Kisah Petruk Jadi Raja, Kebohongan Bisa Mengubah Nasib Sebuah Negeri?

Petruk

 

Angin perubahan bertiup kencang di negeri antah berantah. Bukan karena revolusi atau pemberontakan, melainkan karena sebuah keisengan dewa yang sedang kurang kerjaan. Entah bagaimana ceritanya, Petruk, si abdi dalem yang terkenal dengan celetukan ngawurnya dan kegemarannya memancing di sungai butek, tiba-tiba saja didapuk menjadi raja. Mahkota emas yang kegedean itu bertengger lucu di kepalanya yang plontos.
Awalnya, rakyat terheran-heran. “Lha kok Petruk?” bisik mereka di balik bilik bambu. Namun, dasar watak orang Jawa, mereka manut saja. Mungkin ada hikmah tersembunyi di balik kejadian absurd ini. Sayangnya, hikmah itu tak kunjung datang. Yang ada justru negeri semakin runyam di bawah kepemimpinan “Yang Mulia” Petruk. Sejak hari pertama bertakhta, Petruk menunjukkan bakat terpendamnya: berbohong tanpa jeda. Bukan bohong kecil seperti “tadi sudah makan padahal belum”, sudah, tapi belum, jangan tanya saya, dan lain-lain, tapi bohong kelas kakap yang bisa mengguncang sendi-sendi kerajaan.
“Wahai rakyatku!” seru Petruk dalam sabda pertamanya, berdiri di balkon istana yang megah (padahal baru kemarin kandang kambing direnovasi). “Ketahuilah, lumbung padi kita melimpah ruah! Bahkan tikus-tikus pun kekenyangan dan minta diet!” Padahal, kenyataannya, tikus-tikus di istana lebih sering mencuri sisa tulang ikan asin daripada gabah. Keesokan harinya, Petruk mengumpulkan para menteri. “Saya baru saja mendapat kabar dari negeri seberang,” katanya dengan wajah serius, padahal semalam dia ketiduran sambil nonton wayang kulit. “Mereka menawarkan kita gunung emas ditukar dengan tiga karung kerupuk kulit!” Para menteri saling pandang. Gunung emas? Kerupuk kulit? Ini raja sedang melawak atau memang otaknya ikut tertukar saat mahkota itu jatuh dari langit?
Kebohongan Petruk semakin hari semakin menjadi-jadi. Ia pernah mengumumkan bahwa sungai di belakang istana berubah menjadi air sirup rasa melon. Rakyat yang penasaran berbondong-bondong datang membawa gelas. Alangkah kecewanya mereka mendapati air sungai tetap berwarna cokelat keruh dengan aroma lumpur yang khas. Ketika ditanya, Petruk hanya cengengesan, “Oh, itu edisi terbatas! Besok rasa stroberi!”
Tak hanya soal kekayaan dan sumber daya alam, Petruk juga berbohong soal dirinya sendiri. Ia mengaku bisa terbang tanpa sayap, bisa berbicara dengan ikan lele, dan pernah menaklukkan naga berkepala tujuh hanya dengan sendal jepit bututnya. Tentu saja, tak ada satu pun kebohongan itu yang bisa dibuktikan. Setiap kali rakyat meminta bukti, Petruk selalu punya alasan ajaib. “Naganya sedang cuti,” katanya suatu kali. Atau, “Sayap gaibku sedang di-laundry.”
Akibatnya, negeri itu menjadi lautan kebohongan. Rakyat mulai bingung mana fakta mana fiksi. Pasar menjadi ajang adu klaim palsu. Pedagang ikan bilang ikannya bisa menyanyi, penjual jamu mengaku jamunya bisa membuat awet muda sampai kiamat, dan tukang becak bersumpah becaknya bisa terbang kalau diisi bensin premium. Para menteri yang awalnya mencoba meluruskan, akhirnya menyerah. Percuma saja berdebat dengan raja yang lebih lihai berbohong daripada penipu ulung di terminal. Mereka hanya bisa pasrah sambil sesekali mencuri dengar obrolan Petruk dengan patung garuda di ruang singgasana, yang sepertinya juga sudah bosan mendengar kebohongan sang raja.
Namun, di tengah lautan kebohongan itu, ada satu hal yang tetap jujur: ekspresi wajah rakyat saat mendengar titah rajanya. Dari alis yang terangkat tinggi, mata yang melotot tak percaya, hingga gelengan kepala yang pelan tapi pasti. Mereka mungkin manut, tapi tidak bodoh. Mereka tahu raja mereka ini sedang bermain-main dengan kebenaran.
Sampai suatu hari, dewa yang iseng itu mungkin merasa bosan dengan eksperimennya. Tiba-tiba saja, Petruk kembali menjadi abdi dalem, dan mahkota emas itu raib entah ke mana. Rakyat bernapas lega. Negeri kembali normal, meski aroma kebohongan raja Petruk masih sedikit menguar di udara, seperti bau petasan bekas yang sulit hilang.
Dan Petruk? Ia kembali ke sungai buteknya, memancing ikan sambil sesekali nyeletuk, “Dulu waktu saya jadi raja, ikannya segede buaya!” Tentu saja, tak ada yang percaya. Tapi kali ini, tak ada mahkota di kepalanya. Hanya topi lusuh dan senyum lebar seorang pembohong kelas teri yang pernah merasakan nikmatnya menjadi raja… bohong.***
Lakon: Petruk Dadi Ratu sangat berkorelasi dalam konteks kisah ini. Silakan memberi pendapat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *