Tabokan Mandor Bagong, Kritik Pedas untuk Pemimpin yang Hobi Pidato Tapi Budek Keluhan

Kala si Bagong jadi mandor. Ilustrasi dibuatkan oleh AI.

Geger gedhen alias geger besar terjadi di Republik Karang Kedempel! Bukan oleh perang seperti yang saat ini terjadi antara koalisi Amerika Serikat dan Israel yang mengeroyok Iran. Meski geger besar, imbasnya tidak sampai kemana-mana. Kecuali, bagi mereka yang berpikir. Sebab, republik ini adanya di dunia wayang mbeling saja. Tetapi, setiap kisah yang muncul dari gerak-gerik punakawan itu, Semar, Petruk, Gareng, Bagong, selalu menarik perhatian. Seperti juga yang terjadi pada lakon ini.

Entah karena kehabisan stok pejabat atau memang sedang ingin melakukan eksperimen sosial, tetiba Bagong, yang biasanya cuma sibuk mengurusi jemuran, diangkat menjadi Mandor Agung Proyek Peradaban.

Apalagi, tugasnya sangat berat. Bagong harus mengawasi para pemimpin, mulai dari kelas Lurah, Bupati, Gubernur, sampai tingkat Dewa-Dewa di kahyangan, eh, maksud saya di pusat pemerintahan.

Hari pertama jadi mandor, Bagong tidak bawa cetok atau penggaris siku. Dia malah menenteng Korek Kuping raksasa dari bambu dan Toa Masjid yang baterainya sudah soak.

“Gong, apa hubungannya korek kuping sama proyek pembangunan?” tanya Petruk sambil geleng-geleng kepala saat melihat adiknya itu bergaya ala pengawas proyek.

Bagong nyengir, bibirnya yang tebal dan ndower itu makin maju. “Truk, proyek kita ini sering mangkrak bukan karena kurang semen, tapi karena para pemimpinnya kebanyakan ngomong sampai kupingnya mampet kabel busi! Mereka jago bikin pidato satu jam tanpa titik koma, tapi disuruh dengar keluhan rakyat lima menit saja sudah merasa kena radang telinga,” katanya.

Sampailah pada tugas pertama yang harus dikerjakan oleh si Bagong. Dia mendatangi proyek jembatan yang belum jadi-jadi. Di sana, Sang Bupati dan Gubernur sedang sibuk berdebat soal warna cat jembatan agar terlihat bagus di kamera handphone saat peresmian.

“Permisi, Bos-Bos sekalian,” potong Bagong. “Ini rakyat di bawah teriak kalau pondasi jembatannya goyang karena tanahnya labil. Sudah dengar belum?” Sang Bupati menjawab santai, “Wah, Bagong, kamu harus paham statistik. Berdasarkan data di atas kertas saya, 90% rakyat setuju warna cat ini adalah biru langit yang visioner!”

Bagong garuk-garuk kepala, meski tidak terasa gatal.  “Data di kertas Bapak itu bisa dipakai bungkus gorengan kalau jembatannya ambruk, Pak! Masalahnya, Bapak cuma dengar suara ABS alias asal bapak senang dari staf-staf yang cari muka. Coba itu telinga dibersihkan pakai diplomasi korek kuping saya,” ujarnya, ketus.

Tidak tanggung-tanggung, Bagong kemudian dipanggil menghadap ke pusat. Di sana, para pemimpin sedang asyik memaparkan visi “Ibu Kota Baru nan Megah” yang penuh dengan istilah bahasa Inggris yang bikin lidah Bagong keriting. Smart City, Green Economy, Digital Transformation

Bagong cuma diam. Dia lalu menyalakan Toa-nya yang soak tadi. Bunyinya cuma: “Nguuungkresekkresek…”

“Apa itu, Bagong? Berisik!” tegur salah satu petinggi.

“Oh, ini suara rakyat yang rumahnya kegusur tapi ganti ruginya masih ‘nyangkut’ di awan, Pak,” jawab Bagong, enteng. “Bapak-bapak ini pintarnya minta ampun. Kalau bicara masa depan, kayak sudah pernah ke sana naik mesin waktu. Tapi kalau disuruh dengar suara orang lapar di pinggir proyek, mendadak semua kena penyakit budek berjamaah.”

Tabokan Mandor Bagong

Sambil duduk di atas tumpukan batu bata, Bagong menutup hari pertamanya sebagai mandor dengan petuah yang membikin telinga merah:

“Jadi pemimpin itu bukan cuma soal punya mulut yang bisa memerintah, tapi punya telinga yang bisa ‘merasakan’. Bupati, Gubernur, sampai Presiden… kalau telinganya cuma dipakai buat dengar laporan bagus-bagus saja, mending telinganya diganti pakai spion motor, biar cuma bisa lihat ke belakang!”

Seni mendengar itu, lanjut Bagong, adalah mengakui kalau suara rakyat itu seringkali sumbang, kasar, dan tidak pakai bahasa Inggris, tapi itulah kenyataan di lapangan.

“Jangan sampai,” ujar Bagong sambil nyengir lebar, “proyeknya jadi mercusuar yang terang benderang ke langit, tapi di bawahnya rakyat malah gelap gulita karena pemimpinnya asyik pakai headset merk Kekuasaan.” Gareng dan Petruk hanya bisa melongo. Bagong memang cuma mandor karbitan, tapi omongannya lebih tajam dari paku bumi yang sedang ditanam di tanah Karang Kedempel.

Kisah ini adanya hanya di dunia pewayangan yang berlabel wayang mbeling saja, karena, ceritanya keluar dari pakem pedalangan. Baik yang berkiblat ke Kitab Mahabharata maupun Ramayana. Namun, kabar yang beredar oleh telik sandi, ternyata, cerita-cerita seperti ini juga beredar atau terjadi di “dunia luar angkasa”. Kabarnya, di sana, hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa alias lumrah.

👍👍👍Baca Juga:https://ariarief.com/goro-goro-menu-mewah-di-karang-kedempel/

 

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *