Kekikiran Spiritual, Mengapa Mendoakan Orang Tua 5 Kali Sehari Disebut Durhaka?

Di dalam sunyi-senyap laku spiritual, manusia sering merasa sudah jadi hamba yang saleh. Hal itu, disebabkan kening telah menyentuh sajadah lima kali sehari. Manusia merasa sudah jadi anak yang berbakti hanya karena selipan doa singkat di penghujung salam.
Sebuah kisah getir namun indah datang dari tanah para nabi, Kairo. Kisah itu saya baca beberapa hari lalu. Alkisah, seorang pencari ilmu tertegun saat membaca sebuah judul bab dalam buku karya seorang Syaikh: “Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendoakan orang tuanya lima kali dalam sehari.”
Kalimat itu dirasakan oleh sang pencari ilmu tadi bak petir di siang bolong. Ia seolah-olah tidak bisa menerima kata-kata itu. Bukankah lima kali itu adalah standar kesalehan yang umum kita pahami? Mengapa disebut durhaka? Nah.
Matematika Cinta dan Logika Langit
Ketika sang pencari ilmu ini bertanya langsung kepada sang Syaikh, ia malah diminta untuk mengulang doa Rabbighfirli waliwalidayya berkali-kali. “Apakah kamu capek? Apakah kamu berkeringat? Apakah kamu keluar uang?” tanya sang Syaikh dengan lembut namun menghujam.
Jawabannya tentu tidak. Mengucap untaian kata untuk memintakan ampunan bagi mereka yang menjadi perantara kita melihat dunia sama sekali tidak menguras keringat, apalagi harta. Di sinilah letak “sedekah paling murah” yang sering kita kikirkan.
Sejenak mari hitung dengan matematika batin. Mulai dari sembilan bulan ibu mengandung kita. Nafas yang tersengal, tulang punggung yang pegal, dan taruhan nyawa saat persalinan. Sedangkan sang ayah memeras keringat di bawah terik matahari. Menelan harga diri demi memastikan perut kita kenyang dan pendidikan kita terjamin.
Hasil perhitungannya, jika setiap tetes keringat ayah dan setiap rintihan sakit ibu dikonversi menjadi doa, maka ribuan doa pun takkan pernah cukup untuk melunasinya. Maka, membatasi doa hanya lima kali sehari—sebatas rutinitas setelah salat fardu—adalah bentuk kekikiran spiritual. Itu adalah tanda bahwa kita mendoakan mereka karena “tugas”, bukan karena “kerinduan” dan “hutang rasa”.
Getaran Doa di Alam Barzakh
Dalam perspektif sufistik, kisah pencari ilmu yang saya baca itu, hubungan antara anak dan orang tua tidaklah terputus oleh liang lahat. Sebaliknya, kematian hanyalah perpindahan dimensi di mana orang tua menjadi sangat “fakir” akan kiriman energi dari dunia. “Satu kali kau berucap Rabbighfirli waliwalidayya, saat itu juga satu dosa mereka dihapuskan Allah.”
Bayangkan sebuah kisah di alam kubur. Ada seorang hamba yang saat dimakamkan membawa beban dosa yang amat berat. Namun, tiba-tiba cahaya kemuliaan turun menyelimutinya. Derajatnya diangkat, siksanya diringankan. Saat ia bertanya penuh heran, malaikat menjawab, “Ini adalah kiriman dari anak-anakmu yang tak putus menyebut namamu di dunia.”
Sahabat ariarief.com, itulah yang disebut sebagai investasi ruhani. Orang tua kita yang sudah dimakamkan tidak lagi membutuhkan kiriman uang atau makanan. Mereka sangat haus akan istighfar yang kita langitkan. Setiap kali lisan kita bergerak memohonkan ampun bagi mereka, ada “oksigen” rahmat yang mereka hirup di alam sana.
Menjadi “Pamomong” bagi Arwah Orang Tua
Menjadi Sang Pamomong (pengasuh/penjaga) bukan hanya soal menjaga yang tampak. Secara esoteris, seorang anak adalah “pamomong” bagi keselamatan orang tuanya di hadapan Allah.
Jika kita mengaku mencintai dan menyayangi mereka, mengapa kita teramat pelit untuk meluangkan waktu berdoa di luar jam salat? Mengapa bibir kita lebih lincah menggunjing atau membicarakan urusan dunia daripada berbisik lembut, “Ya Allah, ampuni bapak dan ibuku” di sela-sela aktivitas kita?
Hakikatnya, mendoakan orang tua adalah cara kita mensyukuri keberadaan diri kita sendiri. Tanpa kerelaan mereka, kita takkan pernah ada untuk mengenal sujud.
Sejatinya, artikel ini saya tulis bukan untuk menghakimi angka-angka. Tulisan ini ingin mengetuk pintu kesadaran kita yang paling dalam. Mendoakan orang tua 50 kali, 100 kali, atau ribuan kali dalam sehari bukanlah beban jika dasarnya adalah cinta.
Jangan biarkan lisanmu kering. Saat sedang menyetir, saat sedang memasak, atau saat sedang menatap langit, sisipkanlah sejenak: Rabbighfirli waliwalidayya. Biarkan doa itu mengalir seperti detak jantung—tanpa perlu diminta, tanpa perlu dijadwalkan, ia ada karena kita butuh mereka tetap hidup dalam rahmat Illahi.
Wallahu a’lam bishawab.(*)
