Banjir Informasi, Masihkah Ada Ruang Bagi Sang Pewarta?

RESONANSI PUNAKAWAN: Ilustrasi jagat pewayangan yang menggambarkan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sedang berbincang di sebuah pendopo. Dialog malam itu menyoroti pergeseran peran wartawan di era modern—dari sekadar penyampai pesan menjadi penyaring informasi (kurator) demi melawan arus hoaks, pragmatisme media, dan dominasi kecerdasan buatan.

Malam kian larut, namun di pendopo kecil itu, asap rokok klobot masih mengepul tipis. Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara jangkrik yang bersahutan di kejauhan. Semar Badranaya duduk bersandarkan tiang kayu, tatapannya menerawang jauh menembus kegelapan malam, memikirkan karut-marut dunia modern yang kian bising oleh lalu lintas kata-kata.

Di hadapannya, tiga anaknya—Gareng, Petruk, dan Bagong—duduk melingkar. Gadget di tangan mereka sesekali menyala, menampilkan notifikasi berita yang tak ada habisnya, melompat dari satu isu ke isu lain dalam hitungan detik. Sebuah realitas baru yang mendesak untuk dibincangkan.

Semar: “Gareng, Petruk, Bagong… lihatlah ke depan sana. Dunia kini seperti bah yang meluap. Kabar berseliweran bak air bah, informasi datang bertubi-tubi tanpa permisi membanjiri ruang privat manusia. Namun, mengapa di tengah lautan informasi ini, hati manusia justru makin kering akan kebenaran? Mengapa kegaduhan yang kita panen, bukannya kearifan?”

Gareng:Leres, Romo. Kulo pirsani pancen menyedihkan. Dulu, wartawan itu dihormati seperti pembawa obor di tengah gulita. Tulisan mereka ditunggu, membawa pencerahan dan arah bagi pembaca. Sekarang? Mereka seperti terseret arus deras yang tak tahu hulu hilirnya. Berita ditulis bukan lagi karena nilai pentingnya bagi publik, melainkan karena harus cepat, harus heboh, dan harus trending. Kejar tayang demi klik. Seolah-olah profesi mulia ini sudah kehabisan napas dan tidak punya masa depan lagi.”

Petruk: “Tepat sekali, Kang Gareng. Sampeyan kalau baca media daring sekarang, isinya bikin geleng-geleng kepala. Banyak tulisan yang ‘tipis’—cuma kulit luar yang dipoles judul bombastis atau clickbait. Akurasi dan kedalaman dikorbankan demi memuaskan selera algoritma mesin pencari. Kejujuran intelektual kalah telak oleh hitung-hitungan traffic. Kalau wartawan masa kini cuma terjebak menjadi ‘tukang ketik’ berita seremonial, copy-paste siaran pers, atau sekadar merangkum cuitan media sosial, ya wajar saja kalau publik mulai berpaling dan sinis. Mesin kecerdasan buatan pun bisa mengerjakan hal-hal teknis itu jauh lebih cepat dan murah.”

Bagong: Wah, kalau saya sih mikirnya simpel saja, Kang! Jangan semua disalahkan ke zaman. Kalau wartawannya sendiri cuma mau ikut-ikutan ramai tanpa mau mengasah kedalaman, ya memang tinggal tunggu waktu tamat riwayatnya. Tapi lihatlah sisi baliknya, Romo Semar. Bukankah justru di tengah situasi yang membingungkan dan penuh hoaks ini, masyarakat sebenarnya sedang menjerit butuh ‘penjernih’? Di sinilah ruang itu ada. Orang butuh mereka yang berani melakukan verifikasi ketat, yang punya nyali mengulik fakta sampai ke akar-akarnya, bukan cuma ikut membebek pada apa yang sedang viral.”

Menanggalkan Kulit Lama, Menjadi Kurator Kebenaran

Semar tersenyum tipis, sebuah binar kebanggaan tampak di matanya mendengar perdebatan anak-anaknya. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu mengangguk pelan.

