KOLEKSI: Sebagian kecil dari ribuan pita kaset berbagai genre, terutama ludruk, yang saya koleksi.
Bayang-bayang lampu petromak dan aroma kemenyan yang samar di balik panggung balai desa perlahan mulai memudar, berganti dengan kilatan cahaya ring light dan riuhnya kolom komentar di Live TikTok. Ludruk, kesenian rakyat yang lahir dari rahim perlawanan dan dialektika masyarakat Jawa Timur, kini sedang berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, panggung fisik semakin sunyi; kursi-kursi kayu yang dulu penuh sesak kini seringkali hanya diisi oleh angin malam dan segelintir penonton setia yang rambutnya mulai memutih. Namun di sisi lain, jagat maya menawarkan “sekoci penyelamat” yang bernama digitalisasi. Pertanyaannya, apakah perpindahan panggung dari tanah ke layar kaca ini adalah sebuah evolusi yang menyelamatkan, atau justru sebuah devaluasi yang menggerus esensi?
Lebih dari sekadar nostalgia, ludruk adalah bentuk seni pertunjukan yang kaya akan nilai-nilai luhur seperti kesantunan, gotong royong, dan kritik sosial. Melalui kanal YouTube www.youtube.com/c/AriArief , saya ingin berbagi keindahan ludruk kepada generasi muda dan masyarakat luas. Ribuan lakon yang saya unggah adalah bukti kekayaan budaya Jawa Timur yang patut kita lestarikan.
Di tengah gempuran budaya populer, ludruk terancam terpinggirkan. Namun, saya percaya bahwa seni tradisional ini masih memiliki tempat di hati masyarakat. Sebagai seorang penggemar ludruk, saya merasa terpanggil untuk ikut serta dalam upaya pelestariannya. Sekarang ini, Anda bisa menontonnya dengan terlebih dahulu meng-klik link yang disertakan dalam tulisan ini.
Melalui kanal itu saya berupaya mendigitalisasi ribuan lakon ludruk agar dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Saya berharap kanal ini bisa menjadi referensi bagi para pecinta ludruk, peneliti, dan generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat tentang kesenian tradisional ini. Saya terus berusaha berburu pita kaset dengan menghubungi para pihak kolektor hingga penjual pita kaset online maupun pelapak di tepi jalan raya di kawasan Surabaya dan sekitarnya.
Tentu saja, untuk eksistensi kanal ini diperlukan dukungan berupa subscribe, like, comment, share. Bentuk dukungan yang diberikan sekaligus sebagai bentuk uri-uri budaya adiluhung milik bangsa Indonesia ini.
Digitalisasi bukan sekadar memindahkan kamera ke depan pemain ludruk dan mengunggahnya ke YouTube. Ini adalah transformasi peradaban. Jika dulu seorang pengidung harus mampu menguasai panggung selama berjam-jam dengan interaksi fisik yang intim bersama penonton, kini mereka dituntut untuk mampu merangkum kelucuan dan kritik sosial dalam durasi 60 detik Reels atau Shorts. Kita melihat fenomena menarik di mana grup-grup ludruk legendaris mulai “berkantor” di studio digital. Mereka tidak lagi menunggu undangan hajatan di pelosok desa yang kian jarang, melainkan menjemput penonton melalui algoritma.
Namun, transisi ini bukannya tanpa hambatan. Ludruk adalah kesenian yang mengandalkan “rasa” dan momen spontanitas. Ketika parikan (pantun) dilemparkan, respons tawa penonton adalah bahan bakar bagi sang pelawak. Di dunia digital, tawa itu digantikan oleh simbol hati dan emotikon tertawa yang dingin. Tantangan teknis pun muncul; bagaimana menjaga kualitas audio agar kidungan yang sarat makna tidak pecah ditelan bisingnya lingkungan, atau bagaimana mengatur pencahayaan agar karakter wedokan tetap terlihat estetis di layar ponsel yang kecil.
Digitalisasi ludruk tidak hanya soal eksistensi seni, tetapi juga soal isi piring nasi para senimannya. Di masa lalu, seniman ludruk sangat bergantung pada “tanggapan” atau undangan hajatan yang bersifat musiman. Kini, jagat digital membuka keran penghasilan yang lebih demokratis. Melalui fitur saweran di platform live streaming atau skema monetisasi iklan video, seorang pemain ludruk bisa mendapatkan apresiasi langsung dari penontonnya di seluruh dunia secara real-time.
Fenomena ini melahirkan kelas penonton baru: para diaspora atau perantau yang rindu kampung halaman. Seorang pekerja migran di Hong Kong atau Taiwan, misalnya, kini bisa menonton kidungan Jula-Juli sambil menyawer artis favoritnya melalui dompet digital. Ini adalah bentuk dukungan ekonomi yang dulu mustahil terjadi. Namun, tantangannya adalah bagaimana para seniman tradisional ini bisa melek teknologi (tech-savvy) agar tidak terjebak dalam eksploitasi platform atau sekadar menjadi objek konten tanpa mendapatkan bagi hasil yang adil. Kemandirian digital menjadi kunci agar ludruk tidak hanya “numpang lewat” di internet, tapi benar-benar berdaulat secara ekonomi.