Seri 1: Republik Karang Kedempel, Lahirnya Politik Go-Blok

Diplomasi dari non-blok ke go-blok

Tentu, mari kita intip sedikit hiruk-pikuk di Pendopo Republik Karang Kedempel. Sebuah negeri yang katanya “gemah ripah loh jinawi,” tapi lebih sering “gemah ripah lohkok begini?”

Di sebuah sore yang gerah, Presiden Gareng tampak duduk termenung di kursi kepresidenan yang ukurannya agak terlalu besar untuk kakinya yang pincang itu. Sejak dilantik menjadi Presiden Republik Karang Kedempel, ia merasa beban dunia ada di pundaknya. Terutama beban untuk terlihat pintar di depan kamera.

Biasanya, ia ditemani oleh trio maut: Semar, Bagong, dan Petruk. Tapi hari ini, pendopo sepi. Ketiganya sedang “dinas luar” memenuhi undangan Batara Narada. Konon, mereka sedang asyik menyeruput kopi di pinggiran Sungai Gangga, India, sambil berdiskusi apakah air suci di sana bisa melunturkan dosa-dosa politik para pejabat Karang Kedempel.

Warisan Sang Guru Pengibul

Tanpa pengawasan Semar, Gareng merasa bebas menentukan arah. Ia teringat petuah gurunya, sang mantan presiden dua periode, Petruk.

Petruk, yang dikenal sebagai pengibul kelas berat, sukses memimpin Karang Kedempel selama sepuluh tahun dengan strategi “Yang penting yakin, urusan bener belakangan.” Di bawah asuhan Petruk, negeri ini memang berubah drastis—dari yang tadinya rusak, menjadi sangat rusak dengan estetik. Kini, Gareng siap melanjutkan estafet kerusakan tersebut.

“Reng, politik itu soal istilah. Kalau rakyat nggak paham, berarti kamu hebat,” bisik suara Petruk yang masih terngiang di telinga Gareng.

Dari Non-Blok Menjadi Go-Blok

Terinspirasi dari selebaran yang beredar di pasar-pasar gaib, Gareng pun memutuskan sebuah kebijakan luar negeri yang revolusioner.

Selama ini, Karang Kedempel bangga dengan posisi Non-Blok (tidak memihak manapun). Namun, Gareng merasa istilah itu sudah kuno dan kurang “kekinian”. Dengan sekali gebrak meja (yang membuatnya mengaduh karena tangannya sakit), ia mengumumkan:

“Mulai hari ini, kita tidak lagi Non-Blok! Kita resmi menganut politik Go-Blok!”

Sekretaris negara yang mendengar itu langsung tersedak. “Maaf Gusti Presiden, maksudnya Global-Block?”

“Bukan! Go-Blok! Pokoknya kita blokir semua yang masuk akal, dan kita jalankan semua yang bikin orang geleng-geleng kepala. Tangkap koruptor? Nanti dulu, saya mau pidato memuji diri sendiri dulu di depan cermin. Kan ini musimnya tampil, bukan musim kampanye lagi, jadi bebas dong!” seru Gareng dengan wibawa yang dipaksakan.

Menanti Jenderal Gembos

Gareng tidak sadar, di luar sana rakyat mulai berbisik. Jika ia hanya sibuk berpidato tanpa aksi nyata—terutama soal memberantas tikus-tikus berdasi yang sudah kenyang memakan tiang pendopo—ia hanya akan diingat sebagai Jenderal Gembos. Sosok yang tampak gahar dari luar, tapi kalau ditekan sedikit langsung kempes tak berdaya.

Sementara itu, di tepi Sungai Gangga, Petruk hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat berita di HP-nya.

Wah, muridku memang paten. Karang Kedempel beneran jadi Go-Blok di tangannya,” ujar Petruk sambil menyulut rokok.

Semar hanya mengelus dada yang selebar lapangan bola itu. “Truk, Truk… kamu ajari dia naik panggung, tapi lupa ngajari cara turun dengan terhormat.”

Bakal ada beberapa seri lanjutan tentang lakon ini, dan bisa terus diikuti pada Rubrik Resonansi ini. Semoga Anda terhibur dan mendapatkan hikmah yang tersembunyi dari narasi yang sengaja ditulis ini, hehehe…

(*)

4 thoughts on “Seri 1: Republik Karang Kedempel, Lahirnya Politik Go-Blok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *