Petruk pun Lengser Keprabon, Sudah tapi Belum

Presiden Karang Kedempel, Bagong
Gempar jagat pewayangan! Setelah dua periode “menguasai” Karang Kedempel dengan pesonanya yang… unik, Petruk akhirnya lengser dari kursi Ratu (eh, maksudnya Presiden). Kekuasaan beralih ke tangan sosok yang tak kalah “mempesona”: Bagong!
Kemenangan Bagong dalam pemilihan umum (yang katanya sih demokratis, meski banyak yang curiga dalangnya Semar) sontak membuat geger para dewa dan demit. Bagaimana bisa, makhluk yang lebih sering terlihat ndlosor daripada berpidato itu, kini memimpin sebuah republik? Usut punya usut, ternyata rakyat Karang Kedempel bosan dengan “kebijakan” Petruk yang seringkali absurd dan lebih mementingkan koleksi thothokan (alat dapur) antik daripada kesejahteraan rakyat. Bagong, dengan janji “pokoke nurut bapak”, entah bagaimana berhasil meraih simpati pemilih.
Namun, inilah klimaks kejenakaan jagat pewayangan. Meski secara konstitusional Bagong adalah presiden sah Republik Karang Kedempel, otaknya tetaplah otak Bagong yang… ya, begitu deh. Alih-alih menjalankan roda pemerintahan sesuai visi misinya (kalau dia punya), Bagong justru kebingungan setiap kali menghadapi masalah yang lebih rumit dari cara membedakan nasi dan sego kucing.
Maka, pemandangan menggelikan pun menjadi rutinitas baru di Karang Kedempel. Para menteri yang seharusnya menghadap presiden untuk meminta arahan dan kebijakan, justru berbondong-bondong menyambangi kediaman Petruk. Mereka curhat, meminta nasihat, bahkan tak jarang membawa oleh-oleh berupa gorengan tempe dan kopi pahit kesukaan mantan presiden itu.
“Bagaimana ini, Ndoro Petruk? Rakyat protes karena jalan desa banyak lubangnya, katanya bisa buat ternak lele,” keluh Menteri Pekerjaan Umum, Gareng, sambil menyeruput kopi dengan wajah kusut.
Petruk, yang kini menikmati masa “pensiun dini” sambil mengelap-ngelap koleksi thothokan-nya, hanya bisa geleng-geleng kepala. “Lha terus Bagong bilang apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari sebuah sutil berkarat.
“Bilangnya… ‘Oalah, ya sudah suruh lelenya pakai helm saja biar aman’,” jawab Gareng dengan nada putus asa.
Begitulah, Republik Karang Kedempel di bawah kepemimpinan Bagong berjalan dengan “bimbingan spiritual” dari mantan Presiden Petruk. Para menteri sibuk bolak-balik, Bagong sibuk garuk-garuk kepala sambil sesekali teriak “Pokoke nurut bapak!”, dan rakyat hanya bisa menghela napas panjang sambil berharap suatu keajaiban terjadi.
Mungkin, inilah ironi demokrasi di dunia pewayangan. Terpilih secara sah, namun kebijaksanaan tetap harus diimpor dari “mantan”. Entah sampai kapan Republik Karang Kedempel akan bertahan dengan sistem pemerintahan yang unik ini. Yang pasti, jagat pewayangan punya tontonan baru yang lebih lucu dari lawakan Togog dan Sarawita digigit nyamuk!
(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *