Seri 6: Republik Karang Kedempel,Turun Tangan Dewa dan Akhir Sang Jenderal, Diberi Pilihan A-B

Akhirnya, kesabaran para dewa di Kahyangan mencapai batasnya. Batara Narada, yang baru saja pulang ngopi dari Sungai Gangga, kaget setengah mati melihat sinyal Wi-Fi di Karang Kedempel penuh dengan konten “Go-Blok” yang viral.
Turunlah ia ke bumi dengan menunggangi awan mendung. Bukan karena sakti, tetapi karena suasana hati yang sedang gelap.
Sidat (Sidang Darurat) Kahyangan: Narada vs Kabinet Go-Blok
Batara Narada mendarat tepat di depan pendopo, saat Gareng sedang asyik mematut diri di depan cermin sambil mencoba seragam barunya yang penuh bintang (bintang kejora, bintang film, sampai bintang tujuh).
“Heh, Gareng! Ini negara atau sirkus keliling?!” teriak Narada sambil mengibas-ngibaskan asbak kayunya.
Pembelaan Sang Jenderal Gembos
Gareng kaget sampai kacamatanya miring. “Eh, Pukulun Narada! Selamat datang di markas besar politik Go-Blok! Mau daftar jadi menteri urusan per-awan-an?” sambutnya.
Batara Narada melotot. “Reng, aku dengar kamu mau keluar dari tatanan dunia? Kamu mau bikin Karang Kedempel jadi tertawaan sejagat raya? Lihat itu koruptor malah kamu kasih fasilitas spa, sementara rakyatmu cuma bisa makan janji yang sudah kedaluwarsa!”
Petruk muncul dari balik pilar sambil membawa proposal. “Pukulun, jangan emosi. Ini semua inovasi. Guru saya dulu—ya saya sendiri—mengajarkan bahwa pemimpin itu harus punya ciri khas. Kalau pemimpin lain punya wibawa, Gareng punya… ya, gembos-nya itu ciri khasnya!”
Interupsi Bagong: Realita Pahit
Bagong yang menjabat Menteri Pertahanan dari Kenyataan malah tertawa terbahak-bahak. “Pukulun, jangan dengerin si Petruk. Dia itu otaknya cuma isinya gimana cara korupsi waktu dan korupsi logika. Si Gareng ini cuma korban kurikulum ‘Pengibul’ tingkat lanjut.”
Semar keluar dari kamar sambil membawa handuk, baru selesai mandi (karena di Karang Kedempel, hanya Semar yang masih punya pikiran jernih). “Pukulun, tolonglah. Cabut saja jabatan mereka. Saya capek liat anak-anak saya ini. Yang satu pengibul, yang satu gembos, yang satu tukang protes tapi doyan makan.”
Putusan Sang Dewa: “Re-Boot” Karang Kedempel
Batara Narada menghela napas panjang. Ia mengeluarkan tongkat saktinya.
“Oke, karena kalian sudah bikin politik Go-Blok ini mendunia, saya beri dua pilihan buat Gareng si Jenderal Gembos,” ujar Narada tegas.
* Pilihan A: Tangkap semua koruptor sekarang juga, sita hartanya buat bayar utang negara, dan berhenti pidato memuji diri sendiri selama 100 tahun.
* Pilihan B: Saya ubah kalian semua jadi patung taman di alun-alun supaya rakyat punya tempat buat nyender kalau capek nungguin janji pemerintah.
Gareng yang Galau
Gareng menoleh ke Petruk. Petruk menggeleng. “Aduh Reng, kalau nggak boleh pidato puji diri sendiri, mending jadi patung aja. Setidaknya patung nggak perlu mikir bayar cicilan istana.”
Gareng menghela napas. Ia menatap rakyatnya yang mulai mendekat dengan tatapan menagih janji. “Pukulun… sepertinya saya lebih cocok jadi rakyat biasa lagi. Jadi Presiden itu berat, apalagi kalau gurunya macam Petruk begini.”
Epilog: Kembali ke Setelan Pabrik
Akhirnya, Karang Kedempel kembali tenang. Gareng turun takhta dengan sukarela (daripada digembosi beneran sama Batara Narada). Ia kembali ke pasar jualan kerupuk, tapi anehnya, jualannya laku keras karena orang-orang kangen dengerin dia pidato jualan kerupuk yang isinya memuji kegurihan kerupuknya sendiri setinggi langit.
Petruk? Dia tetap jadi pengibul profesional, tapi sekarang beralih jadi influencer politik dengan jutaan pengikut.
Bagong? Dia kembali jadi pengamat jalanan yang tetap kritis, terutama kalau pembagian bantuan sosial telat sampai ke piringnya.
Dan Semar? Ia kembali duduk di bawah pohon beringin, mengamati anak-anaknya sambil berbisik, “Negara itu rusak bukan karena nggak ada orang pintar, tapi karena orang pintarnya diajari ‘Go-Blok’ sama yang suka ngibul.
Hehehehe…
(*)
