Ijazah Selembar Kertas, Kebohongan Seumur Hidup: Sentilan Semar untuk Petruk

RERASANAN: Punakawan sedang rerasanan soal ijazah Petruk yang belum jelas hingga sekarang.

 

Bagong: (Sambil kipas-kipas pakai koran bekas) “Reng, aku heran ambek Kades kita si Petruk itu. Kasus ijazah palsunya sudah bertahun-tahun kok belum kelar juga? Itu ijazah apa cicilan motor? Kok awet banget?”
Gareng: (Sambil benerin letak matanya yang juling) “Hush! Itu namanya ijazah sakti, Gong. Mungkin tintanya pakai air mata naga, jadi kalau mau diperiksa penyidik, tulisannya hilang sendiri. Transparan kayak janji kampanye.”
Petruk: (Tiba-tiba datang sambil garuk-garuk hidung panjangnya) “Woi! Ngomongin siapa kamu? Aku denger ya! Ijazahku itu asli! Dicetak pakai kertas pilihan, baunya saja bau masa depan!”
Bagong: “Masa depan opo, Truk? Lha wong namamu di ijazah tertulis ‘Petruk bin Simsalabim’, sekolahnya di ‘SD Negeri Antah Berantah’. Kemarin dicek ke sekolahnya, ternyata sekolahnya sudah berubah jadi kandang bebek!”
Petruk: (Gugup) “Ya itu namanya transformasi pendidikan! Dulu muridnya manusia, sekarang bebek. Kan sama-sama belajar cari makan!”
Gareng: “Tapi Truk, ini sudah masuk tahun ke-5. Kasusmu di pengadilan muter-muter terus kayak komidi putar. Saksinya saja sampai pensiun, hakimnya sampai ubanan, lha kok ijazahmu masih dalam tahap ‘penelitian laboratorium’. Itu diteliti pakai mikroskop atau pakai dukun?”
Petruk: “Ya itulah hebatnya birokrasi kita. Pelan tapi tidak sampai-sampai. Lagian, ijazah itu cuma selembar kertas. Yang penting ‘kan pengabdianku! Lihat itu aspal jalan desa, meskipun baru kena hujan langsung rompal, ‘kan setidaknya pernah kelihatan hitam!”
Semar: (Datang sambil kentut pelan, preeet) “Sudah… sudah… Jangan bertengkar.”
Bagong: “Ini lho Mo (Romo), si Petruk. Ijazahnya palsu tapi aktingnya jadi Kades mengalahkan aktor piala Oscar. Kapan kelarnya ini kasus?”
Semar: “Gong, Gareng… Kalian harus paham. Kasus ijazah palsu Petruk itu seperti cinta tak sampai. Digantung biar jadi kenangan. Kalau cepat selesai, nanti pengacara nggak dapat setoran, aktivis nggak punya bahan demo, dan wartawan nggak ada berita lucu.”
Petruk:Dengerin itu Romo Semar! Lagian ijazahku itu asli palsunya!”
Semar: (Tersenyum bijak tapi pedas) “Truk, kejujuran itu memang pahit di awal. Tapi lebih pahit lagi kalau kamu jadi Kades tapi setiap lewat depan sekolah SD, kamu harus lari ketakutan gara-gara takut ditanya perkalian satu kali satu sama anak kecil.”
Bagong: “Betul Mo! Truk, mending ngaku saja. Itu ijazah beli di pasar loak atau hasil screenshot Google Images?”
Petruk: (Sambil lari menjauh) “Enak saja! Itu ijazah hasil editan tingkat tinggi! Pakai filter Instagram biar kelihatan vintage!”
Gareng:Oalah… Kades zaman now. Ijazah palsu, jabatan asli, otaknya… loading!”
*****
(Sejatosipun, pangkat lan drajat punika saged dipunupados kanthi mawarni-warni cara. Nanging, kapercayan saking bebrayan (masyarakat) mboten saged dipunpalsu ngginakaken dluwang (kertas) ijazah. Kejujuran punika dados pusaka ingkang paling sekti; senadyan pait wonten ing wiwitan, nanging badhe mbekta tentrem wonten ing pungkasan. Ampun ngantos kita rumaos mongkog nggadhahi jabatan, nanging batosipun tansah was-was amargi nggendhong goroh (kebohongan) salawase gesang).
(Sesungguhnya, pangkat dan derajat bisa dicari dengan berbagai cara. Namun, kepercayaan dari masyarakat tidak bisa dipalsukan hanya dengan selembar kertas ijazah. Kejujuran adalah senjata yang paling sakti; meski pahit di awal, namun akan membawa ketenangan di akhir. Jangan sampai kita merasa bangga memiliki jabatan, namun batin selalu merasa was-was karena memikul kebohongan seumur hidup).
Kisah ini mengandung makna sangat dalam, dan berkorelasi untuk hidup dan kehidupan sehari-hari, utamanya, di dunia manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *