Kisah Presiden Gareng yang Terjebak BoP: Benar-benar oleng Parah!

Malam itu, Pendapa Karang Kedempel riuh bukan oleh suara gamelan seperti yang terjadi pada hari-hari biasanya, melainkan oleh suara Gareng—Presiden baru kita yang semangatnya lebih membara dari kompor tukang martabak—yang sedang sibuk membolak-balik peta dunia. Di sampingnya, Petruk, sang mantan presiden dua periode, duduk santai sambil menyeruput teh tubruk, sesekali membetulkan letak sarungnya yang melorot. Keduanya ini terlibat dialog yang cukup gayeng bertemakan geopolitik Timur Tengah yang saat ini kian meletup itu.
Gareng: (Sambil menunjuk peta) “Truk, dunia ini sedang tidak baik-baik saja! Israel-AS sama Iran itu kalau dibiarkan bisa bikin kiamat kecil. Saya harus turun tangan. Saya mau jadi juru damai! Karang Kedempel harus jadi mercusuar dunia!”
Petruk: (Tersenyum simpul ala pejabat purna tugas) “Walah, Reng… Reng. Sampeyan itu mau jadi juru damai apa mau jadi wasit tinju? Ingat lho, wasit itu kalau salah semprit malah bonyok dikeroyok kedua belah pihak.”
Bagong: (Tiba-tiba muncul dari balik pilar sambil mengunyah singkong rebus) “Halah! Paling-paling cuma pengen dapet selfie sama Donald Trump buat dipajang di ruang tamu. Lagian, Reng, itu duit triliunan kok malah disetor ke ‘Bank of Palak’ (BoP)-nya si Trump? Itu duit beneran apa duit monopoli?”
Gareng: (Berdiri dengan gagah) “Gong, kamu nggak paham geopolitik! Itu investasi strategis! Kita harus menanam budi di negeri Paman Sam supaya posisi kita kuat. Namanya juga diplomasi ‘Cakar Bebek’, biar sedikit becek yang penting nancep!”
Bagong: “Cakar bebek apanya? Itu namanya ‘Cakar Dompet’! Di luar negeri kita gaya-gayaan jadi pahlawan kesiangan, tapi di dapur Karang Kedempel, emak-emak lagi demo gara-gara harga cabai lebih pedas dari omongan tetangga. Beras mahal, minyak goreng langka, lha kok malah sibuk ngurusin orang berantem di padang pasir?”
Semar: (Ehem… Ehem…)
Suara dehem sang ayah seketika membungkam perdebatan. Semar berjalan perlahan, perutnya yang buncit bergoyang seirama dengan langkahnya yang bijak.
Semar: “Le… Gareng. Semangatmu itu bagus. Pengen bikin nama Karang Kedempel harum di jagat raya itu mulia. Tapi ingat pepatah kuno: ‘Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan dicari kutunya.'”
Gareng: “Maksudnya, Romo?”
Semar: “Maksudnya, sebelum kamu sibuk misahin orang berantem di luar negeri, coba liat itu rakyatmu di pasar. Dompet mereka sudah lebih tipis dari tisu dibagi dua. Ekonomi kita ini lagi kocar-kacir, ibarat dokar yang rodanya kotak semua. Kalau kamu sibuk bagi-bagi uang ke luar negeri demi gengsi, nanti rakyatmu makan apa? Makan gengsi goreng?”
Petruk: “Bener itu, Reng. Dulu saya dua periode fokusnya ‘kerja, kerja, kerja’—walau kadang yang kerja cuma menterinya, sayanya bagian gunting pita. Tapi ya minimal rakyat ngerasa ada yang diurus di rumah sendiri.”
Bagong: “Nah! Mending itu triliunan buat beli pupuk kek, buat subsidi sekolah kek, atau buat bayarin cicilan pinjol rakyat yang sudah sampai ke ubun-ubun. Masa presidennya mau jadi juru damai dunia, tapi rakyatnya perang sama penagih utang tiap hari?”
Gareng: (Mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal) “Jadi, saya harus gimana dong? Masak saya batalin kiriman ke Trump? Nanti dia ngetwit yang aneh-aneh tentang saya gimana?”
Bagong: “Gampang! Bilang aja ke Trump: ‘Sorry Don, duitnya kepakai buat beli beras sama bayar token listrik rakyat.’ Paling dia cuma melongo.”
Semar: (Tersenyum bijak) “Pemimpin itu seperti payung, Le. Tugas utamanya melindungi yang ada di bawahnya dulu dari hujan. Kalau payungnya ditaruh di luar pagar buat jagain rumah orang lain, ya yang punya rumah malah basah kuyup kena parno.”
Gareng terdiam. Peta dunia di depannya perlahan ia lipat. Di luar, suara jangkrik Karang Kedempel terdengar seperti orkestra yang menagih janji kesejahteraan, bukan janji perdamaian di tanah yang jaraknya ribuan purnama dari sana.(*)
(Bagi saya, kata-kata Semar dengan tersenyum bijak mengenai pemimpin yang dibilang seperti payung itu, sungguh adalah kata-kata bermakna yang perlu diimplementasikan oleh siapapun yang kini jadi pemimpin. Saya sendiri sangat terpesona dengan sosok Semar ini. Kala usia anak-anak, saya sudah menonton pertunjukan wayang kulit jekdong (karena saya tinggal di Jombang, Jatim, yang jadi ciri khas pertunjukan wayang kulitnya adalah gagrak ini) selalu mendapatkan kesan, bahwa sosok yang digambarkan berperut buncit ini adalah sosok pamomong. Khususnya untuk Pandawa. Ia bukan hanya punakawan biasa, tetapi, Semar adalah sosok dewa yang menyamar. Itu sebabnya, ia seringkali menjadi jujugan para bangsawan Amarta untuk meminta nasihat bernasnya Semar alias Ki Bodronoyo itu).
