Petuah Ki Semar di Tengah Hujan Badai Global, Mandiri Ekonomi atau Terus Kena ‘Bersin’ Perang Orang Lain?

Setelah sesi ngopi pagi yang penuh sindiran, Presiden Republik Karang Kadempel, Gareng mengumpulkan para punakawan di ruang kerja kepresidenan. Ia ingin tahu, sejauh mana serangan koalisi AS-Israel ke Iran bakal bikin rakyatnya makin “cekot-cekot” kepalanya.
“Gong, coba cek. Itu rudal terbang di Iran, kenapa harga cabai di pasar Karang Kedempel malah ikut melambung?” tanya Gareng sambil memijat pelipis.
Bagong membuka catatan kecilnya, yang sebenarnya lebih mirip daftar utang warung. “Reng, ini namanya efek domino. Di sana rudal meledak, di sini dompet yang ambyar. Nih, saya jabarkan biar sampeyan nggak pusing sendirian.”
Peta Kerawanan Ekonomi ala Bagong
Minyak Goreng vs Minyak Dunia: “Iran itu duduk di atas ladang minyak, Reng. Kalau sana kena hantam, harga minyak dunia langsung loncat kayak kutu loncat. Kalau bensin naik, truk pengangkut beras kita juga naik tarifnya. Akhirnya? Rakyat makan nasi bungkus isinya cuma harapan dan doa.”
Dolar yang Makin Sombong: “Ketidakpastian ini bikin investor takut. Mereka lari ke Dolar AS. Akibatnya, mata uang kita, Rupiah Kedempel, jadi letoy. Beli kedelai buat tempe jadi mahal. Tempe makin tipis, setipis kesabaran rakyat pas denger janji kampanye.”
Logistik Jalur Tikus: “Jalur perdagangan internasional bisa mampet. Kalau Selat Hormuz ketutup karena perang, barang-barang impor, termasuk gadget buat anak muda main Mobile Legend, bakal telat masuk. Bisa demo besar-besaran itu para bocah kematian!”
Interupsi “Ahli” dari Petruk
Petruk, yang masih merasa sebagai ahli ekonomi bayangan karena pengalamannya “memutar balikkan fakta” selama dua periode, langsung menyambar.
“Tenang, Reng. Waktu saya jadi Presiden dulu, kalau harga minyak naik, saya cuma perlu keluarin satu pernyataan: ‘Stok Aman’. Masalah aslinya aman atau enggak, itu urusan menteri. Yang penting rakyat tenang dulu dua jam,” kata Petruk sambil cengengesan.
“Truk, itu namanya bukan solusi, itu namanya scamming massal!” protes Gareng.
Petruk mengibaskan tangan. “Bukan scamming, Reng. Itu namanya Manajemen Harapan. Kalau dunia kacau karena zionis langgar hukum internasional, kita fokus aja impor barang yang nggak penting tapi kelihatan mewah. Biar ekonomi kelihatan tumbuh, padahal ya cuma gelembung sabun.”
Petuah Penyejuk Semar
Semar yang sedari tadi cuma menyimak sambil mengelus perutnya yang kenyang, memberikan perspektif yang lebih dalam.
“Anak-anakku, krisis global itu kayak hujan badai. Kita nggak bisa nyuruh hujannya berhenti, tapi kita bisa benerin atap rumah sendiri. Kemandirian itu kuncinya. Kalau kita terus-terusan tergantung sama pasar luar yang dikuasai mereka yang suka perang, ya kita bakal terus kena ‘bersin’-nya mereka.”
“Ekonomi sejati itu bukan soal angka di layar saham, tapi soal berapa piring nasi yang tersedia di meja rakyat kecil saat dunia sedang gila.” — Semar Badranaya
Gareng mengangguk-angguk. “Berarti intinya, kita harus ikat pinggang lebih kencang lagi ya?”
“Bukan cuma ikat pinggang, Reng,” sahut Bagong. “Ikat mulut juga. Jangan sampai protes lapar malah dianggap makar sama orang-orangnya Petruk yang masih jaga di luar!”
Petruk hanya tertawa lepas, sementara Gareng mulai menyusun pidato kenegaraan yang isinya: Prihatin, Sedih, tapi Tetap Optimistis (sambil pinjam uang lagi).(*)
(Lakon yang mirip sebagai pasemonan ini tampaknya berkorelasi signifikan terhadap kondisi kekinian pada sebuah negara. Tiba-tiba saja sebuah republik yang pro-Israel, sebuah negara yang disebut zionis oleh dunia, tiba-tiba juga pro-AS, yang dunia juga mengetahuinya bahwa negara ini tampak menjadi biang ketidakadilan. Itu sebabnya, ketika Gareng, atas inisiatif sendiri mendukung Israel dan masuk BoP Donald Trump kini memunculkan friksi baru di sebuah negara manusia itu.
Petuah Ki Semar pada alinea-alinea akhir dalam tulisan ini sungguh bernilai brilian, patut didengar, dan korelatif dengan apa yang kali ini terjadi. Semoga para pengambil kebijakan di dunia manusia, tidak hanya di tingkat pusat saja, tetapi di tingkat daerah juga perlu menyimak Ki Semar ini, dan mengambil hikmah. Ambil pesan yang terbaik, dan buang yang terburuk untuk kepentingan kepemimpinan nasional).
