Republik Karang Kedempel Gempar, Presiden Mantan Juragan Bedil Lebih Takut Mantan Presiden

Pendukung
Inilah kisah tentang pasemonan itu: Republik Karang Kedempel sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, negeri yang dulunya tentram karena dipimpin oleh Petruk yang—meskipun kebijakannya kadang nyeleneh-selalu berhasil membuat warganya tertawa, kini mendadak tegang. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan presiden mereka saat ini, Gareng.
Dulu, sebelum terjun ke dunia politik, Gareng dikenal sebagai juragan bedil paling ugal-ugalan di Republik Karang Kedempel. Konon, suaranya lebih menggelegar daripada petir di musim kemarau. Dia juga dikabarkan pernah menculik aktivis saat sang mertua berkuasa jadi presiden di republik, yang kini dipimpinnya itu. Namun, begitu menduduki kursi presiden, entah kenapa, keberaniannya seperti menguap ditelan bumi. Jangankan membentak bawahannya, untuk menatap mata mantan presiden Petruk saja, lututnya mendadak lemas seperti dodol basi.
Padahal, Petruk sendiri sudah dua periode lengser dari jabatannya. Anehnya, Gareng yang seharusnya memegang kendali pemerintahan, justru terlihat seperti “abdi dalem” yang setia menunggui perintah sang mantan. Para menteri yang seharusnya fokus bekerja untuk rakyat, malah lebih sering terlihat sowan ke kediaman Petruk. Bukan untuk meminta nasihat kenegaraan, melainkan lebih mirip melaporkan perkembangan terkini, layaknya asisten pribadi yang takut ketinggalan informasi penting dari bosnya.
Kegaduhan semakin menjadi-jadi ketika negara tetangga mulai mencurigai keabsahan sertifikat tanah milik Petruk. Isunya liar, menyebutkan ada praktik “kongkalikong” di masa lalu. Alih-alih membela negaranya atau minimal memberikan pernyataan yang menenangkan, Presiden Gareng justru memilih bungkam seribu bahasa. Ia lebih sibuk memastikan kopi kesukaan tuan Petruk selalu tersedia dan anget.
Sontak, rakyat Karang Kedempel menjadi bingung. Mereka merasa memiliki dua presiden, namun keduanya sama-sama tidak memberikan kepastian. “Ini negara kok kayak punya dua matahari kembar ya? Tapi anehnya, sinarnya kok sama-sama redup,” celetuk seorang warga sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Bahkan, beberapa tokoh masyarakat mulai berseloroh, “Dulu Gareng berani pegang bedil, kok sekarang pegang keputusan negara malah gemetaran? Jangan-jangan, dulu bedilnya juga punya tuan Petruk!”
Situasi semakin runyam ketika para pengamat politik Karang Kedempel mencoba menganalisis fenomena ini. Ada yang bilang Gareng merasa berhutang budi pada Petruk yang dulu “menemukannya” di sebuah warung kopi pinggir jalan. Ada pula yang menduga, Petruk memiliki “kartu truf” rahasia yang membuat Gareng tak berkutik.
Yang jelas, Republik Karang Kedempel kini sedang memasuki babak baru yang penuh kejanggalan. Presiden yang seharusnya gagah perkasa, malah lebih patuh pada mantan presiden yang sedang diterpa isu miring. Rakyat hanya bisa berharap, semoga saja di balik kepatuhan Gareng ini, tersimpan sebuah rencana besar yang akan menyelamatkan Karang Kedempel dari kegaduhan yang semakin menjadi-jadi. Atau, mungkin, mereka hanya perlu bersiap-siap mencari matahari baru yang sinarnya lebih terang dan menghangatkan.
Bagaimana menurut Anda? Ada komentar?
(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *