Dulu Mengejar Deadline di Atas Speedboat-nya, Kini Ia Menjadi Nakhoda PPU

Abdul Waris Muin, sang motoris speedboat yang kini wakil bupati PPU 2025-2030.

Beberapa bulan lalu, saya menapakkan kaki di sebuah rumah megah bercat putih yang berdiri mencolok di kawasan Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pemiliknya bukan orang asing bagi saya. Ia adalah Abdul Waris Muin, sosok yang kini mengemban amanah sebagai Wakil Bupati PPU, mendampingi Bupati Mudyat Noor. Mereka ini dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025, untuk masa jabatan 2025-2030.

Namun, bagi saya, pertemuan itu bukan sekadar kunjungan formal kepada pejabat daerah. Ini adalah pertemuan dua kawan lama yang telah melintasi lorong waktu selama lebih dari tiga dekade.

Deru Mesin dan Deadline yang Mengejar

Ingatan saya melompat sekira ke 35 tahun silam pada 2026 ini. Saat itu, saya adalah wartawan muda Harian Pagi ManuntunG (cikal bakal Kaltim Post, JP Grup) yang ditugaskan di PPU. Kala itu, PPU masih bagian dari Kabupaten Pasir dengan i, dan bukan Paser dengan e, seperti sekarang ini. PPU jadi daerah otonomi baru di Kaltim pada 10 April 2002. Ditugaskan meliput di wilayah yang sekarang jadi PPU itu, setiap hari adalah pertarungan melawan waktu demi mengejar deadline berita di kantor pusat Balikpapan.

Sekira tiga tahun saya harus bolak-balik dari Balikpapan-Penajam (pp).  Karena belum punya kantor sendiri di Penajam (sebuah kota kecamatan bagian dari Kabupaten Pasir yang lebih akrab disebut dengan nama Balikpapan Seberang), yang tahun-tahun itu, kami belum punya kantor perwakilan di sini, sehingga pagi datang untuk meliput, maka, siang sudah harus berada lagi di kantor pusat Harian Pagi ManuntunG di Balikpapan untuk mengetik bahan berita.

Di dermaga speedboat Penajam itulah, saya kerap bertemu Waris. Ia adalah seorang motoris speedboat. Saya ingat betul, hampir setiap hari saya mencarter jasanya. Di tengah deburan ombak Teluk Balikpapan, kalimat yang paling sering saya lontarkan padanya adalah: “Gas pol, Ris! Harus cepat sampai!”

Ia hanya mengangguk patuh, memacu mesinnya membelah air agar sang wartawan tidak terlambat menyetor berita. Ia tampak cekatan dan penuh perhitungan saat moda transportasi air itu menghindari gulungan ombak, yang kadangkala sangat tidak bersahabat, terutama pada bulan-bulan tertentu. Saat musim angin selatan.

Ingatan yang Tak Tergerus Jabatan

Yang membuat saya terkesima saat bertamu ke rumahnya kemarin adalah daya ingatnya. Di tengah kemegahan rumah dan status sosial yang telah berubah drastis, Waris tidak sedikit pun kehilangan sisi rendah hatinya. Sebelum jadi wakil bupati, politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini satu periode menjabat sebagai wakil rakyat di DPRD Pinrang, Sulawesi Selatan, masa jabatan 2019-2024.

“Saya tentu masih sangat ingat momen-momen itu. Meski sampean, saya kira, sudah melupakan hal itu,” ujarnya sembari menunjuk saya dengan tawa khasnya. Ketika bertemu di rumahnya itu saya didampingi oleh Ir. Soegeng Supriyanto, alumnus Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.  Soegeng menyebut bahwa Bupati Mudyat Noor adalah satu almamater dengannya. Hanya beda program studi (prodi) saja.

Saat bertemu sembari menyeruput teh hangat itu, Waris, pria berkumis kelahiran 13 Juli 1968 itu pun berkisah dengan lugas, tanpa beban, tentang masa-masa perjuangannya menjadi tukang speedboat. Tidak ada upaya untuk menutupi masa lalu yang keras. Bagi Waris, laut dan mesin kapal adalah guru kehidupan yang membentuknya hingga menjadi orang nomor dua di PPU saat ini. Guru alamnya itu yang kini mengantarkannya pada posisi kedua di sebuah kabupaten berjuluk Bumi Daya Taka, dan kini menjadi serambi-nya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara itu.

Sebuah Permintaan yang Menyentuh

Perbincangan kami malam itu berujung pada sebuah kalimat yang cukup dalam. Waris menatap saya bukan sebagai pejabat kepada rakyat, melainkan sebagai saudara lama.

“Sekarang ini saya jadi wakil bupati. Tolonglah saudaramu ini dibantu pemikiran. Sebagai wartawan senior dan sekaligus tokoh pendiri Kabupaten PPU, saya kira, sampean punya banyak ide dan gagasan brilian untuk membangun daerah kita. Tolong jangan tinggalkan saudaramu ini, ya,” pintanya tulus.

Saya hanya tertegun dan tersenyum. Ada rasa bangga sekaligus haru melihat “sang motoris” saya dulu kini telah menjadi nakhoda bagi ribuan warga PPU.

Pertemuan di Girimukti itu mengingatkan saya pada satu hal: jabatan mungkin bisa mengubah fasilitas dan tempat tinggal seseorang, tetapi ia tidak akan mampu mengubah karakter asli seorang pejuang yang tahu dari mana ia berasal.

Selamat bertugas, Pak Wakil, dan mungkin ucapan ini super terlambat. Teluk Balikpapan mungkin tak lagi kau arungi dengan mesin tempel, tapi kini kau punya bahtera yang lebih besar untuk dibawa ke dermaga kesejahteraan.(*)

8 thoughts on “Dulu Mengejar Deadline di Atas Speedboat-nya, Kini Ia Menjadi Nakhoda PPU

  1. Sampaikan salam hormat saya pak. Beliau ini sahabat seperjuangan jg awal merantau di di balikpapan bergelut dlm suka duka kehidupan jalanan. #zero to Hero

    1. Terima kasih, mas Mujito. Terima kasih pula telah berkenan menjadi bagian dari tulisan di blog pribadi ini.

  2. Mantap, kisah inspiratif dari anak bangsa yg berhasil mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan negeri dalam segala keterbatasan hingga menjadi salah satu pemimpin di kab PPU

    1. Mantap! Terima kasih dukungannya. Mari kita sama-sama kawal dan dukung terus kemajuan Kabupaten PPU agar semakin jaya ke depannya. Salam inspirasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *