Geger Karang Kedempel: Menakar Cuan Batu Bara Kaltim dan Nasib IKN di PPU saat Dunia Sedang ‘Goro-Goro’

Malam itu, Pendopo Kepresidenan Karang Kedempel diselimuti asap rokok klobot yang lebih tebal dari biasanya. Gareng, sang Presiden yang baru seumur jagung menjabat, tampak sedang memelototi layar tablet vintage-nya dengan kening berlipat-lipat. Di sampingnya, Petruk, sang mantan penguasa dua periode, duduk santai sambil menyeruput kopi pahit, seolah beban negara bukan lagi urusannya, meski bayang-bayangnya masih terasa di tiap sudut istana.
“Reng, ini lho… di televisi beritanya perang melulu. Ada yang tembak-tembakan di padang pasir, ada yang adu rudal di perbatasan benua sana. Tapi kok aneh, indeks harga batu bara kita malah ‘hijau’ royo-royo?” tanya Gareng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Petruk terkekeh. “Itulah namanya politik ndelalah, Reng. Di sana orang sibuk gali parit perlindungan, di sini kita sibuk gali lubang tambang karena emas hitam kita dicari dunia. Kita ini sedang kejatuhan ‘durian runtuh’ gara-gara moncong meriam orang lain.”
Bagong, yang sedari tadi sibuk mengunyah pisang goreng, menyambar, “Durian runtuh dengkulmu, Truk! Kalau durian jatuh dari langit itu ya sakit kalau kena kepala. Ingat, harga minyak dunia juga ikut naik. Jangan-jangan untungnya buat beli solar kapal tongkang di Samarinda sama alat berat di Penajam Paser Utara (PPU) saja sudah habis!”
Batu Bara: Antara Cuan dan Ongkos Tambal Sulam
Gareng mencoba bijak. Ia teringat laporan dari para pembantunya di kabinet “Go-Blok”. Memang benar, saat gas dunia langka, batu bara Kaltim jadi primadona. Tapi, ibarat jualan es teh di tengah pasar kebakaran; laku sih laku, tapi ongkos antar jemputnya naik karena jalanan macet dan bensin mahal.
“Betul kata Bagong,” timpal Semar yang baru muncul dari balik pilar sambil mengelus perut buncitnya. “Jangan senang dulu lihat harga melambung. Kalau biaya operasional di tambang dan logistik kapal ikut bengkak, margin keuntungan itu cuma mampir lewat di depan mata, tapi nggak masuk ke kantong daerah. Kita untung di harga, tapi buntung di biaya.”
Ironi Minyak Goreng di Negeri Sawit
Diskusi makin memanas saat membahas crude palm oil (CPO). Petruk, yang dulu kenyang urusan sawit, mengingatkan bahwa dunia sekarang menoleh ke CPO kita karena pasokan minyak bunga matahari dari wilayah konflik tersendat.
“Tapi hati-hati, Reng,” bisik Petruk. “Ini ironis. Kita ini produsen sawit raksasa, tapi kalau harga global ‘panas’, emak-emak di pasar Penajam atau Balikpapan bisa ikut jerit karena harga minyak goreng ikut-ikutan naik. Kita yang punya pohonnya, tapi kita juga yang kena getah mahalnya. Logikanya kan ‘ngelu’ (pusing) itu.”
IKN: Sang Jenderal Penyeimbang
Gareng menarik napas panjang. Beruntung di tahun 2026 ini, Karang Kedempel—eh, Kaltim, punya proyek raksasa IKN. Bagi Gareng, IKN ini ibarat “Rem Pakem” agar ekonomi daerah tidak liar mengikuti goyangan geopolitik dunia yang sedang mabuk kepayang.
“Untung ada IKN ya, Romo?” tanya Gareng pada Semar.
“Ya, IKN itu jadi kepastian di tengah ketidakpastian,” jawab Semar bijak. “Saat ekspor kita terombang-ambing berita perang, sektor konstruksi dan jasa di Sepaku tetap jalan terus. Itu yang bikin ekonomi kita nggak gampang ‘masuk angin’.”
Catatan Pamungkas: Berdirilah di Kaki Sendiri
Di akhir diskusi, Semar memberikan petuah yang bikin suasana mendadak hening. Menurutnya, membangun kemakmuran hanya berdasarkan harga komoditas itu ibarat membangun rumah di atas pasir pantai Manggar; kelihatannya indah, tapi gampang ambles kalau diterjang ombak.
“Reng, hilirisasi itu harga mati. Jangan cuma jual tanah dan batu mentah. Kita harus mulai jual produk jadi. Jangan sampai kita jadi penonton yang bersorak saat harga naik, tapi langsung lesu dan ‘gembos’ saat dunia kembali damai,” tegas Semar.
Gareng mengangguk mantap. Ia sadar, kemakmuran sejati adalah kemakmuran yang dikendalikan oleh tangan sendiri, bukan yang ditentukan oleh moncong meriam atau ledakan rudal di negeri orang.
“Sudah, sekarang daripada bahas rudal, mending bahas jadwal makan malam. Perutku sudah kembung dengerin geopolitik terus,” celetuk Bagong yang sukses membubarkan suasana serius malam itu.
Tetapi, apapun itu, pesan Ki Semar Bradanaya ini patut mendapatkan perhatian. Berdirilah di kaki sendiri sudah lama mengemuka di Republik Karang Kedempel. Namun, sepertinya mereka lupa, bahwa berdikari alias berdiri di kaki sendiri itu juga adalah sesuatu yang sangat penting untuk dipraktekkan. Bukan sekadar wacana. (*)
