Rahasia di Balik Genggaman Tangan Sang Bayi, Membaca 99 Nama di Telapak Tangan

Ilustrasi genggaman tangan sang bayi

Pernahkah sahabat memerhatikan jemari seorang bayi yang baru saja menghirup udara dunia? Mereka lahir dengan tangan yang mengepal erat (ngepel, bahasa Jawa), seolah-olah sedang menyembunyikan pusaka yang tidak boleh lepas.

Seorang guru mengaji pernah berbisik pelan kepada saya sambil menatap dalam-dalam kepalan tangan cucunya, “Tahukah engkau apa yang sedang digenggamnya begitu kuat?”

Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya menembus cakrawala batin, mempertemukan syariat dengan hakikat, serta doa dengan tradisi. Ayo, kita bahas.

Simbol Angka di Guratan Tangan

Sang Guru kemudian membentangkan kedua telapak tangannya. Di sana, alam semesta seolah menitipkan pesan lewat guratan garis tangan manusia. Dalam aksara Arab, guratan di telapak tangan kanan membentuk angka ١٨ (18), sementara di telapak tangan kiri terpahat angka ٨١ (81).

Jika sahabat menjumlahkan keduanya, 18 ditambah 81, maka sahabat akan menemukan angka 99.

Angka ini bukanlah sekadar bilangan matematika. Bagi para pencari hakikat, angka 99 adalah simbol dari Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan nama indah Sang Pencipta. Inilah “sangukan” (bekal) utama yang dibawa setiap insan saat kali pertama  menginjakkan kaki di bumi. Sang bayi menggenggam sifat-sifat Tuhan; ia menggenggam kasih sayang, keadilan, kelembutan, dan kemuliaan,” kata Sang Guru.

Pesan spiritualnya jelas: sejak lahir hingga detik terakhir saat kita dipanggil pulang ke haribaan Illahi, pegangan hidup kita seharusnya tidak pernah lepas dari nilai-nilai Asmaul Husna tersebut. Itulah kunci keselamatan dan kesejahteraan, dunia-akhirat.

Filosofi “Ngepel” dan Sangkan Paraning Dumadi

Saya mencoba kemudian menyambungkannya ke dalam kearifan Jawa. Kepalan tangan bayi ini selaras dengan prinsip Sangkan Paraning Dumadi—memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Bayi yang lahir dengan tangan mengepal menunjukkan bahwa ia datang membawa “kontrak suci” dengan Sang Khalik.

Mengepal atau ngepel dalam bahasa Jawa itu juga bisa dimaknai sebagai upaya menjaga inti sari kehidupan. Kita diingatkan untuk ngugemi (memegang teguh) jati diri sebagai makhluk Tuhan. Sebagaimana ajaran para sepuh, manusia sejati adalah mereka yang mampu nguwasani (menguasai) dirinya sendiri melalui pengamalan sifat-sifat luhur Gusti Allah yang tertulis di telapak tangannya.

Godaan “Membuka Tangan” dan Tipu Daya Dunia

Lantas, mengapa setelah dewasa kita sering merasa hampa? Mengapa genggaman yang kuat itu perlahan melonggar?

Kata Guru saya, seiring waktu, mata sang bayi mulai terbuka lebar menyaksikan gemerlapnya dunia. Cahaya lampu kota, tumpukan harta, dan riuh rendah pujian seringkali menjadi “tipu daya” yang begitu menyilaukan. Di titik inilah, banyak dari kita yang mulai tergoda untuk membuka genggaman suci tersebut. Kita seringkali tergoda oleh harta, tahta, dan wanita.

Dalam istilah Jawa, kita sering terjebak dalam gebyar-uyar (kemilau fana). Tangan yang tadinya menggenggam prinsip Asmaul Husna, perlahan terbuka lebar karena ketamakan untuk meraup ambisi duniawi.

Kita melepaskan “pegangan batin” hanya untuk mengejar bayang-bayang. Saat tangan terbuka lebar karena nafsu, saat itulah nilai-nilai kemuliaan yang kita bawa sejak lahir seringkali terlepas dan tercecer di jalanan kehidupan.

Menjaga Genggaman

Dalam perspektif Sang Pamomong, hidup adalah seni menjaga apa yang kita bawa sejak lahir. Kita tidak dilarang melihat dunia, namun jangan sampai pandangan itu membuat kita lupa pada apa yang ada di dalam genggaman sendiri. Jangan sampai kita menjadi orang yang kelangan obor (kehilangan penerang). Lebih tragis, dan jangan sampai, justru kepaten obor (putus segala dengan yang bernama terang alias gelap gulita).

Dunia ini hanyalah ibarat sekadar tempat mampir minum, namun 99 nama-Nya adalah realitas yang abadi. Mari kita tanya pada diri sendiri: Masihkah Asmaul Husna itu tertanam kuat di hati dan nampak dalam lelaku perbuatan kita, ataukah tangan kita sudah terlalu lelah menggenggam karena sibuk mengejar bayangan dunia?

Semoga kita mampu menjaga genggaman itu hingga ajal menjemput, agar kita kembali dengan tangan yang “penuh” secara spiritual, bukan tangan hampa yang telah kehilangan cahayanya.

Wallahu a’lam Bishawab

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *