Goro-Goro: Menu “MBG” di Karang Kedempel, Pelajar Kaget Ususnya

Malam itu di emperan Pendopo Republik Karang Kedempel, asap rokok klobot mengepul tipis. Semar Badranaya duduk bersandar tiang, matanya yang sembab menatap nanar ke arah Gareng, sang suksesor yang baru saja dilantik jadi pemimpin tertinggi, dan Petruk, sang mantan penguasa dua periode di republik yang sama, yang masih sering mampir “ngopi” di istana.
“Reng, itu lho… program andalanmu soal Makan Bergizi Gratis (MBG) kok malah ramai di koran jadi Makanan Beracun Gratis?” tanya Semar sambil membetulkan letak kain jariknya.
Gareng yang sedang sibuk membetulkan kuncungnya langsung tersedak. “Walah, Romo… itu namanya dinamika lapangan. Niat kita ‘kan kasih gizi, biar anak-anak Karang Kedempel otaknya encer kayak santan kelapa.”
Petruk, yang duduk di sebelah Gareng sambil memegang tongkat kepemimpinan lamanya, menyahut enteng. “Lho, Kang Gareng, dulu zaman saya ‘kan dasarnya sudah saya bangun. Saya sudah kasih contoh makan siang di istana, aman-aman saja toh? Masak sekarang menunya malah bikin perut anak sekolah demo di dalam kelas?”
Tiba-tiba Bagong datang sambil membawa bungkusan nasi bungkus karet dua. “Halah, Truk… Reng… kalian ini debat gizi tapi yang di bawah malah pada pusing tujuh keliling! Ini tadi saya lewat sekolah dasar, anak-anak bukannya belajar matematika malah belajar antre di Puskesmas. Katanya makanannya ‘istimewa’, sekali makan langsung pandangan berkunang-kunang!”
Gareng mencoba membela diri dengan wibawa yang dipaksakan. “Gong, itu mungkin karena perut mereka kaget ketemu makanan enak. Biasanya makan gaplek, sekarang ketemu menu standar internasional, ya kagetlah ususnya!”
“Kaget kepalanya peyang!” semprot Bagong. “Itu kateringnya gimana ceritanya? Jangan-jangan anggarannya dipotong buat beli bedak kuncungmu itu? Masa anak-anak dikasih menu yang bikin mereka latihan ‘tidur panjang’ massal?”
Semar menghela napas panjang, suaranya berat tapi tenang. “Truk, Reng… memimpin itu bukan cuma soal ganti jargon atau bagi-bagi piring. Kalau niatnya buat rakyat, ya kateringnya jangan cari yang paling murah supaya sisa uangnya bisa buat beli tanah sehektare di IKN. Kalau urusan perut anak bangsa saja jadi bahan bancakan, ya jangan kaget kalau rakyat plesetkan MBG jadi ‘Menu Bahaya Gratis’.”
Petruk hanya nyengir kuda, sementara Gareng mulai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Sudahlah,” pungkas Bagong sambil membuka nasi bungkusnya. “Daripada kalian ribut soal gizi yang malah jadi racun, mending ini makan nasi kucing saya. Meskipun cuma sejumput, tapi dijamin tidak bikin masuk berita headline besok pagi!”
(*)
