“Esuk Dele Sore Tempe”, Kajian Linguistik dan Filosofi Budaya Jawa, Jangan Diterapkan!

Mencla-mencle, esuk dele sore tempe. Ilustrasi diolah oleh AI.
Ungkapan “Mencla-mencle, esuk dele sore tempe” merupakan peribahasa Jawa yang sering digunakan untuk menggambarkan sikap yang tidak konsisten atau plin-plan. Artikel ini mengkaji ungkapan tersebut dari sudut pandang linguistik dan makna budayanya. Ayo, disimak.
Secara linguistik, ungkapan tersebut mengandung unsur majas repetisi dan metafora. Repetisi “dele” dan “tempe” mempertegas makna perubahan yang terjadi, sedangkan metafora “dele” menjadi “tempe” menggambarkan proses transformasi yang cepat dan tidak terduga.
Dari segi makna budaya, ungkapan ini mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi konsistensi dan keteguhan pendirian. Sikap mencla-mencle dianggap sebagai perilaku yang tercela karena dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpercayaan orang lain. Tegasnya, sikap ini sangat merugikan dalam pergaulan sosial, tak hanya khusus di lingkungan Jawa saja, tetapi di lingkungan sosial lainnya.
Bahasa merupakan salah satu elemen penting dalam budaya suatu masyarakat. Melalui bahasa, nilai-nilai, norma, dan kearifan lokal diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk warisan budaya yang tertuang dalam bahasa adalah peribahasa.
Peribahasa merupakan ungkapan tradisional yang mengandung makna moral dan filosofis. Peribahasa sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menyampaikan nasihat, teguran, atau sindiran.
Salah satu peribahasa Jawa yang sering didengar adalah “Mencla-mencle, esuk dele sore tempe”. Peribahasa ini memiliki makna harfiah “pagi kedelai, sore tempe”. Namun, makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih dalam.
Secara linguistik, ungkapan “Mencla-mencle, esuk dele sore tempe” mengandung beberapa unsur menarik. Pertama, terdapat unsur majas repetisi pada kata “dele” dan “tempe”.  Dele berasal dari kata kedelai. Orang Jawa lebih singkat menyebut dele untuk kedelai itu. Repetisi ini mempertegas makna perubahan yang terjadi, yaitu dari kedelai menjadi tempe.
Kedua, ungkapan ini menggunakan metafora untuk menggambarkan proses transformasi yang cepat dan tidak terduga. Kedelai yang pada pagi hari masih berupa biji, sore harinya sudah berubah menjadi tempe.
Penggunaan majas repetisi dan metafora ini menjadikan ungkapan tersebut lebih mudah diingat dan dipahami oleh masyarakat.
Makna Budaya
Dari segi makna budaya, ungkapan “Mencla-mencle, esuk dele sore tempe” mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi konsistensi dan keteguhan pendirian. Sikap mencla-mencle, yaitu mudah berubah pendirian dan tidak teguh pada komitmen, dianggap sebagai perilaku yang tercela.
Hal ini karena sikap tersebut dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpercayaan orang lain. Masyarakat Jawa meyakini bahwa seseorang yang memiliki pendirian yang teguh akan lebih dihormati dan dipercaya.
Ungkapan “Mencla-mencle, esuk dele sore tempe” merupakan peribahasa Jawa yang kaya makna. Ungkapan ini tidak hanya menggambarkan sikap yang tidak konsisten, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi konsistensi dan keteguhan pendirian.
Pemahaman terhadap makna ungkapan ini dapat membantu kita untuk lebih memahami budaya Jawa dan menerapkan nilai-nilai luhurnya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mengetahui ini sebaiknya kita tidak menerapkan esuk dele sore tempe di dalam pergaulan keseharian kita ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *