“Engkau Mau Pulang ke Mana?” – Sebuah Tanya yang Mengubah Cara Kita Beragama

Dunia hanyalah sebuah pasrawungan, ruang singgah sekaligus perjalanan panjang yang melelahkan. Di sepanjang jalan itu, setiap musafir, seperti kita ini, sesungguhnya hanya merindukan satu muara di ujung pengembaraannya, yaitu, keselamatan. Tidak ada lagi, hanya kecuali itu saja.
Namun, sering kali kita terjebak dalam labirin diskusi teologis yang rumit. Sibuk mendebatkan tentang definisi selamat ini, sehingga lupa pada hakekat yang tersirat dalam disiplin sederhana di atas aspal jalanan. Kali ini, sahabat, saya akan berusaha menulis sebisa mungkin mengenai kisah bernuansa perjalanan yang agak sufistik. Namun, semoga saja, tetap mudah untuk dipahami dan dimengerti.
Dalam sebuah suasana yang hening, seorang guru memberikan tamsil yang membumi. Namun, menghujam langsung ke relung kesadaran. Saat ia ditanya tentang rahasia keselamatan hakiki, Sang Guru tidak menyitir kitab yang sulit dipahami, melainkan balik bertanya dengan nada lembut, “Engkau mau pulang ke mana?”
Si penanya menjawab bahwa ia hendak pulang menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dari arah Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim. Saya cek jarak PPU ke IKN ini sekira 65,7 kilometer, dan pada hari-hari tertentu jarak sejauh ini bisa ditempuh dengan 1 jam dan 25 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sang Guru kemudian berujar dengan tenang:
“Agar engkau sampai di haribaan dengan selamat, maka, taatilah seluruh rambu yang terpancang di sepanjang jalanmu. Jika ada tanda dilarang berhenti, janganlah engkau memarkir egomu di sana. Jika kecepatan dibatasi, tundukkan nafsumu untuk memacu kendaraan. Saat lampu merah menyala, berhentilah sebagai bentuk kepasrahanmu pada aturan. Jika seluruh aturan itu engkau tunaikan dengan tulus, niscaya engkau akan sampai di depan pintu rumahmu dengan damai,” kata Sang Guru.
Sahabat, perkataan Sang Guru ini sesungguhnya membawa pesan sosiologis sekaligus spiritual yang dalam. Sang Guru mengingatkan bahwa jika sejak awal perjalanan kita sudah “mabuk” kecepatan, memacu kendaraan seratus kilometer per jam tanpa memedulikan marka, dan rambu-rambu, maka sesungguhnya kita sedang menulis akhir riwayat kita sendiri. Keselamatan bukanlah sekadar keberuntungan (bejo, bahasa Jawa), melainkan buah dari ketundukan jiwa pada aturan main Sang Khalik.
Rambu Langit sebagai Navigasi Jiwa
Sahabat, perumpamaan di aspal jalanan ini adalah cermin bening bagi perjalanan kita menuju keabadian. Agama telah membentangkan “rambu-rambu” yang benderang. Aturan-aturan itu bukanlah belenggu yang mengekang kebebasan, melainkan pemandu agar ruh kita tidak terperosok ke dalam jurang kehancuran.
Ketika Tuhan memancangkan rambu “Dilarang Masuk” pada praktik mengambil hak orang lain atau korupsi, itu adalah batas mutlak. Jika kita nekat menabraknya, kita bukan hanya mengundang petaka sosial di dunia, tetapi juga kecelakaan eskatologis yang menyakitkan di akhirat.
Begitu pula dengan larangan menyebar fitnah, kesombongan yang melangit, hingga mengabaikan hak-hak sesama makhluk. Semuanya adalah navigasi agar pelayaran kita tetap tenang. Jika kita memilih untuk “ngebut” mengejar ambisi duniawi dengan menabrak semua marka jalan ilahi, janganlah terperanjat jika perjalanan ini berakhir dalam tragedi sebelum sempat melihat pintu gerbang kebahagiaan.
Disiplin yang Menyejukkan Jiwa
Sahabat, belajar tentang keselamatan di akhirat ternyata harus dimulai dengan belajar tata krama di dunia. Seseorang yang terbiasa disiplin menghargai aturan publik dan menghormati hak sesama pengelana, sejatinya ia sedang melatih jiwanya untuk patuh pada Otoritas yang Maha Tinggi.
Kesalehan tidak turun secara instan dari langit. Ia adalah tumpukan dari keputusan-keputusan kecil kita setiap hari untuk tetap istiqomah untuk tetap berada di jalur yang benar (shirathal mustaqim).
Pulang dengan selamat adalah kemenangan sejati bagi setiap musafir. Dan bagi kita, para pengelana di bumi ini, kepatuhan terhadap “rambu-rambu” Tuhan adalah satu-satunya jaminan agar perjalanan panjang ini tidak berakhir sia-sia sebagai debu yang hilang tertiup angin.
Sahabat, mari kita sejenak menepi, memeriksa kembali kecepatan dan arah kemudi batin kita hari ini. Sudahkah kita cukup rendah hati untuk patuh pada rambu-rambu-Nya?
(*)
