Jauh Sebelum iPad, Ada Dopod U1000, Menengok Kembali Kehebatan Micro-PC Saku

Kiri ke kanan HP Dopod 900, Laptop Fujitsu, HP Dopod U1000.(foto dok pribadi)
Di era ketika smartphone masih berupa Pocket PC dan laptop layar sentuh adalah barang mewah, memiliki trio perangkat dari keluarga Dopod dan Fujitsu adalah penanda status dan kecanggihan. Saya pernah menjadi pemilik bangga dari koleksi yang kini tinggal menyisakan satu: Dopod 900. Laptop Fujitsu (gambar tengah) hilang digondol maling saat baterainya sedang saya cas di rumah. Sedangkan Handphone (HP) Dopod U1ooo (gambar kanan) sudah berpindah tangan ke seorang kawan yang bermukim di Pulau Dewata, Bali. Ia memilikinya sekadar untuk dijadikan koleksi. Saya melihat ia membuat lemari khusus untuk menyimpan koleksi handphone dari berbagai merek, yang saat ini sudah sangat langka.
Setelah satu benda bernilai itu hilang digondol maling, dan satunya lagi berganti kartu tanda penduduk menjadi warga Bali, maka, saat ini, yang masih ada sama saya adalah HP Dopod 900 (gambar sebelah kiri). HP ini masih sering saya pakai untuk bekerja, namun, lebih banyak saya bawa karena untuk mengenang bahwa handphone ini pernah jaya pada zamannya.
Mari kita kenang sejenak keandalan dua handphone dan satu laptop yang kini hanya tersisa dalam memori.
Dopod U1000: Ponsel Jumbo yang Pindah Majikan ke Pulau Dewata:
Dopod U1000, atau yang juga dikenal sebagai HTC Advantage, bukanlah sekadar ponsel; ia adalah “Mini-Notebook” saku sejati. Dengan layar sentuh 5 inci yang lebar (pada masanya!), GPS bawaan, dan keyboard terpisah yang elegan, U1000 adalah mesin produktivitas premium yang berjalan di atas Windows Mobile.
Memegang Dopod U1000 terasa seperti memegang masa depan: ukurannya yang besar justru menjadi daya tarik, menjadikannya pusat perhatian di setiap rapat atau kafe. HP ini pernah saya bawa ke sejumlah gerai HP yang ada di Balikpapan. Menariknya, mereka, para pemilik gerai untuk bertanya-tanya sembari mengatakan, bahwa selama berjualan HP dengan berbagai merek mereka belum pernah melihat seluler seperti yang saya bawa itu. “Ini belinya di mana?” tanyanya.
Sayangnya, sekali lagi, kisah U1000 berakhir dengan indah, tapi tanpa saya. Perangkat legendaris ini telah pindah tangan dan kini melanjutkan hidupnya di Bali. Entah bagaimana nasibnya di sana, semoga ia tetap menjadi perangkat yang elegan di tengah hiruk pikuk Pulau Dewata. Namun, saya mengetahui, bahwa HP ini dirawat dengan baik oleh tuannya yang baru.
Fujitsu Lifebook T Series, Layar Putar yang Raib Tanpa Jejak:
Di sisi komputasi, saya memiliki Laptop Fujitsu yang canggih dengan fitur layar yang bisa dilipat dan diputar. Perangkat ini adalah definisi dari fleksibilitas modern di era awal laptop konvertibel.
Saat itu, kemampuan untuk memutar layar menjadi mode tablet atau memposisikannya untuk presentasi adalah sebuah keajaiban. Ia bukan hanya alat kerja, tetapi juga alat pamer teknologi yang efisien.
Namun, nasib laptop convertible ini sungguh tragis. Ia raib digondol maling. Hilangnya bukan hanya kerugian materi, tetapi juga hilangnya sepotong sejarah teknologi pribadi yang unik dan revolusioner. Saya sangat menyesal karena di dalamnya banyak data yang turut lenyap.
3. Dopod 900: Sang Legenda yang Tersisa:
Setelah kedua temannya pergi, yang tersisa kini adalah sang veteran sejati: Dopod 900.
Dopod 900 (atau HTC Universal) adalah Pocket PC pertama di dunia yang mendukung 3G dan memiliki keyboard QWERTY lipat penuh di dalamnya. Layarnya yang bisa diputar 180 derajat (membuatnya menjadi mode “laptop mini”) adalah fitur andalan. Dengan prosesor Intel XScale 520 MHz dan OS Windows Mobile 5.0, ia adalah ponsel kantor berjalan yang tangguh dan mewah. Saya masih seringkali membawa HP ini saat berkunjung ke sejumlah teman. Mereka mengomentari bahwa HP merek ini masih sangat tidak ketinggalan, terutama, dari sisi fungsi untuk mengetik, dan teknologinya masih cukup bagus.
Meskipun kini zaman telah berganti dengan smartphone tipis dan super cepat, Dopod 900 tetap berada di tangan saya. Ia adalah saksi bisu dari evolusi teknologi, sebuah benda koleksi yang mengingatkan pada masa kejayaan Pocket PC. Setiap sentuhan pada layarnya yang diputar seolah membawa kembali memori browsing internet dengan koneksi 3G yang terasa sangat cepat saat itu.
Tiga serangkai ini memang memiliki jalannya masing-masing. Satu berpindah tangan, satu hilang digondol maling, dan satu lagi, Dopod 900, dengan setia menemani sebagai penjaga kenangan teknologi. Ia adalah warisan berharga yang harus terus dijaga. Hingga sekarang, saya masih berminat untuk memiliki HP Dopod U1000. Dengan catatan masih berfungsi normal, harga terjangkau. Beberapa kali saya mengunjungi toko online dan melihat ada pelapak yang menjual handphone model ini. Namun, harganya masih mahal dengan kondisi yang saya lihat sudah tidak terlalu baik.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *