Gibran, Ijazah Gaib, dan Gelak Tawa Punakawan di Karang Kedempel

Asap kemenyan dan aroma kopi hitam mengepul tipis di emperan padepokan Karang Kedempel. Malam itu, empat sekawan Punakawan sedang duduk melingkar. Semar Mesandhem tampak bersandar manis pada tiang bambu, sementara tiga anaknya—Gareng, Petruk, dan Bagong—sedang asyik mengamati selembar kertas berstempel keemasan yang dipegang Petruk dengan dua jarinya.
“Truk, iku kertas opo toh? Kok disawang berjam-jam koyo nemu peta harta karun?” tanya Gareng sembari membetulkan posisi duduknya yang selalu miring.
Petruk terkekeh panjang, “Lha ini lho, Kang Reng. Kertas legendaris yang belakangan ini bikin gempar seluruh pelosok negeri. Konon, selembar kertas ini bisa menentukan apakah seseorang layak jadi Patih Agung atau cuma layak jadi juru parkir di pasar.”
Bagong yang dari tadi sibuk mengunyah pisang goreng langsung menyambar, “Oalah! Itu kan perkara ijazah yang lagi digugat itu, toh? Katanya lulusan negeri seberang, tapi kok pas dicek di papan pengumuman kelurahan, nama sekolahnya kayak nama tempat kursus memasak? Piye toh iki?”
Semar mengelus perutnya yang membuncit, lalu tersenyum bijak—senyum khas tokoh tua yang sudah kenyang melihat pola pikir manusia. “Hadeh, anak-anakku… Ojo keburu nesu. Di negeri Karang Kedempel ini, kertas itu memang kadang lebih sakti daripada kepandaiannya sendiri. Kamu punya ilmu setinggi langit, kalau tidak punya lembaran berstempel basah, ya dianggap angin lalu. Sebaliknya, kertasnya kinclong, isinya… wallahu a’lam.”
“Tapi ya aneh toh, Pak!” potong Gareng gemas. “Gugat-menggugat ijazah ini kan lucu. Sing satu bilang, ‘Ijazahmu palsu! Cuma setara SMA!’ Sing dituduh cuma mesem-mesem sambil bagi-bagi susu gratis. Kenapa tidak dibuka saja lembarannya di hadapan publik? Tinggal dipajang di alun-alun, rampung urusan!”
Petruk tertawa meliuk-liuk. “Kang Reng, Kang Reng… Kamu ini ndak paham seni politik Karang Kedempel. Kalau semuanya dibuat terang benderang sejak awal, lalu apa bahan berita untuk para juru warta? Apa yang mau diributkan oleh para buzzer di warung kopi digital? Drama itu mahal harganya, Kang. Semakin berbelit-belit, semakin meriah pasar taruhannya.”
Bagong menggaruk-garuk kepalanya yang gundul. “Ngoten nggih, Truk? Tapi aku dadi bingung. Sebenarnya yang dibutuhkan negeri ini itu ijazah yang asli, ilmu yang asli, apa niat yang asli? Soalnya zaman sekarang, ijazah asli saja bisa dipakai buat memperlancar urusan yang ndak asli. Apalagi kalau dari awale wis samar-samar!”
“Hus! Otakmu kok rada cerdas malam ini, Gong?” sela Petruk sambil menepuk pundak Bagong. “Point-nya itu bukan cuma soal kertasnya, tapi soal kejujuran asas. Kalau buat melamar kerja jadi staf administrasi di kantor desa saja syaratnya harus verifikasi ijazah legalisir cap basah sampai tingkat kecamatan, masa buat calon pemimpin puncak cuma cukup berbekal surat keterangan ‘percaya sajalah’?”
Semar menghembuskan napas perlahan. Suaranya berat namun menyejukkan. “Ngengeh, para anakku… Dengarkan Ki Semar. Fenomena ini sebenarnya cermin besar buat kita semua. Kebiasaan kita di Karang Kedempel ini memang sering terjebak pada hal-hal yang sifatnya simbolis. Kita sibuk meributkan selembar kertas, sampai lupa menguji apa isi kepala dan bagaimana kepekaan hatinya.”
Semar melanjutkan, “Gugatan ijazah itu muncul bukan semata-mata karena rakyat benci atau dendam. Itu adalah bentuk dahaga akan kejelasan dan keadilan. Rakyat kecil itu cuma ingin melihat contoh: kalau pimpinannya taat aturan dan transparan dari hal paling mendasar seperti riwayat pendidikan, maka rakyat juga akan segan. Tapi kalau hal mendasar saja diputar-putar seperti gasing, ya wajar kalau rakyat jadi hobi curiga.”
“Betul betul betul!” sahut Bagong sambil mengacungkan sisa pisang gorengnya. “Rakyat kan cuma pengen yakin, Pak. Ojo sampai kita dipimpin sama orang yang ijazahnya kayak ‘ijazah gaib’—ada tapi ndak kelihatan, ndak kelihatan tapi katanya ada!”
Gareng mesem. “Yen menurutku, biar adil, besok-besok kalau ada pendaftaran Patih Agung, tesnya jangan cuma kumpul berkas. Tapi disuruh ujian skripsi ulang di Alun-alun Karang Kedempel, disiarkan langsung lewat radio dan siaran internet. Biar Semar, Petruk, Bagong, sama seluruh rakyat bisa ikut jadi pengujinya!”
Gerrr… Meledaklah tawa keempat Punakawan itu menembus keheningan malam Karang Kedempel.
Kopi di cangkir Semar sudah dingin, namun kehangatan diskusi jenaka tapi menohok itu tetap tertinggal. Di tengah keriuhan politik yang makin hari makin ajaib, Punakawan tahu betul: humor adalah satu-satunya benteng terakhir agar rakyat kecil tidak ikut gila menyaksikan tingkah para elitis.
Tabik
Salam hormat,
Ari Arief
