Parfum, Harum tapi Menipu, Pilkada dan Filosofis Penyamaran Sang Tokoh
SAYA sempat berdebat dengan rekan saya dalang yang sarjana seni lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Seni Indonesia (STSI) Jogja tentang jatidiri Semar. Saya tertarik lantaran sosok yang digambarkan berperut buncit itu sesungguhnya bukan perempuan, dan bukan pula laki-laki, tapi juga bukan banci. Dalam kisah pewayangan sosok Semar adalah penjelmaan dewa yang menyamar.
Perdebatan dimulai justru terletak pada makna filosofis yang terkandung dalam penyamaran tokoh pewayangan, yang dengan setia menjadi pamomong Pandawa itu. Pertanyaan yang mengemuka: mengapa harus menyamar?
Tampaknya, bukan hanya Semar yang menyamarkan diri agar tetap misterius. Simak saja Peter Parker yang sesungguhnya adalah Spiderman, Clark Kent wartawan yang sesungguhnya adalah Superman, dan Don Diego yang harus menyamar sebagai Zorro, atau Kresna yang harus bertiwikrama mengubah diri jadi raksasa dalam lakon Kresna Duta. Atau, Ajisaka yang harus menyamar untuk menyirnakan Prabu Dewata Cengkar yang selalu haus darah.
Tidak hanya itu, Nabi Khidir —seperti yang ditulis kolumnis Triyanto Triwikromo— paling tidak dalam terminologi Islam, juga harus muncul ke publik dengan seribu wajah. Dia bisa hadir sebagai tukang es cendol. Bisa pula menjelma politikus tampan di tengah-tengah kebengisan anggota parlemen.

Jika demikian, realitas penyamaran bagi bangsa ini notabene-nya bukan barang baru?
Dalam kisah kehidupan yang lebih riil kita kerap secara tidak sadar terjebak pada pola-pola penyamaran dalam bentuk lain. Jelas bedanya, jika sederetan tokoh yang disebutkan pada awal tulisan ini sengaja menyamar agar tidak diketahui jatidirinya, dan agar tetap bisa berbuat kemaslahatan untuk kepentingan umat, tetapi penyamaran yang kerap kita lakukan adalah menyamar menjadi sang penolong yang sesungguhnya justru berbuat sebaliknya.
“Kita kerap berteriak maling, padahal sesungguhnya diri kitalah yang maling,” kata Kiai mbeling Emha Ainun Nadjib dalam album perdananya Menyorong Rembulan.
Dunia pewayangan sendiri memberikan sumbangan yang besar terhadap lembaran filosofis yang sangat dalam bagi kisi-kisi manusiawi. Lihat saja proses pemilihan permaisuri untuk Pandudewanata dan Destarata. Di sana berjejer tiga gadis cantik Dewi Kunthi, Dewi Madri dan Gandari yang sulit dibedakan. Hanya Gandari yang memoles dirinya dengan semerbak parfum, sehingga Destarata tertegun dan akhirnya memilih dia untuk permaisuri.
Tetapi, apa lacur, pilihan yang dijatuhkan Destarata ternyata merupakan pilihan yang akhirnya terbukti salah. Dalam rentang sejarah ke depannya, Gandari justru yang membelasah persatuan dan kesatuan yang sudah dibangun sejak lama antara Pandawa dan Astinapura, yang kelak berakhir dengan pertumpahan darah melalui episode Perang Baratayudha. Destarata ternyata tertipu oleh semerbak parfum sang dewi.
Dalam kontekstual kekinian, mari kita tarik rentang benang merah ke sejumlah daerah yang mempersiapkan perhelatan demokrasi: pemilihan gubernur atau bupati. Jika rakyat diibaratkan sebagai Destarata, kita berharap jangan terjadi kesalahan memilih pemimpin masa depan. Jatuhkan pilihan dengan hati nurani yang paling dalam dengan melihat dan mempertimbangkan fakta-fakta keberhasilan yang telah mereka lakukan selama ini. Jangan seperti Destarata, yang tertipu oleh parfum.(*)
Tulisan ini saya buat belasan tahun lalu mengambil momentum pemilihan kepala daerah di Kaltim. Semoga, ada yang bisa diambil hikmahnya.
