Saat Rudal Bicara, Nurani Jadi Budeg

Gareng yang tampak tegang dengan kacamata melorot, menunjuk ke koran. Ilustrasi diolah oleh AI.

Di Pendopo Republik Karang Kedempel, suasana yang biasanya penuh gelak tawa mendadak agak tegang. Hal itu, setidaknya bagi Gareng, sang Presiden yang kakinya jinjit sebelah itu. Di hadapannya, koran pagi memampang berita utama: Koalisi AS dan Israel Kembali Meluncurkan Serangan ke Iran. Headline surat kabar yang sedang jadi perhatian dunia.

Gareng mengelus dadanya yang rata. “Gong, ini dunia makin lama makin kayak pasar malem bubar. Aturan internasional cuma jadi bungkus kacang. Main hantam, main sikat, yang penting menang gaya.”

Bagong, yang sedari tadi asyik mengupil sambil selonjoran, menyahut tanpa dosa. “Halah, Reng… sampeyan kayak baru kemarin jadi Presiden aja. Hukum internasional itu ‘kan kayak garis parkir di depan pasar. Ada buat ditaati, tapi kalau yang parkir mobilnya gede nan sangar, tukang parkirnya pun milih pura-pura tidur.”

Gareng membetulkan letak kacamatanya yang melorot. “Tapi ini serius, Gong. Pelanggaran kedaulatan itu bukan perkara sepele. Zionis ini kalau dibiarkan, lama-lama peta dunia isinya cuma garis coret-coretan mereka doang. AS juga sama, jargonnya demokrasi, tapi praktiknya ‘demok-pasti-rugi’ buat negara lain.”

Semar, sang sesepuh yang perutnya melampaui batas garis khatulistiwa, akhirnya angkat bicara setelah menyesap teh pahitnya. “Reng, dunia itu panggung sandiwara, tapi penontonnya sudah mulai bosan. Hukum internasional itu dibuat supaya manusia tidak kembali jadi binatang di hutan. Kalau yang bikin hukum malah yang paling rajin melanggar, ya jangan kaget kalau nanti ‘hutan’ itu pindah ke kota.”

 

Keadilan itu bukan soal siapa yang paling kuat suaranya, tapi siapa yang paling konsisten nuraninya. Kalau rudal sudah bicara, biasanya telinga kemanusiaan langsung budeg.” — Semar Badranaya

 

Masuknya Sang “Legenda” Karang Kedempel

Tiba-tiba, suasana berubah riuh saat Petruk masuk dengan gaya necis—meski hidungnya yang panjang itu hampir menyenggol pintu duluan. Petruk adalah mantan Presiden Karang Kedempel dua periode yang rekam jejaknya legendaris, terutama dalam hal “modifikasi kebenaran”.

Waduh, lagi bahas geopolitik ya? Santai, Reng,” kata Petruk sambil pamer gigi. “Waktu zaman saya dulu, urusan AS-Israel-Iran itu gampang. Saya janjiin damai ke sana, janjiin bantuan ke sini. Urusan janji itu ditepati atau enggak, itu ‘kan urusan nanti di akhirat. Yang penting di kamera kita kelihatan salaman!”

Bagong langsung menyemburkan kopinya. “Halah, Truk! Sampeyan itu kalau ngomong jujur sekali aja, mungkin hidungmu langsung pendek. Rakyat Karang Kedempel masih ingat janji sampeyan mau bikin jalan tol tembus ke kayangan, nyatanya cuma tembus ke gang buntu!”

Petruk tertawa lebar, sama sekali tidak tersinggung. “Itu namanya Diplomasi Fleksibel, Gong. Di politik, bohong itu cuma ‘kebenaran yang tertunda’. Sama kayak koalisi zionis itu, mereka bilang nyerang buat bela diri, padahal ya lagi nyari panggung sambil ngetes mainan baru.”

Substansi di Balik Tawa

Meski penuh celoteh, obrolan di pendopo itu menyisakan poin pahit yang nyata bagi warga Karang Kedempel

Gareng menghela napas panjang. “Jadi, menurut kalian, apa langkah Karang Kedempel sebagai negara non-blok?”

“Gampang, Reng,” sahut Bagong. “Kita kirimkan sambal terasi paling pedas se-Karang Kedempel ke meja perundingan mereka. Biar mereka ngerasain, kalau mulut sudah kepedesan, biasanya orang bakal berhenti ngomongin perang dan lebih fokus nyari air putih. Damai itu sederhana, yang ribet itu egonya.”

Semar tersenyum tipis. “Satu hal yang pasti, Reng. Sejarah tidak pernah ramah pada penindas, dan sejarah selalu punya cara unik untuk menagih janji para pembohong… termasuk yang hidungnya panjang.”

Petruk tiba-tiba pura-pura sibuk membetulkan tali sepatu, sementara Gareng kembali menatap koran, berharap dunia bisa sedikit lebih waras, setidaknya sebelum waktu makan siang tiba.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *