Seri 4: Republik Karang Kedempel, Pidato Pertaubatan yang Kumat

Pidato yang mengguncangkan rakyat Karang Kedempel.

Maka, tibalah hari yang paling dinanti seluruh rakyat Republik Karang Kedempel. Pidato Pertaubatan Nasional. Presiden Gareng ingin membuktikan bahwa dia bukan “Jenderal Gembos” yang cuma berisi angin, melainkan pemimpin yang punya isi (walaupun isinya masih diperdebatkan).

Masalahnya, naskah pidatonya lagi-lagi dititipkan pada Petruk, mantan presiden dua periode itu. Dan kita tahu, menyerahkan urusan serius pada Petruk itu ibarat menitipkan dompet pada copet yang lagi khilaf. Hehehe…

Pidato “Tobat” yang Kumat: Tragedi Salah Kacamata

Di podium emas yang berkilau (hasil kredit dari bank gaib), Gareng berdiri dengan gagah. Ia memakai kacamata hitam karena ingin terlihat misterius dan berwibawa, padahal sebenarnya karena matanya bengkak kebanyakan nangis nonton drama korea (drakor) semalam di televisi.

“Rakyatku yang saya cintai melebihi mencintai diri saya sendiri (yang mana itu sulit sekali dilakukan)…” Gareng memulai dengan suara bariton yang dibuat-buat.

Pertaubatan yang Salah Arah

Gareng membuka lembaran pertama. Karena kacamatanya terlalu gelap, ia mulai mengeja dengan susah payah:

“Hari ini, saya menyatakan… kita harus segera keluar dari BOP (Bantuan Operasional Pendidikan)! Eh, maaf, maksud saya BOP (Banyak Omong Kosong Politik)!”

Rakyat di bawah panggung mulai kasak-kusuk. Semar menepuk jidatnya yang lebar. Dia mulai tampak gemas.

“Lanjut!” teriak Bagong dari barisan belakang. “Tangkap koruptornya, Reng! Jangan cuma tangkap nyamuk di jidatmu!”

Efek Didikan Sang Pengibul

Gareng berkeringat dingin. Ia membalik kertas ke halaman dua, yang ternyata adalah naskah “Tips Sukses Menjadi Pengibul” milik Petruk yang terselip.

“Saudara-saudara! Sebagai Presiden, saya berjanji akan mengembalikan Indonesia… eh, Karang Kedempel… sebagai negara Non-Blok. Tapi setelah saya pikir-pikir sambil ngopi di pinggir kali, Go-Blok itu lebih efisien! Karena dengan Go-Blok, kita tidak perlu mikir. Kalau tidak mikir, kita tidak stres. Kalau tidak stres, kita panjang umur untuk terus berpidato memuji diri sendiri!”

Geprekan meja terdengar. Semar berdiri. “Reng! Baca yang bener! Itu teks titipan si Petruk buat ngerjain kamu!”

Detik-Detik “Gembos” Total

Gareng panik. Ia mencoba berimprovisasi (yang mana adalah ide terburuk tahun ini).

Oke, oke! Intinya begini… Saya bukan Jenderal Gembos! Saya ini… saya ini… Jenderal Pompa! Saya akan pompa semangat kalian dengan janji-janji baru yang lebih glowing daripada muka saya sekarang! Soal koruptor? Tenang, mereka sudah saya beri peringatan keras: ‘Tolong kalau korupsi bagi-bagi… eh, maksud saya, tolong berhenti!'”

Rakyat mulai melemparkan sandal jepit ke arah panggung. Suasana makin chaos.

Komentar Sang Guru (Petruk)

Di balik panggung, Petruk asyik merekam kejadian itu pakai HP-nya untuk konten media sosial.

Wah, viral nih. Judulnya: Detik-detik Presiden Karang Kedempel Mengonfirmasi Dirinya Sendiri sebagai Duta Go-Blok Internasional.”

Bagong menghampiri Petruk. “Truk, kamu beneran mau hancurin negeri ini ya?”

Petruk nyengir, “Lho, kan saya sudah bilang dari dulu, Gong. Saya pimpin dua periode itu baru trailer-nya. Nah, si Gareng ini film horor komedinya. Hasilnya? Negeri ini makin rusak dengan gaya!”

Penutup dari Semar

Semar yang sudah lama tampak gemas itu akhirnya naik ke panggung. Dia mengambil mikrofon dari tangan Gareng yang gemetar.

“Rakyatku… mohon maaf. Presiden kita ini kelihatannya butuh istirahat, atau mungkin butuh ganti otak yang baru. Mari kita pulang ke rumah masing-masing. Ingat, pemimpin itu cerminan rakyatnya. Kalau pemimpinnya Go-Blok, jangan-jangan kita juga yang Go-Blok karena dulu mau-maunya milih dia gara-gara dikasih kaos gratis.”

Gareng tertunduk lesu. Wibawanya benar-benar hilang, lebih gembos dari ban sepeda yang kena ranjau paku.

Sepertinya Gareng perlu “reshuffle” kabinet besar-besaran, nih! Kita tunggu saja episode berikutnya.

(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *