Mau Tahu Beda Negarawan dan Politisi? Simak Percakapan Punakawan Karang Kedempel Ini!

Punakawan Republik Karang Kedempel. Foto milik RRI.

Suasana di balai pertemuan Republik Karang Kedempel sore itu mendadak gerah, padahal es dawet di depan Bagong masih penuh es batu. Persoalannya sepele tapi bikin mulas. Urusan selembar kertas bernama ijazah milik Kang Petruk, mantan presiden dua periode yang baru saja turun takhta itu, belum rampung juga hingga kini.

Gareng, yang sekarang menjabat sebagai Presiden Republik Karang Kedempel periode anyar, tampak garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Di hadapannya, Bagong sudah mulai “kumat” vokalitasnya.”Reng, sampeyan ini ‘kan penerusnya. Coba tanya ke Kang Petruk, itu ijazah aslinya disimpan di mana? Di lemari besi, di bawah kasur, atau jangan-jangan masih dipinjam tukang fotokopi buat ganjal meja?” seloroh Bagong sambil menyedot dawetnya kencang-kencang.

Gareng berdehem, mencoba berwibawa meski hidungnya yang panjang sedikit kembang kempis. “Gong, politik itu seni mengelola ketidakpastian. Kalau semua sudah pasti, ya tidak seru lagi jadi bahan rasan-rasan di grup WhatsApp warga. Kadang, membiarkan teka-teki tetap menggantung itu adalah bagian dari strategi menjaga stabilitas perasaan.”

Lho, ini bukan soal seru tidak seru, Reng!” potong Bagong. “Publik itu cuma minta satu: Tunjukkan! Beres. Kalau Kang Petruk itu negarawan, dia bakal mengalah, panggil wartawan, bentangkan itu kertas di bawah sinar matahari. Selesai perkara. Tapi kalau diputar-putar terus sampai jalurnya mirip labirin, ya orang jadi curiga. Apa jangan-jangan Kang Petruk ini memang penganut aliran ‘Ilmu Ghaib’? Ijazahnya ada, tapi cuma orang-orang beriman dan sealiran saja yang bisa melihat?”

Antara Politisi dan Negarawan

Petruk, yang kebetulan lewat sambil membawa pancingan, hanya tersenyum mesem. Gaya khasnya: santai, cengengesan, tapi sulit ditebak. Ia tidak membantah, tidak juga pamer. Ia seolah sengaja membiarkan isu ini tetap “hangat” seperti gorengan di sore hari. Baginya, riuh rendah ini mungkin dianggap sebagai hiburan purnatugas yang lebih asyik daripada main golf.

“Gong,” sela Semar yang sedari tadi hanya menyimak sambil mengebulkan asap pipanya. “Kamu harus paham bedanya Politisi dan Negarawan. Politisi itu suka ‘merawat’ masalah supaya tetap punya nilai tawar. Selama ijazah itu tidak muncul, selama itu pula Kang Petruk jadi bahan pembicaraan. Di dunia politik, dilupakan itu lebih sakit daripada dihujat. Selama masih digunjingkan, artinya dia masih dianggap ada dan sakti.”

Semar melanjutkan dengan nada lebih berat namun tetap adem. “Tapi memang benar kata Bagong. Seorang Negarawan itu berani memotong ego demi ketenangan rakyatnya. Negarawan itu ibarat samudera, luas dan mampu menampung segala jenis sampah tuduhan dengan cara memberikan bukti yang jernih. Kalau cuma urusan selembar kertas saja dibikin jadi drama kolosal tujuh musim, ya wajar kalau warga di pasar-pasar mulai bertanya-tanya: ini sedang berpolitik untuk bangsa atau sedang sibuk menyembunyikan arsip masa lalu?”

Manunggal dalam Jiwa

Bagong tertawa terbahak-bahak sampai tersedak biji dawet. “Jangan-jangan benar dugaan saya, Mo. Ijazahnya itu bukan hilang atau tertinggal di laci sekolah, tapi saking saktinya Kang Petruk, ijazah itu sudah manunggal dalam jiwa, sudah jadi energi kinetik, jadi tidak perlu lagi wujud fisik yang bisa diraba tangan manusia biasa!”

Gareng hanya bisa menghela napas panjang. Sebagai presiden baru, ia terjepit di antara warisan drama masa lalu yang belum tuntas dan tuntutan transparansi masa kini yang semakin beringas. Ia sadar, beban sejarah sering kali lebih berat daripada beban kerja harian.

“Sudahlah,” pungkas Gareng sambil bangkit dari duduknya. “Mari kita doakan saja semoga Kang Petruk segera dapat ‘hidayah’ untuk mampir ke toko alat tulis, beli pigura yang paling mengkilap, lalu pasang itu ijazah di alun-alun Karang Kedempel. Biar semua mata memandang, biar semua mulut bungkam. Supaya kita bisa segera pindah bab dan membahas hal lain yang lebih berbobot untuk perut rakyat, misalnya… kapan harga beras dan minyak goreng turun ke level yang masuk akal?

Semar tersenyum tipis melihat anak-anaknya berdebat. Baginya, ijazah sejati seorang pemimpin bukanlah yang tertulis di atas kertas bersegel, melainkan yang terukir di hati rakyatnya melalui kebijakan yang adil. Namun di Republik Karang Kedempel yang penuh intrik ini, kebenaran kadang memang seperti ijazah Kang Petruk: semua orang yakin itu ada di suatu tempat, tapi entah mengapa, menunjukkannya ke depan publik saja butuh waktu yang lebih lama daripada masa jabatan dua periode penuh.

Selembar kertas telah menjadi monumen keras kepala, sementara rakyat hanya bisa menonton drama dari pinggir jalan sambil memegang piring yang isinya kian menipis. Republik Karang Kedempel memang tak pernah kehabisan cerita, terutama cerita tentang hal-hal yang seharusnya sederhana namun dipersulit demi sebuah nama bernama “gengsi politik”. (*)

🤣😂😒Baca Juga:https://ariarief.com/ijazah-selembar-kertas-kebohongan-seumur-hidup-sentilan-semar-untuk-petruk/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *