Panas! Koalisi Durna-Sengkuni Desak Presiden Gareng Copot Bagong dari Kursi Wapres

Pendeta Durna
Di Negeri Republik Karang Kedempel yang gemah ripah loh jinawi, baru saja terjadi geger politik yang cukup mencengangkan. Resi Durna, penasihat agung yang terkenal sakti tapi juga sedikit “kenthir”, bersama para tetua negeri seperti Patih Sengkuni yang licik tapi banyak akal, dan Adipati Karna yang gagah berani tapi sering salah paham, berkumpul di balai desa.
“Para sesepuh yang saya hormati,” Durna memulai dengan suara berwibawa, “Negeri kita ini sedang dalam bahaya!”
Sengkuni menyeringai, “Bahaya apa, Resi? Apa ada raksasa mau menyerbu?”
“Lebih gawat dari itu, Patih! Wakil Presiden kita itu lho… Si Bagong!”
Untuk diketahui saja, nama Bagong ini adalah nama asal comot saja. Soalnya, penulis merasa kesulitan mencari figur wakil presiden yang pas untuk rakyat di Republik Karang Kedempel ini, hehehehe.
Karna mengerutkan kening, “Bagong? Memangnya kenapa dengan dia? Setahu saya dia orangnya jujur dan sederhana.”
Durna menghela napas panjang. “Jujur sih jujur, sederhana sih sederhana. Tapi kerjanya itu lho, bikin perih mata! Setiap rapat, dia cuma bengong, ngupil, atau malah ketiduran. Usul saya, kita reshuffle saja dia!”
Sengkuni mengangguk-angguk setuju. “Betul, Resi! Bagong itu cuma jadi pajangan. Lebih baik kursinya diisi orang yang lebih kompeten, misalnya… saya!”
Karna menggaruk-garuk kepala. “Tapi Resi, yang berhak me-reshuffle itu ‘kan Presiden. Presiden Gareng ‘kan?”
Durna mengibaskan tangannya. “Justru itu masalahnya, Karna! Gareng itu ‘kan pengganti Petruk yang baru saja lengser keprabon. Dia itu masih bau kencur dalam urusan pemerintahan. Tapi tidak apa-apa, kita datangi saja dia.”
Maka, rombongan Durna mendatangi istana kepresidenan. Presiden Gareng yang sedang asyik memetik ukulele, terkejut melihat kedatangan mereka.
“Ada apa ini para sesepuh? Tumben sekali datang berbondong-bondong?”
Durna menyampaikan maksud mereka dengan penuh semangat. Gareng yang polos hanya terbengong-bengong.
“Resi, setahu saya, urusan reshuffle itu bukan wewenang saya. Ini ‘kan negara demokrasi. Yang berhak memutuskan itu ya… semacam MPR gitu lho, Resi.”
Sengkuni menyela, “Ah, Gareng ini sok tahu! Pokoknya kami maunya Bagong di-reshuffle! Kalau tidak, awas ya… Resi Durna akan mengeluarkan aji-ajiannya!”
Gareng jadi ketakutan. Dia tahu kesaktian Durna tidak main-main. Tapi dia juga tahu, permintaan mereka itu salah alamat.
“Ya sudah, nanti saya sampaikan usulan ini ke… ke… MPR itu,” kata Gareng dengan gugup.
Rombongan Durna pulang dengan puas. Mereka yakin, kali ini Bagong pasti akan lengser.
Sementara itu, Gareng garuk-garuk kepala sambil bergumam, “Ini negara kok jadi aneh begini ya? Presiden disuruh-suruh, MPR dilangkahi… Dasar Karang Kedempel!”

2 thoughts on “Panas! Koalisi Durna-Sengkuni Desak Presiden Gareng Copot Bagong dari Kursi Wapres

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *