Seri 3: Republik Karang Kedempel, Demonstrasi Cermin dan Rakyat yang Jengah

Rakyat sibuk demo dan penggede Republik Karang Kedempel sibuk obrolan…

Maka terjadilah, rakyat Republik Karang Kedempel yang sudah kenyang makan janji dan haus akan aksi, akhirnya mencapai titik didih sedidih didihnya. Tapi karena ini adalah rakyat didikan Semar, mereka tidak demo pakai lempar batu. Mereka demo pakai logika yang dibalik-balik, persis kebijakan Presiden Gareng.

Pagi itu, alun-alun Karang Kedempel dipenuhi ribuan warga. Namun, ada yang aneh. Tidak ada teriakan orasi. Tidak ada toa yang memekakkan telinga. Semua orang hanya berdiri mematung sambil memegang cermin kecil yang diarahkan ke wajah mereka masing-masing.

Di tengah kerumunan, ada spanduk raksasa bertuliskan:

“KAMI SEDANG LATIHAN JADI PRESIDEN: SIBUK MEMUJI DIRI SENDIRI DI DEPAN CERMIN!”

Gareng yang Bingung di Balkon

Gareng, yang baru saja selesai memakai bedak agar tampak bersinar saat pidato nanti, melongok dari balkon istana. Ia bingung melihat rakyatnya diam seribu bahasa.

“Truk! Romo! Ini rakyat kita kenapa? Kok mereka nggak teriak-teriak minta turunkan harga bensin atau tangkap koruptor? Apa mereka sudah terhipnotis sama kebijakan Go-Blok saya?” tanya Gareng penuh harap.

Petruk yang sedang asyik menghitung sisa uang saku dari India, ikut melongok. “Wah, Reng! Itu namanya metode ‘Mirroring’. Mereka sedang meniru gayamu. Kalau kamu asyik memuji diri sendiri, mereka juga mau coba. Ternyata memuji diri sendiri itu lebih kenyang daripada makan nasi aking, ya?”

Interupsi Sang Bagong

Bagong muncul sambil membawa spanduk tandingan yang ia pinjam dari kerumunan. Isinya lebih pedas: “STOP JADI JENDERAL GEMBOS! BAN KAMI BOCOR KARENA JALAN RUSAK, TAPI PIDATOMU TERLALU LICIN!”

“Reng,” kata Bagong sambil menunjuk ke arah koruptor yang malah asyik jualan merchandise ‘Go-Blok’ di pinggir demo. “Lihat tuh, koruptor bukan dipenjara malah buka lapak. Kamu bilang ini bukan musim kampanye, tapi gaya bicaramu kayak lagi jualan obat kuat di pasar malem. Isinya janji semua, tapi hasilnya loyo!”

Diplomasi “Gangga” ala Semar

Semar akhirnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya mengamati lewat batinnya yang suci (dan sedikit keroncongan).

“Gareng, anakku yang paling ‘kreatif’ sedunia… Dulu si Petruk memang merusak tatanan dengan banyolan politiknya selama dua periode. Tapi kamu? Kamu ini puncaknya. Kamu mengubah negara ini jadi panggung komedi tunggal di mana penontonnya dilarang tertawa.”

Semar melanjutkan, “Air Sungai Gangga yang saya lihat kemarin itu mengalir, Reng. Membersihkan kotoran. Sedangkan kebijakanmu itu kayak air comberan yang mampet; bau, diam di tempat, tapi kamu bilang itu parfum internasional.”

Gareng Mulai “Gembos”

Melihat rakyat yang mulai membawa poster bergambar ban kempes bertuliskan “PRESIDEN GEMBOS”, nyali Gareng mulai ciut. Wibawa yang ia bangun pakai bedak dan teks pidato mulai luntur kena keringat dingin.

“Terus saya harus gimana, Romo? Apa saya harus beneran tangkap koruptor? Tapi kan mereka teman-teman ngopi si Petruk dulu?” bisik Gareng panik.

Petruk langsung pura-pura tidak dengar dan mendadak sibuk memeriksa notifikasi HP-nya. “Aduh Reng, sinyal saya jelek. Kayaknya saya dipanggil Batara Narada lagi ke India buat balikin sendok hotel yang kebawa.”

Langkah Penyelamatan

Bagong menepuk bahu Gareng dengan keras sampai sang presiden hampir tersungkur. “Gampang, Reng. Berhenti baca teks pidato bikinan si Petruk. Mulai baca daftar keluhan rakyat. Kalau kamu nggak mau disebut Jenderal Gembos, ya jangan cuma isi kepalamu pakai angin surga!”

Gareng terdiam. Ia menatap rakyatnya yang masih memegang cermin. Ia sadar, ternyata melihat wajah sendiri di cermin itu lama-lama menakutkan, apalagi kalau di belakangnya ada rakyat yang siap mengempiskan kekuasaannya kapan saja. Nah, lho.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *