Cara Mengubah Beban Hidup Menjadi Ringan Selembut Kapas

Berkah atau beban? Ilustrasi dibantu oleh AI.

Banyak orang merindukan untuk mencicipi manisnya madu. Itu, seperti saya juga. Karena madu juga adalah jamu, yang kata tetua-tetua dulu minuman madu adalah racik sewu (racik seribu). Tetapi, orang jadi mendadak amnesia bahwa madu itu dijaga oleh ribuan lebah yang siap menyengat. Dalam hidup ini, kita sering kali ingin menjadi konsumen berkah, namun mendadak ingin mengajukan refund saat sang kurir takdir mengantarkan paket bernama: beban.

Padahal, di meja Sang Pamomong, keduanya itu adalah satu paket bundling yang tidak bisa dipisah, apalagi diecer.

Coba kita tengok. Tetangga sebelah yang baru saja syukuran rumah baru seluas lapangan bola. Kita berdecak kagum, “Wah, berkah melimpah!”. Tapi, begitu ingat setiap sudutnya harus dipel, disapu, dan dirawat setiap hari agar tidak jadi sarang hantu, kita baru sadar bahwa rumah besar itu adalah “beban” yang menyamar jadi kemewahan.

Sama halnya dengan kehadiran si buah hati. Bayi mungil dengan bau minyak telon itu adalah berkah paling surgawi. Namun, ketika dia memutuskan untuk menangis keras-keras di jam tiga pagi, saat mata orangtuanya sedang lengket-lengketnya, di situlah berkah sedang menguji otot kesabaran kita lewat beban. Begitu pula dengan pernikahan. Di awal-awal saat bulan madu semua pasangan menegaskan, bahwa bisa saling memiliki dalam kasih sayang adalah berkah. Setelah bulan madu berlalu, istri mulai mengandung anak pertama, lalu, ada yang berpendapat berkah kini bergeser menjadi beban.

Begitu pula dengan gelar sarjana yang berderet di belakang nama. Gelar itu berkah, tapi proses memelototi buku dan begadang demi skripsi? Itu beban yang membuat rambut rontok sebelum waktunya.

Koin yang Sama, Sisi yang Berbeda

Secara sufistik, berkah dan beban hanyalah dua nama untuk satu hakikat yang sama: Titipan.

Jika kita hanya memelototi bebannya, hidup akan terasa seperti memanggul batu besar yang dibawa untuk mendaki gunung. Nafas sesak, punggung bungkuk, dan wajah cemberut. Kita lupa bahwa batu yang kita panggul itu sebenarnya adalah emas murni.

Di sini saya mau mengutip pernyataan para bijak:

“Jika engkau memusatkan perhatian pada beban, engkau akan kehilangan rasa. Tapi jika engkau memandang berkah di baliknya, beban itu akan terasa seringan kapas.”

Ingatlah, Tuhan itu Maha Insinyur. Dia tidak akan membangun jembatan (beban) yang kekuatannya melampaui fondasi (kemampuan) yang kita miliki. Jika bebanmu terasa berat, itu artinya “kapasitas mesin” jiwamu sedang ditingkatkan oleh-Nya. Untuk menjadi lebih fresh, lebih siap, lebih baik lagi.

Tips Menghadapi “Paket Bundling” Hidup

Nah, agar hidup tidak melulu berisi keluhan, mari kita ubah sudut pandang. Nikmati prosesnya dengan jangan cuma mau sarjananya, tetapi berani pula menikmati pening kepalanya. Sehat itu mahal, karena itu sembuh itu berkah, tapi menjaga pola makan itu beban yang menyehatkan. Daripada beban sakit, mending beban pantang gorengan, ‘kan?

Fokus pada hasil dengan bayangkan senyum anak saat sudah besar, maka, kantuk di tengah malam akan terasa seperti ibadah yang syahdu.

Sahabat ariarief.com, hidup ini bukan tentang memilih salah satu. Kita tidak bisa minta hujan tanpa mau berurusan dengan becek. Kita tidak bisa minta mawar tanpa siap tertusuk durinya.

Maka, setiap pagi saat terbangun, jangan langsung mengeluh tentang cicilan atau tumpukan cucian. Tersenyumlah, karena di dalam tumpukan “beban” itu, terselip berkah yang sedang menyamar. Setiap bangun pagi jangan lupa mengucapkan alhamdulillah, karena masih diberi berkah kehidupan.

Ucapan syukur sebab, setiap hari adalah berkah, dan bersyukur adalah pelumas yang membuat beban hidup tidak lagi terasa menggesek jiwa.

Sahabat ariarief.com, ini saja dulu, pembahasan kali ini mengenai berkah dan beban. Apabila para sahabat memiliki pandangan lain mengenai tema ini, silakan menuliskannya pada kolom komentar yang tersedia di bagian bawah ini. Tanggapan yang diberikan bakal menjadi perspektif baru untuk saling melengkapi, sehingga topik ini bakal menjadi semakin komprehensif, untuk jadi bahan renungan yang semakin positif.

Sahabat, selamat memikul berkah dengan riang gembira!

📌Baca Juga: https://ariarief.com/rahasia-di-balik-genggaman-tangan-sang-bayi-membaca-99-nama-di-telapan-tangan/

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *