Mantan Presiden Petruk Melayat Prabu Duryudana, Doanya Jadi Polemik di Karang Kedempel!

Ini sebenarnya kisah yang dikutip dari dunia manusia. Namun, relevan juga terhadap dunia pewayangan mbeling ini. Mari, sembari menyeruput kopi, kita simak kisah selengkapnya:
Republik Karang Kedempel kembali diuji kejenakaannya. Beberapa hari pasca mangkatnya Prabu Duryudana, Raja Kuru yang kontroversial itu, Presiden Gareng mengambil langkah “diplomasi tingkat dewa” dengan mengutus mantan Presiden Petruk untuk bertakziah ke negara tetangga yang sedang berduka. Keputusan ini sontak menimbulkan riuh rendah di Karang Kedempel. Bagaimana tidak, seorang mantan kepala negara kini hanya berstatus “warga biasa super aktif” tiba-tiba didapuk jadi utusan khusus.
“Lho, kok malah mantan? Kenapa nggak Semar sekalian yang lebih sesepuh?” celetuk beberapa warga di warung kopi Mbok Darmi, sambil menyeruput wedang jahe. “Apa jangan-jangan Gareng lagi males keluar negeri?” timpal yang lain, disambut tawa cekikikan.
Namun, Presiden Gareng punya alasan sendiri. “Petruk itu ‘kan fleksibel. Dulu waktu jadi presiden juga sering blusukan nggak jelas, kali ini blusukannya ke negara tetangga,” ujarnya dalam konferensi pers dadakan di depan gapura istana yang catnya mulai mengelupas.
Kontroversi tak berhenti di situ. Sesampainya Petruk di Kerajaan Kuru yang sedang berkabung, pemandangan jenazah Prabu Duryudana yang gagah meski sudah terbujur kaku menyentuh hatinya. Sebagai utusan yang baik, Petruk maju ke depan, khusyuk memanjatkan doa. Nah, di sinilah letak “bumbu” utamanya.
Usut punya usut, Petruk dan mendiang Prabu Duryudana ternyata menganut keyakinan yang berbeda bak bumi dan langit. Sontak, kabar Petruk mendoakan jenazah raja Kuru dengan caranya sendiri sampai juga ke telinga warga Karang Kedempel. Gejolak pun tak terhindarkan.
“Wah, gawat ini! Setahu saya, ajaran kita ‘kan nggak boleh begitu,” ujar seorang alim ulama Karang Kedempel sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ini bisa jadi preseden buruk! Besok-besok kalau ada kondangan beda keyakinan, masak kita doanya juga beda?” sahut ibu-ibu PKK yang sedang arisan sambil berbisik-bisik heboh.
Di media sosial Karang Kedempel, #PetrukMelayat jadi trending topic. Ada yang membela Petruk atas nama toleransi dan sopan santun antarnegara. “Yang penting ‘kan niatnya baik, menghormati yang meninggal,” tulis seorang netizen bijak. Namun, tak sedikit pula yang mencibir dan menganggap Petruk melanggar pakem keyakinan. “Ini namanya kebablasan! Masa’ utusan negara malah bikin gaduh di dalam negeri sendiri?” komentar seorang warganet yang geram.
Sementara itu, di Kerajaan Kuru, suasana duka sedikit terusik dengan kedatangan utusan nyentrik dari Karang Kedempel ini. Beberapa abdi dalem Kuru saling berbisik melihat gaya berdoa Petruk yang unik. Ada yang mencoba menahan tawa, ada pula yang terheran-heran.
“Itu tadi mantannya presiden Karang Kedempel ya? Kok doanya beda ya?” tanya seorang prajurit Kuru kepada rekannya. “Sudahlah, yang penting dia datang dan ikut berbelasungkawa. Mungkin di negara mereka memang begitu caranya,” jawab rekannya sambil mencoba bersikap diplomatis.
Hingga berita ini diturunkan, Presiden Gareng belum memberikan komentar resmi terkait polemik doa Petruk di Kuru. Namun, para pengamat politik Karang Kedempel memprediksi, isu ini akan terus bergulir dan bisa jadi bahan perdebatan sengit di warung-warung kopi hingga ke gedung parlemen Karang Kedempel yang atapnya bocor itu.
Satu hal yang pasti, lawatan mantan Presiden Petruk ke pemakaman Prabu Duryudana tidak hanya sekadar menyampaikan belasungkawa, tapi juga sukses menyajikan drama komedi segar di tengah suasana duka. Karang Kedempel memang tidak pernah kehabisan kejutan!
DISCLAIMER:
Tulisan ini hanya kisah wayang yang sengaja dibuat jadi leluconan, dan tidak disangkutpautkan dengan kehidupan riil manusia. Hanya untuk hiburan semata.(*)
