Seri 5: Republik Karang Kedempel, Gareng Reshuffle Kabinet Go-Blok Bersatu

Kabinet Bersatu Go-Blok. Ilustrasi dibuatkan AI.

Tentu saja, ini kisah wayang mbeling episode berikutnya. Karena merasa “gembos” setelah insiden pidato salah kacamata, Presiden Republik Karang Kedempel, Gareng memutuskan untuk melakukan langkah ekstrem. Tidak tanggung-tanggung. Yaitu, Reshuffle Kabinet. Dia ingin membuktikan bahwa ia punya otoritas penuh, meski otoritasi itu datang dari bisikan maut Petruk, mantan presiden dua periode pada republik yang sama.
Maka, tidak perlu waktu lama, segera diumumkanlah susunan kabinet baru Republik Karang Kedempel yang diberi nama: “Kabinet Go-Blok Bersatu”. Media massa pun sibuk meliput. Stasiun televisi milik pemerintah maupun yang non-pemerintah sibuk meliput. Sekaligus memanggil narasumber untuk menanggapinya. Suasananya seketika jadi hiruk-pikuk tak bertepi. Khas suasana Republik Karang Kedempel yang doyan ngomong, tetapi malas bekerja. Karena frasa ngomong itu telah menjadi bagian status pekerjaan.

Tidak perlu berlama-lama, Rubrik Resonansi pun mendapatkan data nama-nama menteri baru yang telah dilantik di Istana Negara Republik Kedempel oleh Presiden Gareng, yang belakangan ini suka mengunjungi negara lain di dunia pewayangan. Seperti ke Republik Astina, dan nama negara lain. Entahlah, apa yang dicarinya. Kabarnya sih seperti sang guru Petruk kalau ke luar negeri. Pulang bawa investasi. Jumlahnya diumumkan mesti triliunan. Meskipun khalayak paham bahwa investasi yang diperolehnya itu tidak ada pengaruhnya untuk kesejahteraan warga Republik Karang Kedempel.

Baiklah, silakan disimak nama-nama menteri yang telah dilantik dan resmi mulai bekerja sebagai menteri atau Kabinet Go-Blok Bersatu Republik Karang Kedempel.

Daftar Menteri Baru Republik Karang Kedempel
Gareng berdiri di depan papan tulis, kapur di tangan, dan wajah sok serius yang justru terlihat seperti orang sedang menahan bersin.
1. Menteri Koordinator Bidang Pengalihan Isu (Menko Pansos)
* Pejabat: Petruk
* Tugas Utama: Memastikan jika ada kasus korupsi besar, rakyat langsung dialihkan perhatiannya dengan gosip artis atau sayembara mencari “Harta Karun Batara Guru” yang sebenarnya tidak ada.
* Visi: “Satu Isu Terkubur, Seribu Konten Muncul.”

2. Menteri Pertahanan dari Kenyataan (Menhan-Ky)
* Pejabat: Bagong
* Tugas Utama: Mempertahankan harga diri Presiden Gareng dari serangan kenyataan dan data statistik yang menunjukkan ekonomi lagi nyungsep.
* Senjata Andalan: Mulut pedas yang bisa bikin kritikus langsung kena mental.

3. Menteri Hukum dan Hak Asasi Koruptor (Menkum-HAK)
* Pejabat: (Lowongan Terbuka untuk Saudara Jauh Petruk)
* Tugas Utama: Memastikan penjara koruptor fasilitasnya setara hotel bintang lima, lengkap dengan ruang karaoke agar mereka tidak stres saat memikirkan cara menghabiskan uang rakyat.
* Motto: “Korupsi itu khilaf, yang penting bagi-bagi.”

4. Menteri Urusan Pidato dan Puji-Pujian (Men-Puji)
* Pejabat: Gareng (Dirangkap Sendiri)
* Tugas Utama: Menyusun naskah pidato yang isinya 100% adalah prestasi fiktif Presiden.
* Target: Minimal satu kali pidato sehari agar rakyat tidak lupa siapa yang sedang memimpin mereka menuju kehancuran yang estetik.

Reaksi Sang Sesepuh: Semar Angkat Tangan

Semar yang melihat daftar menteri itu di papan pengumuman desa hanya bisa mengelus dada (lagi dan lagi).
“Reng, ini kabinet atau grup lawak keliling?” tanya Semar dengan nada prihatin. “Masa si Bagong jadi Menteri Pertahanan dari Kenyataan? Dia itu jangankan mempertahankan negara, mempertahankan sisa makanan di piringnya saja nggak bisa kalau ada kucing lewat!”
Gareng menjawab dengan bangga, “Inilah esensi dari politik Go-Blok, Romo! Kita tempatkan orang di posisi yang mereka tidak kuasai, supaya mereka sibuk belajar dan nggak sempat korupsi… eh, atau kebalik ya?”

Petruk menimpali sambil memakai seragam menterinya yang kebesaran, “Tenang Romo, di bawah kepemimpinan kami, Karang Kedempel akan jadi pusat perhatian dunia. Bukan karena kemajuannya, tapi karena dunia penasaran kok bisa ada negara yang tetap jalan meski supirnya merem semua.”

Nasib Akhir Sang Jenderal Gembos

Rakyat yang melihat susunan menteri ini bukannya demo lagi, tapi malah bawa tustel (kamera) dan minta foto bareng. Mereka sadar, Karang Kedempel sudah bukan lagi sebuah negara, tapi sebuah Reality Show berdurasi 24 jam.
Gareng pun merasa sukses. Baginya, wibawa itu tidak penting, yang penting adalah rating. Ia tetap menjadi Jenderal Gembos, tapi setidaknya ia adalah gembos yang punya jabatan resmi dan gaji buta yang lancar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *