Ijazah ‘Sakti’ Petruk, Ada Suaranya, Tak Ada Wujudnya

Suasana persidangan di Pengadilan Negeri Karang Kedempel.

Riuh rendah melanda pertapaan di Republik Karang Kedempel, sebuah negara yang hanya ada dalam pewayangan. Wayang mbeling. Kabar angin yang semula hanya serupa kepulan asap dapur saja, kini membakar jagat raya. Panasnya poll. Persoalannya bukan tentang gagal panen atau serangan buta Cakil yang kerap kali mengganggu penduduk desa, melainkan tentang selembar kertas bertuliskan huruf Jawa kuno: Ijazah Sekolah Tinggi Kedirgantaraan Awan-Awan milik mantan presiden di republik itu, Petruk.

Bahkan, yang lebih mengherankan, persoalan selembar kertas ini telah memakan waktu berbulan-bulan untuk sekadar pembuktiannya. Persoalan ini pun kini telah memasuki tahap persidangan yang gegap gempita di Republik Endonesia itu, eh, Republik Karang Kedempel. Hampir tiap hari persoalan ini mengemuka di banyak stasiun televisi, media sosial, bahkan sampai dibahas di tingkat grup-grup WhatsApp (WA) juga.

Hari ini, tampak di balairung Pengadilan Negeri Karang Kedempel, suasana tegang. Hakim setingkat Dewa yang biasanya tenang, kini sibuk mengelap keringat. Entah apa yang sedang dikhawatirkannya. Hanya hakim setingkat dewa itu yang tahu.

“Gareng,” bisik Bagong di pojok ruangan. “Kenapa si Kakang Petruk itu mukanya pucat seperti habis makan nangka busuk?”

Gareng menjawab sambil membetulkan matanya yang juling, “Bukan pucat, Gong. Dia lagi meditasi tingkat tinggi supaya kertas yang ‘katanya’ ada itu tetiba jatuh dari langit.”

Lalu, masuklah para penggugat. Mereka menuntut satu hal sederhana: Tunjukkan aslinya! Bukan fotokopi yang diburamkan, bukan pula surat keterangan hilang dari kantor polisi hutan.

“Wahai Petruk yang hidungnya melampaui logika,” ujar pengacara penggugat dengan nada satire. “Rakyat hanya ingin melihat serat kayu dari kertas ijazahmu. Benarkah itu ditulis saat kamu sekolah di Negeri Atas Angin, ataukah itu hanya coretan kapur di dinding pasar?”

Petruk, yang duduk di kursi pesakitan dengan gaya tetap sok gagah, hanya tersenyum kecut. Ia menoleh ke arah pengacaranya yang tampak lebih sibuk mengatur posisi blangkon daripada menyiapkan bukti.

“Yang Mulia Hakim,” sahut pengacara Petruk. “Ijazah itu bersifat gaib. Seperti cinta, ia harus diyakini tanpa perlu dilihat. Lagipula, aslinya sedang dipinjam oleh Batara Guru untuk dijadikan jimat tolak bala. Jadi, mohon maklum jika yang kami bawa ke pengadilan ini hanya ‘niat’ untuk menunjukkan saja.”

Gong dipukul. Ruangan riuh. Pengunjung sidang pun heboh.

Lho! Ini pengadilan atau ketoprak humor?” teriak Bagong dari kursi penonton. “Masa ijazah disamakan dengan hantu? Ada suaranya, ada ceritanya, tapi tidak pernah ada wujudnya kalau disenter!”

Hakim mengetuk palu berkali-kali. “Diam! Kita sedang membahas legalitas, bukan membahas mistis!”

Namun, hingga sidang berakhir, hingga matahari terbenam di ufuk barat Republik Karang Kedempel, tas kulit milik Petruk tetap terkunci rapat. Petruk bersikeras bahwa ijazahnya asli, se-asli janji-janji politik saat kampanye pemilihan dulu. Namun, setiap kali diminta mengeluarkan bukti fisik ke meja hijau, ada saja alasannya: tertinggal di laci lemari yang kuncinya dibawa tikus, atau sedang dilaminating oleh bidadari di kahyangan.

Rakyat Republik Karang Kedempel pulang dengan tanda tanya yang makin panjang. Mereka sadar, di negeri ini, selembar kertas bisa lebih sakti dari pusaka Jamur Kalimasada. Sebab, meski wujudnya tak pernah tampak di pengadilan, ia tetap bisa mendudukkan seseorang di kursi kekuasaan. Bahkan, selama dua periode pula.

“Gong,” tanya Gareng saat jalan pulang. “Kenapa aslinya nggak dikasih lihat saja sih supaya beres?”

Bagong tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya berguncang. “Reng, Reng… Kalau aslinya diperlihatkan, nanti sandiwaranya selesai. Penonton kecewa kalau rahasia sulapnya terbongkar di tengah jalan!”

Di sini saya jadi ingat Gareng. Jadi ingin Baca Juga: ariarief.com/gareng-terjebak-bop-benar-benar-oleng-parah

Akhirnya, di bawah rembulan yang mulai naik di cakrawala Republik Karang Kedempel, rakyat hanya bisa mengelus dada. Mereka paham bahwa dalam panggung sandiwara ini, kebenaran tidak lagi dicari lewat bukti otentik, melainkan lewat seberapa kuat seseorang bisa bertahan dalam teka-teki. Ijazah itu tetap menjadi ‘pusaka’ yang paling misterius: dipuja karena kedudukannya, namun dijaga ketat agar tidak pernah disentuh kenyataan. Sebab, jika kotak pandora itu terbuka, mungkin bukan hanya ijazahnya yang kosong, tapi juga seluruh narasi agung yang selama ini dibangun di atas fondasi yang rapuh.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *