Pikiran Biner: Belajar Menunggu “Benar” di Balik “Salah”, Duh Sulitnya!

Kalimat itu masih terngiang jelas saja. Meski sudah berlalu puluhan tahun silam. Sebuah wejangan sederhana dari almarhum Mbah Sagimo, guru tarekat Naqsabandiah yang hidupnya adalah perwujudan dari ketenangan. Ia tinggal di sebuah pemukiman transmigrasi era 1979-an di Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim. Ia kerapkali melontarkan petuah dengan kalimat pendek, namun, pembahasannya seluas cakrawala.
Orang salah ditunggu benarnya. Orang benar ditunggu salahnya.
Di balik kalimat pendek itu, sebenarnya tersimpan tamparan keras bagi kita, utamanya adalah saya, yang masih sering terjebak dalam dikotomi biner: sebuah dunia yang hanya mengenal hitam atau putih, benar atau salah. Hingga kini. Entah sampai kapan.
Sebagai manusia, apalagi ketika memegang tanggung jawab memimpin, kita seringkali terburu-buru mengetok palu hakim. Kita membagi dunia menjadi dua kotak kaku. Padahal, realitas tidak pernah sesederhana itu. Salah atau benar. Benar atau salah. Padahal, dimensinya tiap persoalan bisa ditinjau sangat luas, terutama, apabila dilihat dari dasar pijakannya yang mengarah kepada kebijakan yang bijak.
Jebakan “Merasa Paling Benar”
Pikiran biner adalah belenggu. Ketika kita menganggap pendapat kita sebagai satu-satunya kebenaran, kita sebenarnya sedang menutup pintu bagi kebijaksanaan lain untuk masuk. Inilah sisi gelapnya. Inilah jebakan itu. Kita merasa paling benar. Selalu merasa paling benar.
Contohnya, di organisasi, di keluarga, atau bahkan dalam percakapan di media sosial (medsos), kita sering melihat betapa mudahnya orang saling tuding. Fanatisme muncul karena kita takut mengakui bahwa dalam “kebenaran” kita, mungkin ada celah kesalahan. Dan dalam “kesalahan” orang lain, mungkin ada setitik kebenaran yang belum kita pahami.
Kearifan Mbah Sagimo: Menembus Batas
Mbah Sagimo dalam berbagai kesempatan memberikan wejangannya, tidak mengajarkan kita untuk menjadi abu-abu atau tidak punya pendirian. Beliau mengajarkan kerendahan hati. Lalu, saya merasa harus menerapkan wejangan beliau ini dalam keseharian. Karena dengan demikian, berarti pula saya belajar melatih empat otot batin. Keempatnya itu adalah saripati.
Pertama, adalah keterbukaan dengan berani mendengar meski telinga terasa panas. Kedua, rasa syukur dengan melihat kegagalan (salah) bukan sebagai kiamat, melainkan guru yang sedang menyamar.
Ketiga, adalah kesabaran karena kebenaran seringkali malu-malu, ia butuh waktu untuk menampakkan diri. Keempat, hadir sebagai pamomong dengan menyadari bahwa tugas kita bukan menghakimi, tetapi mengayomi proses pertumbuhan setiap insan.
Keempatnya ini, duh, sulitnya untuk dipraktikkan.
Memanusiakan Manusia
Saya mengatakan, bahwa dalam hubungan interpersonal atau pengambilan keputusan, prinsip ini adalah kunci. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa pamomong tidak akan langsung membuang anggotanya yang berbuat salah. Ia akan “menunggu benarnya” dengan memberi ruang bagi orang tersebut untuk bertumbuh dan memperbaiki diri.
Sebaliknya, saat kita sedang berada di puncak “kebenaran” atau kesuksesan, kita harus tetap waspada. Jangan jumawa, karena di titik itulah potensi kesalahan seringkali mengintip, dan kadangkala langsung masuk tanpa diketahui. Tetiba saja kita telah ambruk!
Ah, dunia memang akan terasa lebih luas dan damai jika kita berhenti memandangnya lewat lubang kunci yang sempit. Wejangan Mbah Sagimo, warga Jombang, Jatim, itu adalah pengingat bahwa hidup ini adalah spektrum warna yang luas, penuh kasih sayang, dan pengertian.
Maafkan saya, Mbah… ini sekadar coretan ringan untuk mengenangmu dari cucumu yang (masih saja) sableng ini. Cucumu yang masih terus-menerus terpesona dan terpesona dan seringkali terjebak pada biner, meski, kadangkala telah melihat “saat benar ditunggu salahnya”, dan “saat salah ditunggu benarnya” itu, Mbah.
— Ari Arief
Bagaimana dengan pandangan kalian? Silakan berbagi untuk memperkaya khasanah ini.