Semar: “Itulah intinya, Bagong. Kamu melihat permata di balik tumpukan lumpur. Profesi wartawan itu tidak akan mati, ia hanya sedang dipaksa oleh keadaan untuk menanggalkan kulit lamanya yang sudah usang. Zaman telah bergeser. Jurnalisme tidak lagi memonopoli arus informasi karena sekarang setiap orang bisa menjadi penyiar bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, fungsi wartawan harus bermutasi: ia tidak lagi sekadar menjadi penyampai pesan atau herald yang berteriak di alun-alun, melainkan harus naik kelas menjadi kurator kebenaran.”

Semar mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya.

Semar: “Di tengah gempuran informasi sampah dan bias opini, wartawan harus bertindak sebagai penyaring yang tajam, memisahkan mana gandum dan mana sekam. Menghadirkan konteks di atas sekadar teks. Dan ingat satu hal yang paling krusial: empati, nurani, dan keberpihakan pada kemanusiaan—itulah instrumen utama jurnalisme yang tidak akan pernah bisa ditiru atau dimiliki oleh mesin secanggih apa pun di muka bumi ini.”

Harapan pada Akar Lokal dan Independensi

Gareng: “Artinya, wartawan harus berani pulang kembali ke jati dirinya yang otentik, Romo? Menjadi pewarta yang berani menyentuh akar lokal, turun ke bawah mendengarkan jeritan masyarakat pinggiran, dan menceritakan kisah-kisah kemanusiaan yang kerap luput dari radar atau sengaja tak tersentuh oleh industri media besar di ibu kota?”

Petruk: “Setuju, Kang! Di era digital ini, jurnalis independen dan jurnalisme komunitas—mereka inilah yang menjadi oase sekaligus harapan baru. Mereka bergerak lincah karena tidak lagi dipasung oleh kepentingan politik pemilik modal besar atau korporasi yang cuma haus akan angka kunjungan. Mereka menulis dengan hati, mengikat kedekatan emosional dengan pembacanya, dan menghidupkan kembali fungsi kontrol sosial yang sesungguhnya di tingkat tapak.”

Bagong: “Siap, Romo! Mulai sekarang platform boleh berubah, mau pakai tulisan di situs web pribadi, suara di podcast, atau video, yang penting isinya! Berita itu harus punya jiwa, punya dampak nyata yang menggerakkan perubahan di masyarakat, tidak cuma asal tayang lalu hilang ditelan algoritma esok hari!”

Keteguhan di Tengah Godaan Zaman

Semar berdiri, menandai akhir obrolan malam itu dengan sebuah wejangan penutup yang sarat akan makna mendalam bagi siapa saja yang masih memilih jalan sunyi sebagai seorang pewarta.

Semar: “Ingatlah dengan baik, anak-anakku. Kebenaran adalah kebutuhan pokok batiniah manusia, sama seperti pangan untuk fisik mereka. Selama peradaban manusia masih berdiri dan mereka masih mencari kebenaran ditengah kegelapan, selama itulah profesi wartawan akan tetap ada dan menempati posisi yang mulia. Namun, tantangannya kini berlipat ganda. Sang pewarta masa kini harus melatih dirinya agar jauh lebih cerdik daripada perubahan zaman yang melesat cepat, dan di saat yang sama, harus berdiri lebih teguh, kokoh bagai karang, daripada segala bentuk godaan pragmatisme dan kecepatan semu yang merusak mutu.”

Malam kian larut di Rubrik Resonansi, namun obor spiritual itu telah menyala di hati para punakawan. Di tengah bah informasi, ruang bagi sang pewarta sejati tidak pernah benar-benar menyusut; ia justru meluas bagi mereka yang memilih setia pada kebenaran, kedalaman, dan nurani.

Salam Hangat,

Ari Arief

2 thoughts on “Banjir Informasi, Masihkah Ada Ruang Bagi Sang Pewarta?

  1. Jos ….terus berjalan dan mengalir memngikuti arah arus air..arash arus air tak harus di bendung cukup di buatkan selokan agar arah atus teratah sesuai harapan….salam literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *