WFH di Bawah Beringin, Ketika Wayang Mbeling Bicara Geopolitik dan Tagihan Listrik

WFH: Gareng duduk bersila di bawah pohon beringin besar, memegang laptop modern dengan latar belakang rumah joglo. Gambar dibuatkan oleh AI.

Di bawah pohon beringin yang rindang, suasana di Republik Karang Kedempel mendadak riuh. Bukan karena harga cabai yang naik dan selalu naik. Tapi, akibat kebijakan baru yang diteken langsung oleh Gareng, Presiden Republik Karang Kedempel periode sekarang.

Isinya: mulai pekan ini, para punggawa republik di dunia pewayangan mbeling itu diperbolehkan Work From Home (WFH) setiap hari Jumat.

Republik Karang Kedempel ini memang suka membuat program kerja dengan jargon berbahasa Inggris. Alasannya memang bikin tertawa. Agar terdengar keren. Plus, masyarakat tidak serta merta mengerti artinya. Padahal, WFH alias work from home itu artinya sepele. Kerja dari rumah! Negara ini memang terkesan latah dan mengingkari tata bahasanya sendiri.

“Ini namanya revolusi kenyamanan!” seru Gareng sambil membusungkan dada, meskipun badannya tetap saja mungil. “Jumat WFH, Sabtu-Minggu libur. Dunia akan melihat bahwa di bawah kepemimpinan saya, kebahagiaan adalah panglima!” kata Gareng.

Dia memberikan alasan dibalik program kerja WFH ini. Salah satunya adalah dampak geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Sehingga berdampak terhadap ancaman stok bahan bakar minyak (BBM) yang terancam menipis. Dengan punggawa republik kerja dari rumah, menurut perhitungan Gareng, bakal menghemat pemakaian BBM nasional.

Menyimak kebijakan Gareng ini, Petruk, sang mantan presiden dua periode yang kini lebih banyak tampil sebagai pengamat politik dan sosial, tampak tersenyum simpul sambil membetulkan letak kain sarungnya. Gaya bicaranya masih sangat tertata, khas pejabat senior.

“Saya prihatin,” kata Petruk dengan nada bariton yang berwibawa. “Dulu, selama dua periode saya menjabat, Jumat itu hari ‘Krida’. Kita semua berkeringat di lapangan, lalu kembali ke meja kerja. Memang teknologi sudah maju, tapi saya khawatir, kalau Jumat jadi WFH, integritas para punggawa akan diuji oleh godaan bantal dan guling. Jangan sampai rakyat melihat kantor-kantor sepi, tapi mal-mal ramai di hari Jumat,” katanya.

WFH ini sejak diterapkan di seluruh negeri memang menjadi perbincangan hangat oleh banyak orang, termasuk para pengamat. Tidak ketinggalan pula  Bagong yang sedari tadi asyik mengunyah kacang rebus langsung menyambar, “Lho, Kang Petruk jangan skeptis begitu. WFH itu berat! Musuhnya bukan atasan yang galak, tapi bau masakan istri dari dapur. Itu butuh iman setingkat pertapa! Kalau tidak kuat, baru ketik ‘Laporan…’, eh jempol sudah pindah ke aplikasi streaming film.”

Bagong kemudian menoleh ke Gareng. “Gareng, bosku… kalau Jumat WFH, itu artinya negara menghemat listrik kantor, tapi tagihan listrik di rumah kami meledak karena AC nyala seharian. Apa ada tunjangan kuota dan token listrik khusus ‘Jumat Berkah’?”

Gareng terbatuk-batuk kecil. Pertanyaan Bagong memang selalu lebih tajam dari kritik oposisi mana pun. Gareng seringkali kalah debat sama Bagong ini. Karena Bagong lebih banyak mewakili suara-suara kawula alit, yang dalam banyak jargon suara-suara ini adalah alias suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi, entahlah, karena fakta sering membuktikan bahwa suara rakyat sering diabaikan oleh pejabat pengambil kebijakan di dunia wayang mbeling.

Di tengah perdebatan itu, Semar yang sedari tadi hanya menyimak sambil mengebulkan asap rokok klobotnya, akhirnya turut angkat bicara. Suaranya berat, penuh wibawa, namun¸seperti biasa, selalu menyejukkan.

“Anak-anakku… Masalahnya bukan pada di mana kalian duduk, tapi apa yang kalian kerjakan. Mau di kantor (WFO) atau di rumah (WFH), yang penting adalah amanah. Jangan sampai kebijakan WFH ini cuma jadi kedok untuk memperpanjang libur akhir pekan.”

Semar lalu menoleh dan melemparkan senyum bijak ke arah Gareng. “Gareng, sebagai pemimpin, pastikan sistemnya jalan. Jangan sampai rakyat yang butuh KTP di hari Jumat malah cuma ketemu pengumuman ‘Sedang WFH, Silakan Hubungi Senin’. Itu namanya mendzalimi hak publik,” kata Semar, berpesan.

Mendengar kalimat yang terdengar sangat bijak ini, Gareng mangut-mangut sambil mencatat di ponselnya. Petruk mengangguk tanda setuju dengan gaya diplomatisnya. Bagong kembali mengambil kacang rebusnya.

“Jadi, Bos Gareng,” tanya Bagong lagi, “Kalau Jumat depan aku WFH, boleh ‘kan aku ikut rapat koordinasi lewat Zoom sambil maskeran pakai lumpur sawah?”

“Itu namanya WFK, Gong! Work From Konyol!” sahut Gareng disambut tawa pecah seluruh penghuni Karang Kedempel.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *