Sang Pamomong
Cara Mengubah Beban Hidup Menjadi Ringan Selembut Kapas
Banyak orang merindukan untuk mencicipi manisnya madu. Itu, seperti saya juga. Karena madu juga adalah jamu, yang kata tetua-tetua dulu minuman madu adalah racik sewu (racik seribu). Tetapi, orang jadi mendadak amnesia bahwa madu itu dijaga oleh ribuan lebah yang siap menyengat. Dalam hidup ini, kita sering kali ingin menjadi konsumen berkah, namun mendadak ingin […]
“Engkau Mau Pulang ke Mana?” – Sebuah Tanya yang Mengubah Cara Kita Beragama
Dunia hanyalah sebuah pasrawungan, ruang singgah sekaligus perjalanan panjang yang melelahkan. Di sepanjang jalan itu, setiap musafir, seperti kita ini, sesungguhnya hanya merindukan satu muara di ujung pengembaraannya, yaitu, keselamatan. Tidak ada lagi, hanya kecuali itu saja. Namun, sering kali kita terjebak dalam labirin diskusi teologis yang rumit. Sibuk mendebatkan tentang definisi selamat ini, sehingga […]
Rahasia di Balik Genggaman Tangan Sang Bayi, Membaca 99 Nama di Telapak Tangan
Pernahkah sahabat memerhatikan jemari seorang bayi yang baru saja menghirup udara dunia? Mereka lahir dengan tangan yang mengepal erat (ngepel, bahasa Jawa), seolah-olah sedang menyembunyikan pusaka yang tidak boleh lepas. Seorang guru mengaji pernah berbisik pelan kepada saya sambil menatap dalam-dalam kepalan tangan cucunya, “Tahukah engkau apa yang sedang digenggamnya begitu kuat?” Pertanyaan itu sederhana, […]
Menjaga Berlian di Telapak Tangan, Seni Menghargai Ketulusan
Dalam perjalanan hidup yang kian bising dan transaksional, seperti sekarang ini, kita kerap kali terjebak pada perlombaan mencari “yang lebih”. Misalnya, lebih baru, lebih menarik, atau lebih menguntungkan. Namun, di tengah hiruk-pukuk itu, kita seringkali melupakan satu hukum alam yang absolut. Apakah itu? Bahwa, melukai jiwa-jiwa yang tulus adalah cara paling efektif untuk menghancurkan diri […]
Pikiran Biner: Belajar Menunggu “Benar” di Balik “Salah”, Duh Sulitnya!
Kalimat itu masih terngiang jelas saja. Meski sudah berlalu puluhan tahun silam. Sebuah wejangan sederhana dari almarhum Mbah Sagimo, guru tarekat Naqsabandiah yang hidupnya adalah perwujudan dari ketenangan. Ia tinggal di sebuah pemukiman transmigrasi era 1979-an di Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim. Ia kerapkali melontarkan petuah dengan kalimat pendek, namun, pembahasannya […]
