Makan Gratis, APBN Ringkis, atau Indonesia Meringis?

Punakawan Karang Kedempel: Semar, Petruk, Gareng, Bagong, sedang membahas program MBG yang dikhawatirkan membuat kantong APBN jebol, dan Indonesia meringis!

Sore di Karang Kedempel menyisakan getar angin yang membawa bau asap kayu bakar dan aroma wedang jahe. Di atas gubuk tengah persawahan, empat sosok abdi tengah berkumpul. Tampak Kyai Semar yang sedang duduk bersedekap, mengelus perut tambunnya dengan tenang.

Di sampingnya, Petruk sibuk mengutak-atik telepon genggam—membaca lalu-lalang warta politik terkini—sementara Gareng sibuk mengarani catatan kecilnya. Hanya Bagong yang tampak santai, bersandar pada tiang kayu sambil mengunyah singkong rebus.

“Kang Petruk,” kata Bagong membuka percakapan, “itu di layar HP-mu dari kemarin ramai betul berita kepemimpinan anyar di Istana. Pak Jenderal dan Mas Muda itu lho. Ada yang bilang ekonomi kita mau terbang setinggi langit, tapi ada juga yang menjerit pusing kepalanya melihat dompet. Yang bener yang mana sih?”

Petruk menghentikan jarinya yang sibuk meneliti berita, lalu terkekeh pelan.

“Halah, Gong, Gong. Kamu ini maunya serba hitam-putih kayak papan catur. Dunia ini bergradasi. Mau dipandang dari kacamata mana? Kalau dari kacamata harapan dan terobosan, ya jelas bikin dadamu mengembang optimis. Tapi kalau lihat dompet dan nota belanjaan dapur, ya wajar kalau ada yang kepalanya sewot!”

Gareng yang menyimak lantas membetulkan posisi duduknya, mengangkat tangan dengan raut serius.

“Gini lho, Bagong. Kita harus adil. Luapan optimisme itu ada alasannya. Lihat saja semangatnya membendung gizi buruk lewat Makan Bergizi Gratis untuk anak-anak, menggenjot swasembada pangan, hingga ketahanan energi lewat B50. Niatnya mulia: memastikan perut rakyat bawah tidak keroncongan dan negara punya daya tawar gahar di panggung dunia. Di kancah diplomasi luar negeri pun, Indonesia tampak makin pede berkibar di antara blok-blok raksasa.”

“Lha iya, Kang Gareng!” sahut Bagong sambil memajukan badannya. “Makan gratis itu jelas bikin rakyat cilik senyum lebar! Siapa coba yang nggak mau anaknya dikasih makan bergizi saban hari? Tapi, dengar-dengar dari pasar sebelah, biaya buat program raksasa begitu kan tidak makan batu, Kang! Pakai uang APBN yang banyaknya minta ampun. Apa ndak bikin kantong negara jebol?”

Petruk mengangguk-angguk setuju. “Nah, di situlah letak simpul pesimismenya—atau lebih tepatnya, kekhawatirannya yang wajar. Para pengamat dan pelaku ekonomi itu khawatir, jika anggaran dipaksa membiayai program populis raksasa tanpa perhitungan ketat, defisit bisa membengkak. Ujung-ujungnya, kalau pajak atau retribusi dinaikkan demi menambal anggaran, justru rakyat kelas menengah yang makin terjepit daya belinya. Belum lagi urusan lapangan kerja formal yang berkualitas dan tantangan penciptaan nilai tambah ekonomi yang belum sepenuhnya tuntas.”

“Belum lagi urusan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, Kang!” potong Bagong lagi. “Ketegasannya galak di pidato, tapi kalau birokrasi di bawahnya masih senang main mata dan ‘kongkalikong’, apa program sosial yang mahal itu ndak malah bocor di jalan?”

Perdebatan hangat antara ketiga anaknya membuat Semar tersenyum tipis. Sang Pamomong Sejati menggeser posisi duduknya, menyedot napas dalam-dalam, lalu menatap satu per satu wajah anak-anaknya.

“Thole-tholeku sekalian…” suara Semar berat namun menenangkan. “Kalian bertiga itu tidak ada yang salah. Apa yang kalian bicarakan adalah cermin dari optimisme bersyarat yang dirasakan rakyat saat ini.”

Semar mengelus janggutnya pelan. “Sebuah kepemimpinan yang berani mengambil langkah-langkah besar untuk memperkuat fondasi rakyat kecil dan menegakkan wibawa bangsa di mata internasional tentu patut kita apresiasi dan dukung. Itu adalah bagian dari ikhtiar menghadirkan kesejahteraan.”

“Nanging…” Semar memberi jeda, matanya yang sipit menatap lurus ke arah persawahan di Karang Kedempel. “Kesejahteraan yang sejati tidak bisa dibangun di atas angan-angan tanpa disiplin tata kelola. Kebijakan yang populis harus senantiasa dikawal dengan efisiensi fiskal yang sehat dan penegakan hukum yang resik tanpa pandang bulu.”

“Artinya bagaimana, Romo?” tanya Gareng penuh rasa ingin tahu.

“Artinya, optimisme itu harus tetap dipelihara, tapi tidak boleh membuat kita buta akan realitas. Keberhasilan duet kepemimpinan ini ke depan tidak diukur dari seberapa megah retorika di atas panggung, melainkan dari sejauh mana mereka mampu memadukan antara keberanian mengeksekusi program kesejahteraan rakyat dan kedisiplinan menjaga daya tahan keuangan negara serta transparansi birokrasi.”

“Yen pimpinane eling lan waspada, disokong birokrasi sing jujur, program mahal bakal dadi berkah [jika pimpinannya ingat dan waspada, didukung birokrasi yang jujur, program mahal akan jadi berkah]. Tapi yen sembrono lan kakehan kebocoran, ya bakal dadi beban tumrap anak cucu,” pungkas Semar pelan.

Gareng, Petruk, dan Bagong terdiam. Hening sejenak merayapi suasana gubuk. Di kejauhan tampak beberapa petani merawat tanaman padi yang tampak mulai menguning. Bagong kemudian mengambil singkong rebusnya yang terakhir, menggigitnya, lalu tersenyum lebar.

“Yen ngono, tugas kita di Karang Kedempel ya terus mendoakan sambil tetap kritis toh, Romo? Biar yang di atas ndak gampang terlena!”

Semar terkekeh melambai, menyuruh Petruk menambah wedang jahe yang mulai dingin. Di bawah naungan sore di tengah persawahan Karang Kedempel itu, resonansi harapan dan kewaspadaan itu terus bergema.

Tabik

Salam hormat,

Ari Arief

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *