan teman kuliah masa lalu itu jauh lebih penting daripada sekadar menghadiri panggilan sidang.

Maka, biarlah sidang di Republik Karang Kedempel terus bergulir hingga Dewa Batara Guru turun tangan membawa mesin pemindai otentikasi. Sementara itu, warga Republik Karang Kedempel tinggal menyiapkan kopi, menyenderkan punggung, dan menikmati setiap babak lakon ini. Sebab di negeri ini, komedi paling lucu memang jarang diproduksi oleh pelawak profesional, melainkan oleh para pimpinan dan mantan pimpinan yang lupa di mana menaruh berkas lamarannya sendiri.

Tabik

Salam hormat,

Ari Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *